Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di…

Puisi-Puisi Sarah Monica

SANG PEMBURUDengarlah, hai sang penguasa waktu;tanahMu berhutang atas tiap denyut yang darahku getarkan,lautMu mengemis dari tiap garam yang aku teteskan,dan di puncak ubun-ubunku, langitMu tidak lagi merajaatas takdir yang kugoreskan sendiri di urat keningku.Di mana…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,lalu menangkapmu, memenjarakanmuseumur puisi.IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya…

Cerpen: Cawat dan Kutang Ibu

        Saya hampir lupa kapan terakhir Ibu membeli kutang dan cawat baru untuk memberi baju identitas perempuan-nya itu. Dulu Ibu adalah seorang pedagang pakaian, kembali saya ingat-ingat, Ibu memang tak pernah membeli kutang dan cawat,…

Cerpen: Mandul

Sudah lebih dari enam bulan aku tinggal di Jakarta. Meninggalkan kampung halamanku di Gunung Kidul karena tak lagi ada asa untuk bertahan hidup. Tanah di kampungku tak lagi bisa ditanami sayur-mayur, karena sebab panjang makin…

Saat Musim Kawin Tiba

Print
PDF

dream_behind_pillow

 

Saat Musim Kawin Tiba

 

Kerinduan telah mengajari kita

Bahwa kenangan tak ubahnya buku tua

Yang terbuka sampulnya. Di kedalaman matamu

Bulan juga tak sepenuhnya jujur pada angin

Sedang di geletar dadaku kau rasakan gerimis

Bergerak sopan di balik jendela dan pepohonan

Lalu kita berpelukan bagai sepasang kepiting

Yang enggan dilepas dari jaring nelayan

Kita pun menyalakan lilin dalam kamar

Sambil mengenang usia yang telah lewat

Menjadi cerita yang tak terbayangkan

Menjadi kenangan yang tak ingin dikekalkan

Malam menyisakan rintik kerinduan yang unik

Dan kita mulai bercakap tentang lelaki yang rapuh

Atau seorang perempuan yang keras kepala

Sejak itu kita percaya tuhan memang maha bijaksana

Dengan ketangkasan maling kucium bibirmu

Untuk menghapus jejak rindu, kataku kelu

Di dadamu, harimau sumatera menggeram iba

Mungkin karena musim kawin akan segera tiba

Tapi kita sepakat tak mengundang butiran salju

Turun dari puncak ketinggian masa lalu

Maka dengan sabar kutelusuri garis tubuhmu

Seperti kesabaran puteri keraton meraba porselin

Di puncak bukit cahayamu aku tergelincir

Di kedamaian lembah malumu aku tertidur

Bulan menggigil saat kusentuh ujungnya

Menghapus jejak subuh yang tak terbaca

 

Yogyakarta, 2009

Tags: Puisi Penyair

Add comment


Security code
Refresh