Friday, Apr 25th

Last update09:40:11 PM GMT

You are here: Home

Mengenal Ibrahim Sattah*

E-mail Print PDF

 

ibrahimsattah

 

Penyair Sattah mulai kita kenal, ketika puisi-puisinya dimuat dalam majalah sastra Horison sekitar tahun 70-an. Kemudian dalam acara Pertemuan Sastrawan Indonesia 1974, ia lekas menarik perhatian karena penampilannya dalam membaca puisi secara unik dan segar. Dari karya-karyanya dan cara pembacaannya menimbulkan kesan kepada kita bahwa Sattah memiliki ciri-ciri tersendiri. Sementara itu juga menumbuhkan kesan yang mendalam, bahwa karya-karya Sattah banyak mengingatkan kita pada karya-karya Sutardji Calzoum Bachri. Umpamanya baris puisi ini :

 

“duka itu saya saya ini kau kau itu duka

duka bunga duka daun duka duri duka hari”

(“Duka”, Ibrahim Sattah)

 

Bandingkan dengan baris di bawah ini

 

”dukaku dukakau dukarisau duka kalian dukangiau

Resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian”

(”O”, Sutardji Calzoum Bachri)

 

Memang, sepintas lalu karya kedua orang penyair ini susah dibedakan. Ada sementara kalangan berpendapat bahwa puisi-puisi mereka mirip satu sama lain. Apakah benar demikian? Disini diperlukan seorang penelaah yang tekun untuk mencari penerangan yang lebih gamblang tentang masalah ini. Hal ini menarik. Karena, kebetulan Sutardji dan Sattah lahir di daerah yang sama; Riau – tempat asal bahasa Indonesia. Dan kebetulan mereka bertolak dari tradisi sastra yang sama, Mantera.

 

Klik tombol Play di atas untuk mendengar

pembacaan puisi oleh Ibrahim Sattah

 

 

Tahun ketika Ibrahim Sattah muncul dalam majalah sastra Horison, Sutardji dalam suatu kondisi puncak mempesona publik peminat sastra, karena usahanya ingin mendobrak kelesuan dalam dunia puisi kita. Ia telah menawarkan sikap baru, orientasi baru dalam mencari sumber penciptaan puisi : kembali pada hakekat mantera. Pada saat itu, Sutardji tidak hanya menarik perhatian karena bentuk pengucapannya dalam puisi tapi juga cara penampilannya di depan publik. Kekuatannya dalam menggerakkan dan merangsang imajinasi kita secara total. Sehingga ketika kemudian hari muncul Ibrahim Sattah membacakan puisinya di depan pertemuan sastrawan itu, kita dikejutkan oleh corak penampilan yang lain lagi. Sehingga kita mendapatkan perbandingan antara dua penyair ini. Setidak-tidaknya kita telah diperkaya oleh kehadiran puisi Sattah.

 

Dalam percakapan dan pertukaran pikiran saya dengan pelukis Rudjito (Dosen LPKAJ) pada saat itu menemukan suatu perumusan perbandingan gejala persajakan antara Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dan Ibrahim Sattah (IS). Perumusan garis besar itu seperti berikut :

 

Sutardji Calzoum Bachri

Ibrahim Sattah

Karya-karyanya dilandasi materi-materi yang ditarik dari rasa kesadaran hidup yang besar-kesadaran akan pengalaman kemelut, perasaan hati nurani yang lumat, penderitaan pasi, kekayaan yang pada hakekatnya dimiliki sebagai fundamen

Karyanya lahir dari kedalaman hidup batin, di luar dari kedalaman lembah ke-prasejarahan dan kepurbaan lewat pergolakan gelap-terang

Patung

Totem (rasa organisme sendiri yang diucapkan secara absolut)

Meruang

Menyerap ke dalam

Kota (istilah sementara)

Kampung (istilah sementara)

Ruang – Gerak (movement)

Ketenangan

Ke luar

Ke dalam

Agresif, Vitalitas, Visi

Bergema, Mengendap, Total

Jauh dari sumber-mencari hakekatnya saja

Dekat dengan sumber – langsung di dalamnya

Muram

Segar

Kemelut

Jernih

Jiwanya-Esensinya

Efeknya

Khos

Menjelajahi pengalaman batin yang lain


Cara menarik kesimpulan di atas memudahkan kita untuk menangkap makna yang lahir dari puisi dua penyair yang satu daerah ini. Sutardji lama berdomisili di Bandung (sekarang di Jakarta) dan Sattah di Pekanbaru (Riau). Nampaknya, mereka memiliki ”pure experience” (pengalaman murni) yang berbeda, meskipun sumbernya dari tradisi sastra yang sama.

 

Meskipun tidak secara jelas-jelas ia (Sattah) menyatakan kembali pada mantera, tapi sumber penciptaannya tidak lain dari kekuatan yang terkandung dalam mantera itu. Menurut pengakuannya (1974) menulis puisi bermula dari ”main-main” dan berakhir dengan tertegun, sebagaimana ia melihat sesuatu dengan kebencian, tetapi berakhir dengan rasa cinta yang mendalam, intens dan akrab. Ia juga mengatakan bahwa menulis puisi memindahkan sesuatu dalam ”kata-kata” – sesuatu yang mungkin tidak mudah dimengerti, dan dengan ”kata” sesuatu telah terjadi (lihat Rudjito, 1980 : Catatan untuk Sajak-Sajak Ibrahim Sattah – pen). Tentang puisi dia berpendapat bahwa puisi tidak hanya sekedar suasana hati, bukan sekedar cangkir untuk menuang sesuatu dalam diri manusia. Dan manusia yang menemukan puisi adalah manusia yang berada pada pucuk yang paling punca dari misteri kehidupan itu sendiri.

