Saturday, May 25th

Last update08:13:06 AM GMT

You are here: Home

Sekilas Biennale Jogja X 2009

E-mail Print PDF

Sekilas Biennale Jogja X - 2009
JOGJA JAMMING: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja


 

Karya instalasi Nur Syahbandi di ruang publik Jogja

Perempatan lampu merah Gondomanan. Sebuah kotak minuman raksasa berwarna merah bergaris putih ala Coca-Cola terpampang di salah satu tiang pojok lampu merah. Isinya ternyata bukan Coca-Cola minuman bergas itu, melainkan es cendol. Tulisan “es cendol” dengan lekuk-lekuk yang menyerupai bentuk cendol itu terpampang di salah satu sisi kotak tersebut, sedang sisi lainnya bertuliskan “es dawet.” Kotak yang melekat dan membungkus tiang lampu merah itu membuat orang yang melintas di jalan tersebut membaca, dan mungkin mengamatinya. Kotak minuman itu adalah karya dari komunitas RSJ (Rumah Seni Jogja).

 

Di belakangnya, tak jauh dari sana, ada baliho besar milik Hahan, berisi karya seni rupanya. Papan besar Hahan yang berada tepat di sebelah iklan sarung cap “Gajah Duduk” dan sama besarnya dengan papan-papan iklan lainnya, nampak seperti menyaingi papan-papan iklan di sekitarnya. Kemudian, di pojok berseberangan dengan Kotak Es Cendol tadi, masih di perempatan Gondomanan, ada lukisan di atas papan, Monalisa tanpa wajah. Itulah beberapa karya Public on the Move yang diramaikan sekitar 200 orang dalam Biennale X Jogja kali ini.

 

Karya Dadang Kristanto

 

 

Bisa dikatakan salah satu keunikan biennale Jogja kali ini adalah adanya “Public on the Move.” Sebagian besar seniman di Yogyakarta berkarya dengan tidak melepaskan diri dari konteks sosial masyarakatnya. Budaya Jogja kental mewarnai karya mereka, dipadu dengan berbagai elemen yang mengubah wajah kota tersebut.

 

Dari sinilah pintu masuk “Jogja Jamming: Art Archive Movement.” “Jogja Jamming” seperti ingin mengajak publik berhenti sejenak, mengingat dengan cara berdialog dengan diri sendiri lewat karya seni yang terpampang. Dalam biennale kali ini, Public on the Move adalah salah satu bentuk perhelatan di ruang publik untuk mendekatkan karya seni ke masyarakat, dan mendorong masyarakat mengapresiasi dan memiliki kesadaran terhadap kota, dan sejarah kotanya. Public on the Move adalah kategori yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dan bertujuan melakukan semacam “seni rupa penyadaran,” istilah Moelyono, dan kesadaran ini, terutama, termuat dalam tema kali ini, yaitu arsip.

 

Seperti temanya, “Jogja Jamming: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja,” biennale X kali ini mengelaborasi arsip sebagai bagian dari kegiatan refleksi yang tak lepas dari brainstorming seniman. “… arsip dalam konteks ini adalah peristiwa-peristiwa yang pernah menandai intensitas dialog tersebut dengan melahirkan sebuah semangat zaman,” begitu kata Ade Tanesia dalam Newsletter Biennale Jogja X 2009. Dalam karya-karya yang ditampilkan, nampak bahwa arsip di sini tidak berhenti pada dokumen konkret yang bisa diraba, dilihat, atau didengar, melainkan juga peristiwa yang hanya hadir dalam ingatan. Peristiwa yang belum didokumentasikan dalam bentuk apapun kini bisa hadir melalui karya seni. Nampak bahwa arsip di sini mengalami perluasan makna: selain dokumen yang biasa kita pahami, arsip juga berarti peristiwa, kisah, cerita, narasi yang tidak muncul lewat bukti inderawi, melainkan ingatan. Bahkan, arsip bisa juga berarti kemungkinan kita mengingat sebuah peristiwa yang (tidak sepenuhnya) tepat. Melalui arsip, terbuka kemungkinan para seniman untuk membaca pengalamannya, dan mulai mencatat, setelah berdialog dengan diri dan lingkungannya.

