R.A.A. Wiranatakusumah V dan Film Loetoeng Kasaroeng

R.A.A. Wiranatakusumah V atau Dalem Haji dikenal sebagai bupati
Di Indonesia, bioskop memang pertama kali muncul di
Dari sandiwara ke layar lebar
Dalam buku Film Indonesia Bagian I (1900-1950), Wiranatakusumah V telah merintis pementasan cerita Loetoeng Kasaroeng di Kongres Jawa di Bandung pada 1921, 5 tahun sebelum film Loetoeng Kasaroeng diproduksi. Guna pertunjukan di Kongres Jawa, Kiewit de Jonge dan Mr. Pleyet mengolah legenda asli Loetoeng Kasaroeng menjadi sandiwara. Cerita unik datang saat tahap persiapan menuju pentas.
Ternyata pertunjukan ini memberi pengaruh yang positif, yaitu semakin populernya lagu-lagu Sunda lama. Wiranatakusumah V berpendapat, masyarakat Sunda ketika itu, sudah banyak yang meninggalkan lagu-lagu Sunda lama. Namun setelah digelar pertunjukan Loetoeng Kasaroeng di Kongres Jawa, di seluruh Priangan semua orang merasakan kebangkitan lagu-lagu Sunda lama. Pada 1926, bisa dibilang kesenian Sunda sudah berkembang. Tapi hasrat Wiranatakusumah untuk semakin mempopulerkan budaya Sunda masih besar. Maka dari itu, bisa diterima dengan logika mengapa beliau sangat mendukung pembuatan film Loetoeng Kasaroeng.
Film ini hadir di tengah rasa bosan penonton bioskop yang hanya disajikan film-film komedi, propaganda, dan pemandangan. Usaha menurunkan harga karcis, dan dimunculkannya openlucht bioscoop (semacam layar tancap) di Lapangan Deca Park, Mangga Besar, Tanah Abang, dan Beos, ternyata cuma sekejap saja membunuh rasa bosan tersebut. Dari sini, terbesit keinginan seorang Belanda totok dari
Menurut penulis buku Bandung, Tonggak Sejarah Film Indonesia, Eddy D Iskandar, Heuveldorp menggarap legenda rakyat Sunda ini berdasarkan naskah sandiwara. Saya menduga, mungkin saja sebelumnya ia membaca naskah sandiwara yang dimainkan di Kongres Jawa. Untuk menggarap film tersebut, Heuveldorp mengajak G. Krugers, seorang Indo-Belanda dari
Peran sang bupati
Ambisi Heuveldorp untuk membuat film Loetoeng Kasaroeng mendapat dukungan banyak pihak. Persoalan yang dihadapinya tinggal masalah pembiayaan. Dari sini Heuveldorp menemui Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Gayung bersambut. Kebetulan, Wiranatakusumah V merupakan bangsawan yang kaya raya, dan yang lebih penting, ia punya perhatian khusus pada perkembangan kesenian dan budaya Sunda. Tentu saja ia sangat mengapresiasi maksud pembuatan film Loetoeng Kasaroeng. Dengan kesuksesaan film ini nanti, toh cerita rakyat Sunda nantinya akan semakin terangkat dan dikenal secara luas. Inti cerita film ini berisi sebuah nasihat, yaitu jangan memandang sesuatu dari kulitnya saja. Purbasari diejek karena mempunyai kekasih seekor lutung (Guru Minda). Sedangkan kakaknya, Purbararang membanggakan kekasihnya, Indrajaya, yang manusia. Ternyata lutung itu merupakan jelmaan dari seorang pangeran tampan, titisan Dewi Sunan Ambu. Guru Minda jauh lebih tampan dari Indrajaya, kekasih Purbararang (Kristanto, 2005: 1).
Maka bermainlah trio Heuveldorp, Krugers, dan Wiranatakusumah V di film ini. Heuveldorp berperan sebagai sutradaranya, dan Krugers sebagai kameramannya. Sedangkan peran Wiranatakusumah V, bisa dikatakan, sangat krusial. Ia merupakan orang yang paling paham cerita Loetoeng Kasaroeng. Selain itu, ia juga menyandang dana dan penyedia fasilitas bagi kelancaran shooting. Untuk kelancaran pembuatan film, ia mengumpulkan para pemainnya yang tidak lain adalah kerabat-kerabatnya sendiri. Ia juga mengajak anak-anaknya untuk bermain di film ini. Mereka-mereka yang bermain merupakan para priyayi berpendidikan tinggi dan mahir berbahasa Belanda, namun tidak punya pengalaman sama sekali di bidang akting. Tapi karena rasa kebangsaan yang ‘berontak’?ingin membuktikan bahwa mereka juga mampu berakting layaknya orang-orang Amerika?akhirnya, setelah beberapa kali latihan, akting mereka sesuai dengan harapan Heuveldorp. De Locomotief mencatat, pemeran lutung di film ini sangat menakjubkan dengan kemampuannya memanjat, tapi posisi kepala ke bawah.(De Locomotief, September 1926).
Lokasi shooting yang dipilih Wiranatakusumah V berada di sebuah kawasan bukit karang sekitar 2 kilometer bagian barat
Begitu besar peranan bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusumah V, dalam pembuatan film Loetoeng Kasaroeng. Selain dikenal sebagai bangsawan yang dermawan dan kaya raya, ia juga memiliki perhatian besar untuk memajukan kesenian dan kebudayaan Sunda. Bisa dipastikan, jika tidak ada peran beliau di sini, film Loetoeng Kasaroeng tidak akan pernah ada dalam catatan perjalanan sejarah film
FANDY HUTARI,
Penulis Lepas dan Penyuka Film
Tinggal di Jakarta
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites









Comments
dokterkulitbandung.com/
RSS feed for comments to this post.