
Indonesiaseni.com, Yogyakarta – Ada yang menarik perhatian pengunjung pada pembukaan Biennale Anak 2010 di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat, (15/1). Selain karnaval dan pentas kesenian anak-anak, perhatian pengunjung tertuju pada atraksi Sepeda Laba-Laba. Kendaraan yang dirangkai menggunakan mesin diesel dengan roda yang terbuat dari bambu itu berjalan dengan menggunakan prinsip dasar robot. Tapi jangan salah, meski menggunakan prinsip robot, hebatnya, semua jari-jari laba-laba ini terbuat dari bambu.
Meski sangat sederhana, prosesi Pembukaan Biennale Anak 2010 yang dibuka oleh pelukis Kartika Affandi tersebut berjalan sangat meriah. Beberapa komunitas anak tampil dengan kreasi masing-masing. Atraksi yang cukup menarik juga ditunjukkan oleh Sanggar Anak Alam (Salam) yang menampilkan atraksi “Drum Blek”. Puluhan anak-anak memegang kaleng biskuit dan drum plastik bekas kemudian secara harmonis mereka memainkan berbagai irama.
Pawai seni juga semakin meriah dengan adanya pawai topeng dan karnaval “Kethek Sranggon”, dimana puluhan anak-anak dari berbagai komunitas melakukan pawai dengan kostum yang mereka rancang sendiri. Ada yang mengenakan kostum kera, badut, tokoh komik jepang maupun tokoh wayang.

Koordinator karnaval, Nano Asmorondono, mengungkapkan bahwa karnaval seni dalam rangka Pembukaan Biennale Anak ini bertema keceriaan. Jadi anak-anak bebas memakai kostum sesuai dengan kehendak mereka. “Kita tak akan membatasi, karena itu sesuai dengan kreasi mereka,” ujar Nano di sela-sela kegiatan.
Karena panitia memberikan kebebasan berekspresi, maka yang muncul justru kostum-kostum yang luar biasa. Seperti misalnya kostum yang dipakai oleh Sanggar Anak Alam, mereka memakai kostum dengan tema flora. Mahkota terbuat dari daun-daunan dan kostum lain dari berbagai jenis bunga.
Diungkapkan Nano, sejak awal panitia memberikan peringatan agar orang dewasa tak boleh terlalu banyak memberikan arahan pada anak-anak, karena hal itu dapat mempengaruhi daya kreasi dan ekspresi mereka. “Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan dan menimbulkan kreasi anak. Jika terlalu didikte, maka ekspresi dan daya kreasi anak akan tumpul,” tandas Nano.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites






Comments
lho ? masa kecil belum penah buat yang beginian to ?.. di jogja, ( terutama yang tinggal di desa ) hampir anak-anak bia melakukannya.
RSS feed for comments to this post.