|
23 February 2010

Saat Musim Kawin Tiba
Kerinduan telah mengajari kita
Bahwa kenangan tak ubahnya buku tua
Yang terbuka sampulnya. Di kedalaman matamu
Bulan juga tak sepenuhnya jujur pada angin
Sedang di geletar dadaku kau rasakan gerimis
Bergerak sopan di balik jendela dan pepohonan
Lalu kita berpelukan bagai sepasang kepiting
Yang enggan dilepas dari jaring nelayan
Kita pun menyalakan lilin dalam kamar
Sambil mengenang usia yang telah lewat
Menjadi cerita yang tak terbayangkan
Menjadi kenangan yang tak ingin dikekalkan
Malam menyisakan rintik kerinduan yang unik
Dan kita mulai bercakap tentang lelaki yang rapuh
Atau seorang perempuan yang keras kepala
Sejak itu kita percaya tuhan memang maha bijaksana
Dengan ketangkasan maling kucium bibirmu
Untuk menghapus jejak rindu, kataku kelu
Di dadamu, harimau sumatera menggeram iba
Mungkin karena musim kawin akan segera tiba
Tapi kita sepakat tak mengundang butiran salju
Turun dari puncak ketinggian masa lalu
Maka dengan sabar kutelusuri garis tubuhmu
Seperti kesabaran puteri keraton meraba porselin
Di puncak bukit cahayamu aku tergelincir
Di kedamaian lembah malumu aku tertidur
Bulan menggigil saat kusentuh ujungnya
Menghapus jejak subuh yang tak terbaca