 

Dengan kata lain Sattah hendak meninggalkan paham tentang kesadaran antara bentuk dan isi dalam karya puisi. Meninggalkan pengertian antara wadah dan idenya sendiri. Pendirian semacam ini sesungguhnya tidak baru. Namun, perlu kita perhatikan juga. Sebab apa yang dikemukakan di atas mungkin sejajar dengan apa yang dikemukakan oleh Pierre Reverdy dalam tulisannya Di mana Puisi Kutemui (dimuat dalam Gelanggang SIASAT). Pierre Reverdy mengemukakan : ”Dalam seni juga seperti dalam alam, bentuk tidak mungkin jadi tujuan. Kita tidak melangkahkan kaki untuk sesuatu bentuk yang tertentu, tapi kita menemuinya, kita berhadapan dengannya dengan tidak disangka-sangka terlebih dahulu. Ia adalah suatu konsekuensi, semacam hasil yang sudah seharusnya dari suatu tindakan yang digerakkan untuk kepentingan mencapai puncak dalam perwujudan. Suatu benda yang tertentu dikerjakan dengan cara tertentu akan beroleh bentuk lain. Bentuk lahir dari dirinya sendiri.”

 

Kesan yang kuat yang kita kemukakan tadi bahwa Sattah juga bersumber dari mantera (seperti halnya pada Sutardji) ialah terletak pada kenyataan bahwa puisi itu mengandung ciri-ciri yang biasa dimiliki oleh puisi mantera. Umpamanya, kaya bunyi (vocal) sebagai kekuatan puisi. Kekuatannya terasa kalau dibacakan. Unsur-unsur magis. Dan seolah-olah tidak mempunyai makna apa-apa kecuali untuk mempengaruhi. Kita ambil contoh Anteraorag Dobu (Pantai Selatan Irian) :

 

Burung rangkok, penghuni Sigasiga

Di puncak pohon Iowana

Ia memotong, ia memotong

Ia menyobek

Dari dalam hidung

Dari dalam sisi kepala

Dari dalam tenggorokan

 

Mantera sihir tidak mengandung makna (puisi) apa-apa kecuali apabila dibacakan mengandung kekuatan tertentu. Apabila Sutardji menyatakan kata tidak mewakili pengertian tapi kata itu sendiri, pada Sattah kata hanya untuk menuangkan sesuatu.

Sattah memilih kata jejak, adam, langit, gerak, laut, dan lain sebagainya, lahir dari suatu kesadaran beriprovisasi ketika ia hendak menjawab masalah misteri dirinya, hidup dan maut. Puisinya kaya dengan irama (bunyi) yang mengandung daya kekuatan yang menguguh kesadaran kita bila dibacakan. Seperti halnya sajak Sembilu. Ia mempertanyakan dirinya secara intens. Benda-benda seperti mawar, bumi, batu, langit, laut, dan lain lain itu menyatu dalam kesadaran ketika ia mempertanyakan namaku dan aku. Kata-kata itu sendiri tidak mengandung perlambangan. Juga tidak membangkitkan asosiasi tertentu. Semuanya menyatu dalam kesadaran dirinya. Termasuk ketidak-tahuannya terhadap semesta dan kehidupan dengan hanya menyebutkan a i u e o dan sebagainya.

 

Slamet Sukirnanto,

"Mengenal Ibrahim Sattah", Pelita,

Jakarta, 19 September 1978.



Sekilas mengenai Ibrahim Sattah :

Ibrahim Sattah adalah seorang penyair Riau yang telah mengangkat nama daerah Riau ke jenjang nasional dan internasional. Ia lahir tahun 1943 di Tarempa, pulau Tujuh (Riau). Ibrahim Sattah yang tercatat sebagai anggota Polri ini mulai dikenal ketika puisi-puisinya dimuat di majalah sastra Horison pada tahun 70-an.

Tahun 1975 Ibrahim Sattah membacakan puisi-puisinya di Den Haag, Belanda. Di musim panas 1976 ia terpilih menjadi peserta Festival Puisi Antar Bangsa di Rotterdam, mengikuti program Asean Poetry Reading International di Rotterdam.

Dandandid adalah kumpulan puisinya yang pertama (1975), diantaranya telah diterjemahkan oleh Jan Eijkelboom kedalam bahasa Belanda dan oleh Sapardi Djoko Damono bersama McGlinn kedalam bahasa Inggris. Kumpulan puisinya yang berjudul Ibrahim terbit tahun 1980. Kumpulan puisi ini disiapkan dalam perjalanannya ke Semarang, Yogyakarta, Singapura, Malaysia. Kemudian HAITI kumpulan puisinya yang terakhir tebit pada tahun 1983.

Pada tahun 2006 penerbit Unri Press menerbitkan kembali kumpulan sajak-sajak Dandandid, Ibrahim dan Haiti dalam buku bertajuk Sansauna. Ibrahim Sattah meninggal pada usia 45 tahun pada selasa pagi 19 Januari 1988.


*Artikel ini disadur dari buku Sansauna – Kumpulan Sajak Ibrahim Sattah, atas seizin Wira Sattah Jr. (keluarga).

 




Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
+2 #2 2010-05-20 18:34
Puisinya dahsat, baru sekarang dengar rekaman langsungnya. Sayang, sosoknya gak terlalu diekspos ya. Btw utk mas Agus, klik aja tombol hijau di atas teks keterangannya, gak ada tulisan playnya sih hehehe....
Quote
 
 
+1 #1 2010-05-20 16:28
aku mau dengar sihir nya.. Ibrahim sattah... tp tombol play nya mana ya....?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Twitter Updates