 

Maka, arsip itu, dalam biennale ini, kemudian bisa dipahami melalui beberapa cara, antara lain: (1) intepretasi perupa terhadap peristiwa masyarakat (artist intepretation), yang biasanya menghasilkan karya dan dipamerkan di indoor, (2) menghadirkan koleksi arsip (dokumen dan karya) mereka, didukung dan dikerjakan oleh IVAA (Indonesian Visual Art Archive), (3) mengajak publik untuk bersama-sama memiliki kesadaran berarsip (public on the move). Yang paling sulit tentu yang terakhir, ini tantangan bagi para perupa, khususnya yang memang setia dengan mural, street art, performance, video, instalasi, dan patung yang biasa bersentuhan dengan ruang publik. Bagaimana mendayagunakan ruang publik tanpa menimbulkan gangguan? Ini penting dipelajari. Bagaimana seni mampu mempengaruhi kesadaran masyarakat, dan bisa menjadi media pendidikan bagi mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu yang harus dijawab.

 

Arsip, bagi para artis, akhirnya, yang muncul dalam karya-karya mereka, bisa berarti beberapa hal, misalnya, mencatat kembali (misalnya kehidupan pedangang kaki lima di Alun-alun Utara), merespon lingkungan (sampah direspon oleh kelompok perempuan eksperimental (PEREK) dengan menciptakan boneka raksasa dan tas tembus pandang yang berasal dari sampah non-organik), mengintepretasi situasi sosial-politik, misalnya, Dadang Christanto, Heri Dono, Harris Purnama, Totok Buchori, Melodia, dan yang termasuk favorit dinikmati pengunjung (terutama sebagai obyek foto) adalah presiden AS Obama sedang naik becak Jogja. Patung fiberglass itu adalah karya Wilman Syahnur berjudul “Membuat Obama dan Perdamaian yang Dibuat-buat” (2009).

 

Selanjutnya, beberapa seniman dan kelompok seni mengintepretasi arsip dengan cara mengumpulkan dan memaparkan koleksi dokumen yang mereka miliki sambil merespon situasi (misalnya Indiguerrillas, Taring Padi, Sanggar Bambu, Geber Modus Operandi). Sanggar Bambu, Kepribadian Apa ‘PIPA,’ Sanggar Bumi Tarung, dan sebagainya pun ikut meramaikan perhelatan ini. Mereka tercatat sebagai “arsip” sejarah perintis seni rupa Jogja.

 

Beberapa seniman merespon arsip dengan membuat karya-karya rekonstruksi, seperti Ronald Manullang, Bonyong Munni Ardhi, serta ada yang berusaha mengkritisi, mencatat kembali dan menciptakan “sejarah” yang baru. Yang terakhir ini sering dilakukan oleh seniman dan komunitas seniman muda yang berkonsentrasi pada seni urban, seperti Terra Bajraghosa yang membuat karya mesin fotokopi, “Melawan Fotokopi” (2009), merespon budaya copy di Indonesia, Farid Stevy Asta yang melukisi mobil toilet umum, Sulung melukisi mobil tangki air, Kelompok Seringgit dengan teknik anamorfisme ingin menghadirkan karya yang bisa menghadirkan ilusi optis, Proyek Mural yang berkarya di beberapa kampung: Mranggeng, Gemblakan, Jogokaryan, dan melibatkan beberapa tokoh di sana, serta merk produksi kaos seperti Dagadu, Jaran (desain kaos Jogja yang sarat akan denyut hidup keseharian masyarakat Jogja), dan sebagainya.

 

Biennale kali ini diikuti sekitar 121 seniman indoor dan sekitar 200 seniman dan kelompok seni yang berkarya outdoor. Tidak banyak berbeda dengan sebelumnya, venue biennale X ada di Jogja National Museum, Taman Budaya Yogyakarta, Sangkring Art Space, dan Gedung Bank Indonesia (untuk yang indoor). Sedangkan untuk Public on the Move, termasuk di dalamnya patung, videotronik, performance art, mobile art, banner, street art, mural, dan instalasi ada di beberapa titik, antara lain Gondomanan, Alun-Alun, Benteng Vredenburg, Pasar Beringharjo, Stasiun Lempuyangan, Tugu Yogyakarta, Pasar Kembang, dan Prawirotaman.

 

Keramaian Biennale X ini akan berakhir pada 10 Januari 2010, namun keramaian medan seni rupa Jogja tidak berhenti. Akan ada Biennale Anak edisi perdana yang akan dimulai pada 15 Januari 2010.

Akhir kata, semoga arsip tidak hanya sekadar menjadi titik tolak dan tema kuratorial yang mati, melainkan dikritisi dan dibongkar dengan metode apapun yang secara potensial sudah dimiliki masing-masing seniman – butuh keberanian dan kejujuran untuk mengaktualisasikannya demi sejarah seni rupa kita.

 

Stanislaus Yangni

Penulis seni, Tinggal di Yogyakarta



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #1 2010-09-23 08:33
:-) :-) :-) :-) :-)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Twitter Updates