
Indonesiaseni.com, Bandung - Kepekaan pada hal-hal kecil dan sederhana yang lekat dalam keseharian kadang bisa hilang, ketika hal itu sudah menjadi sesuatu yang begitu biasa ada dalam kehidupan kita. Namun demikian, seringkali kita tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil dan sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari itu justru dapat mempengaruhi, dan bahkan memberikan perubahan dalam kehidupan. Disadari atau tidak.
Maka dari itu, menggali keseharian, menemukan ide-ide kreatif dalam pengamatan terhadap hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, merupakan ide pokok dalam pameran seni rupa bertajuk "Re-Create” yang diisi oleh lima perupa. Kelima perupa itu adalah Wayan Sujana “Suklu”, Kiky Rizky Soetisna Putri, Nur Fatiyah Roslan, Toufiq Panji Wisesa, dan Wahdiaman. Pameran yang dikuratori oleh I Wayan Seriyoga Parta ini berlangsung pada 12 – 26 Januari 2010 di Galeri Kita, Bandung.
“Hal-hal sederhana itu, seperti pengalaman sehari-hari, ingatan, pengamatan, atau sekadar tatapan, sesungguhnya berperan besar bagi proses kreatif kelima perupa itu,” ujar I Wayan Seriyoga Parta, atau kerap dipanggil Yoga ini. Lebih lanjut Yoga berujar, bahwa hal-hal sederhana dari keseharian itu sebelumnya sudah mengalami suatu penciptaan. Lantas oleh kelima perupa itu, ‘hal-hal sederhana yang sudah tercipta’ ini diadopsi kemudian diolah kembali untuk menghasilkan karya-karya baru. “Oleh sebab itu, mengapa pameran ini bertajuk Re-Create,” Yoga menambahkan.
Bagi Toufiq, wajah adalah pusat identitas dan menjadi tolak ukurnya dalam berkarya. Wajah, bagi Toufiq, adalah rupa yang bias, tidak murni, dan selalu berubah-ubah sesuai dorongan dalam diri. Terkait dengan pencarian identitas, tak tertutup kemungkinan majalah sebagai media memiliki kemampuan untuk menyebarkan dan memantapkan hegemoni suatu nilai-nilai dominan dari tatanan masyarakat kelas tertentu melalui teks-teks yang dihadirkannya. “Wajah demi wajah yang kerap kali timbul dalam tiap lembar majalah merupakan sebuah dunia tempat para perempuan harus mendefinisikan diri mereka berdasarkan hubungannya dengan para lelaki,” lanjut Toufiq.

Sementara itu, I Wayan Sujana “Suklu” melihat setiap hal-hal kecil dalam kehidupan sesungguhnya memiliki unsur spiritualitas dan meditasi. Lihat saja karyanya berupa instalasi berjudul “Sruti dan Smerti". Bagaimana kotoran cacing yang telah mengering menjadi tanah dikumpulkannya, lalu dibungkus, dan dimasukkan ke dalam toples mini yang berbentuk seperti lentera. Toples-toples mini sebanyak 170 buah itu disusun dalam bingkai yang menyerupai sebuah rumah.
“Mengerjakan karya ini bagi saya menjadi semacam meditasi. Dengan membungkus kotoran cacing telah menjadi tanah, lalu memasukkannya dalam kotak, saya bisa merasakan tekstur-teksturnya,” jelas perupa yang kerap dipanggil Suklu ini. Menurut Suklu, ‘Sruti’ dan ‘Smerti’ berasal dari bahasa Sanskerta yang dipakai dalam proses penurunan pengetahuan Suci Veda dalam agama Hindu yang melalui dua jalan. Lebih lanjut, ia mengatakan, pengalamannya saat ini sebagai peserta Program Magister Seni Rupa FSRD ITB juga memiliki pengaruh dalam proses kreatifitasnya. Oleh sebab itu, Suklu menjelaskan, bahwa dalam proses kreatifitasnya, dia membagi antara ruang kelas kecil, yakni pengalamannya di ruang kelas pasca sarjana, dan ruang kelas besar, yakni kehidupannya sehari-hari, diluar ruang kelas. Kedua ruang itulah yang menjadi ritus karya-karyanya.
Instalasi Suklu lainnya, yang berupa sederet kursi dan layar yang seolah-olah mengilustrasikan kesehariannya dalam ruang kecil itu. Dalam layar terlihat seorang dosen, yakni Jakob Soemardjo, seolah-olah sedang mengajar dalam sebuah kelas. Dan didepan layar, berjejer bangku-bangku layaknya didalam kelas. “Dalam proses belajar mengajar antara mahasiswa dan dosen juga mencakup pengertian Sruti dan Smerti,” kata pria kelahiran Klungkung, Bali, ini.
Karya instalasi berjudul “Dual” yang ditampilkan oleh perupa Wahdiaman juga tergolong unik. Karya Wahdiaman adalah visualisasi dengan medium tiga dimensi. Terdiri dari dua set bentuk. Set pertama adalah tabung berbentuk silinder. Didalamnya terdapat kapas yang melayang-layang karena dorongan angin dari bawah. Dan set kedua adalah semacam akuarium berbentuk kotak yang mengelilingi set pertama. Dan didalam akuarium itu kita akan melihat bagaimana ikan berenang melawan arus. Karya Wahdiaman menggambarkan sebuah metafora dari dua esensi pandangan hidup yang masing-masing diwakili oleh set pertama, yakni pandangan yang pasrah pada nasib, dan sebaliknya pada set kedua, yakni pandangan yang tidak mudah menyerah pada nasib.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Pameran “ Re-Create” Menggali Keseharian Hidup









Comments
RSS feed for comments to this post.