Art Camp



Home / Peristiwa / Strangers My Pillow : Pemaknaan Hidup dan Cinta Treeda
A+ R A-

Strangers My Pillow : Pemaknaan Hidup dan Cinta Treeda

E-mail Print PDF

 

 

Indonesiaseni.com, Yogyakarta - Karya seni rupa selalu menarik untuk diapresiasi.  Sebab, memberikan kekebasan imajinasi kepada siapapun yang menyaksikannya. Begitu juga dengan pameran karya perupa Treeda Mayrayanti yang digelar di Sangkring Art Space  Yogyakarta pada 10-22 Februari ini. Mengusung tema “Strangers My Pillow”, Treeda mencoba  memberikan pemaknaan yang baru terhadap arti hidup hingga akhirnya ada dua pilihan yang ditemuinya: dihadapi atau lari.

 

Dalam konferensi pers dengan sejumlah wartawan  di Sangkring  Arts Space, Senin (8/2), Treeda mengungkapkan bahwa salah satu keberhasilan karya seni, salah satunya adalah kemampuan menggugah rangsang interprestasi dan membangun kesalingmengertian antara seniman dengan penontonnya. Di samping itu, aspek-aspek kekuatan artistik, dan gagasan seniman merupakan hal yang tak kalah pentingnya. Namun juga harus diakui, kehidupan berkesenian tak dapat berkembang dengan baik tanpa peranan orang-orang yang memiliki disiplin ilmu di luar kemampuan seniman seperti pengamat seni, maupun kolektor seni.  “Seni akan berjalan indah jika terdapat sebuah harmoni. Maka bila ingin kita harus membina kerjasama harmoni antara seniman dengan semua komponen pendukungnya.“ ujar Treeda.

 

Di samping dikenal sebagai perupa, Treeda juga dikenal sebagai istri seorang seniman pantomim senior Jogjakarta, Jemek Supardi. Teknis melukis didapatkan dari pendidikan yang dijalaninya saat berada di bangku SMSR dan ISI Yogyakarta.  Latar belakang akademisnya dirasakan sangat  mempengaruhinya dalam berkarya. Meski sampai saat ini sudah banyak karya yang dihasilkannya, namun  hingga kini Treeda  tak pernah berhenti menggali gagasan dalam seni lukisnya.

 

Pergolakan batin, hubungan dengan suami, kedekatannya dengan anaknya yang semata wayang, sikapnya terhadap lingkungan sosial, status sebagai ibu rumah tangga, keberadaannya sebagai seniman,pandangan tentang psikis, merupakan lahan yang banyak digali untuk diangkat sebagai cerita dalam karyanya, pandangannya tentang cinta telah mendasari cerita pada karyanya. Cinta dalam diri Treeda membuahkan kesabaran. Kecintaannya terhadap hidup yang dijalaninya membuatnya saat melihat sesuatu hal mempunyai keterkaitan satu dengan lain pada element yang mengiringi hidupnya, dengan rasa cinta Treeda menuntun harapannya pada sebuah keseimbangan.


Dari cinta, Treeda menghubungkan elemen-elemen yang mengikuti kehidupannya, hubungan antara ‘saya’ dan ‘aku’ pada diri Treeda dirasakannya butuh sebuah keseimbangan yang bisa didapat dari rasa cinta. Ketika ‘saya’ mengatakan tentang kesabaran tetapi ‘aku’ belum mempunyai kesabaran, saat itulah dia berusaha menyikapinya dengan cinta. Seperti beberapa karya yang dilihat dari judul dan visualnya dapat mendatangkan pemahaman secara mudah namun terdapat kedalaman yang menarik untuk diselami lebih jauh, pandangan mata pada beberapa karya yang menyorotkan sebuah ketenangan dan sebuah harapan yang besar, sebuah optimistis yang besar terpancar untuk kedepannya,


Dengan teknis dan narasi yang Treeda tuangkan ke kanvas tidak jauh dengan hubungan antara ‘saya’ dan ‘aku’. Sebagai seniman dia merasa senang ketika berkarya di nuansa samudera, di mana semua intuisinya secara jujur bisa diterapkan sedemikian rupa, keliaran dalam berkarya mengalir begitu saja. Keliaran berkarya Treeda yang mengandung resiko secara psikis dan fisik merupakan konsekuensi yang dia hadapi, dengan kesabaran yang berasal dari rasa cinta selalu digunakan untuk meredam keterseretannya secara psikis. Konteks Treeda sebagai individu sosial seperti pada umumnya sebagai istri, ibu rumah tangga maupun sebagai ibu dari seorang anak menuntunnya dalam menyampaikan visual lukisannya secara non vulgar, seperti terjadi di karya “Kemaluan Pria”.


Kehidupannya sebagai seniman dan kodrat sebagai individu sosial tidak pernah dia pisahkan, Treeda berusaha menggabungkan keduanya untuk bisa berjalan harmonis. Dengan rasa cinta yang selalu dipupuk, Treeda dapat melewati perannya di ranah seniman dan sosial, begitupun tantangan psikis maupun fisik disiasati pula dengan dengan cinta.

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #1 2010-02-14 17:41
tulisan Sederhana yang menyentuh
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh



Twitter Updates