
Indonesiaseni.com, Bali - Menikmati lukisan Jeihan, kita seolah-olah tertarik masuk dalam sebuah ruang dimana manusia menjadi sebuah unsur dengan kedalaman jiwa dan pengalaman batin dari setiap individu. Kemampuan sang maestro perupa Indonesia dapat kembali dinikmati di pameran yang diberi judul “Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan”, 27 Desember 2009-17 Januari 2010 di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Bali.
Pembukaan pameran Jeihan diawali oleh performance dari Ayu Laksmi, penyanyi kelahiran Singaraja Bali yang memperdengarkan suara khasnya diringi tarian Lena Guslina, penari asal Bandung yang memberikan kejutan setelah lama tidak terdengar gaungnya. Dalam balutan gaun hitam, setiap gestur tubuh Lena memberikan respon terhadap karya-karya Jeihan. Akhirnya pameran dibuka oleh I Gede Wiratha, ketua Kadinda Bali yang memberikan dukungan tinggi terhadap dunia seni rupa.
Spiritualitas, itulah kunci Jeihan dalam berkarya, “Dari 48 lukisan, saya memilih 40 lukisan untuk dipamerkan, keseluruhan lukisan merupakan hasil kontemplasi spiritualitas di usia saya saat ini, lukisan saya merupakan jalan spiritual kedekatan dan penyadaran kepada yang maha kuasa,” ucap Jeihan. Salah satu ciri khas lukisan Jeihan adalah mata modelnya yang hitam pekat; Jeihan menuangkan kegelapan misteri dan setengah malam dari jiwa tiap manusia melalui mata, seperti mata hati manusia yang memiliki kedalaman yang sulit ditafsirkan.
Jeihan memang tidak pernah main-main dalam memilih model lukisannya, ia harus merasa cocok dan dapat menangkap aura untuk menyelami sosok model yang akan dilukisnya, “Saya selalu memilih model yang sederhana saja, tetapi ada gaung dan getaran dalam hati saya saat melihat sosok model yang saya pilih dan saya tuangkan dalam kanvas tidak dalam peniruan yang asli tetapi dalam sketsa yang lebih mewakili sosok dalam jiwanya.” Pemilihan judul lukisan Jeihan pun cukup sederhana, disesuaikan dengan nama model, seperti sosok perempuan bernama Mumun dan Anna yang dituangkan di atas kanvas berukuran 140x140 cm.
Senapas dengan pemilihan model, teknik melukis Jeihan terbilang unik. Kuas besar menjadi pilihannya dalam melukis. Pelukis asal Solo yang sempat mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung jurusan Seni Rupa ini memadukan teknik barat tanpa melupakan nilai lokal timur dalam tema lukisannya. “Saya berharap besar untuk pelukis muda saat ini agar tidak takut dan lebih berani berkreasi dan bermimpi dalam menciptakan sebuah karya,” ucap Jeihan.
Usianya yang telah melangkah sembilan windu, tidak menghentikan semangat Jeihan untuk terus berkarya, yang semakin menuju kematangan dan penyadaran diri, bahwa keterlibatan yang maha kuasa tak pernah lepas dari karyanya. Seperti satu bait tulisan yang ia tulis dalam pembukaan pameran, ‘Mata hari, menari hari, mata hati, mencari diri sendiri’.
Tentang Jeihan Sukmantoro
Lahir di Surakarta, Jawa tengah 26 September 1938. Belajar seni lukis di Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dan Seni Rupa ITB (Institut Teknologi Bandung). Mendirikan Studio Seni rupa Bandung yang bergerak dalam bidang pendidikan seni dan kemudian menjadi Studio Jeihan, tempatnya berkarya dan memajang karya-karya seninya dengan berbagai keunikan yang dikelola secara modern. Sejak tahun 1960 hingga kini ia aktif berpameran baik di dalam maupun di luar negeri.
Ia menerbitkan buku antara lain : Jeihan Jeihan Jeihan (1999), Mata mBeling Jeihan (2000), Jeihan Ambang Waras dan Gila (2006), Jeihan: Bukuku Kubuku, Sajak Filsafat (2009), serta film dokumenter Jeihan (2002).
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites






Comments
RSS feed for comments to this post.