
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Usia kerap menjadi suatu titik perenungan bagi banyak orang, seperti halnya yang dilakukan oleh perupa Hanafi. Pada usia yang ia sebut sudah mencapai ‘separuh’ ini, ia menyelenggarakan pameran tunggalnya yang bertajuk “Saat Usia Lima Puluh” di Galeri Nasional Jakarta yang berlangsung 6-18 April 2010. Pameran tunggal yang dikuratori oleh Jean Couteau dan Jim Supangkat ini menghadirkan 30 lukisan dan 3 karya instalasi terbaru Hanafi.
Bentuk abstraksi dan pencitraan imajiner masih menghiasi kanvas-kanvasnya, namun yang membuat pameran kali ini berbeda adalah, kanvas-kanvas itu tak lagi riuh. Warna-warna gelap dan kromatik menjadi lebih dominan. Seperti pada karya “Pertautan”, kita hanya menemukan sebidang warna gelap dan torehan-torehan garis belaka, atau pada karya “Ambang Garis Batas” yang didominasi warna-warna kromatik dan tarikan garis. Persoalan garis ini, memang menjadi perhatian utama dalam pamerannya kali ini. “Saya ingin membebaskan garis dari semua beban, saya ingin menjelajahi garis sebagai garis yang tidak pernah saya kenal,” ujar Hanafi. Pilihannya pada garis berasal dari pemikiran maupun pengambilan keputusan yang bersifat etis, bahwa selama ini garis hanya diperlakukan sebagai kelengkapan sebuah gambar, bukan sebagai garis itu sendiri. “Dalam proses melukis untuk pameran kali ini, saya memakai teknik kerja terbalik. Umumnya garis itu untuk membuat sebuah pola yang akan diselesaikan nanti menjadi sebuah gambar dan garis nantinya akan hilang. Kali ini, saya buat blok nya dulu baru saya munculkan garis. Jadi yang akan dipaparkan adalah garis. Dengan begitu, garis itu akan ber’suara’,” jelasnya lagi. Warna-warna kromatik yang digunakan juga berdasar pertimbangan untuk lebih menguatkan kesan garis itu sendiri.

Dalam kuratorialnya, Jim Supangkat mencatat beberapa perubahan maupun hal baru yang terdapat di pameran Hanafi kali ini, yang membedakan dengan pameran-pameran Hanafi sebelumnya. Perubahan awal yang terlihat yaitu gambaran (imagery) yang biasanya muncul pada karya-karya Hanafi sebelumnya, kini hilang sama sekali. Bisa dibilang peran gambaran itu kini digantikan oleh garis yang menjadi isu utamanya. Sebelum pameran ulang tahun ke -50 ini karya-karya abstraknya secara bertahap memunculkan berbagai tanda dan gambaran. Sejumlah kritisi menyangka Hanafi akhirnya menekankan pesan dan meninggalkan kecenderungan “main-main bentuk”. Akan tetapi, lukisan-lukisan abstrak pada pameran ulang tahun ke -50 ini –menandai perkembangan mutakhirnya- menyangkal sangkaan ini.

“Saya lebih senang bila mengatakan pameran ini sebagai sebuah pameran konfirmasi. Karena selama ini, setiap saya mengikuti pameran memiliki publik dan apresiasi yang berbeda-beda. Bukan hanya karena perbedaan tempat, tetapi juga beda publiknya, tidak selalu publik seni rupa, ada juga dari kalangan arsitektur dan desain. Kemudian terbentuklah bangunan cerita yang simpang siur di sana. Nah, inilah pameran yang mengkonfirmasikan siapa saya sebetulnya. Jadi agar orang bisa datang sendiri, dengan forum yang lebih luas, dengan pameran yang lebih gigantik, dan lebih gampang dicapai oleh semua kalangan dan mereka bisa menilai sendiri. Di situ saya mempunyai satu harapan mulai saat ini orang boleh mempercayai matanya sendiri. Jadi ini sebuah konfirmasi atas siapa saya sesungguhnya.”
Hanafi termasuk salah satu seniman seni rupa penting di Indonesia saat ini. Pelukis kelahiran Purworejo, 5 Juli 1960 ini diapresiasi bukan saja oleh kalangan seni rupa, tetapi karya-karyanya juga dianggap berpengaruh dan memberi rangsangan kreativitas pada bidang arsitektur, desain, musik dan sastra.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites







Comments
RSS feed for comments to this post.