Art Camp



Home / Peristiwa / Gandrik Yogya, Tak Mati Gaya
A+ R A-

Gandrik Yogya, Tak Mati Gaya

E-mail Print PDF

img_0029

 

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Ketika kelompok Teater di Indonesia mulai tenggelam, Kelompok Teater Gandrik dari Yogyakarta terus berkreasi. Bahkan belum lama ini, kelompok teater yang dimainkan oleh Butet Kartaredjasa Cs itu kembali hadir di hadapan publik mementaskan lakon PAN-DOL atau Panti Idola. Sebuah parodi getir tentang fenomena pemberantasan korupsi. Pentas yang diselenggarakan selama dua malam di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pun dibanjiri ribuan penonton.

 

Menyaksikan PANDOL garapan Gandrik sungguh terasa sangat berbeda. Penonton seperti dibawa pada gaya pementasan teater rakyat semacam Ludruk atau Kethoprak Lesung. Selain itu, dialog-dialog yang cair dengan penuh adegan kocak, sungguh membuat pementasan PANDOL menjadi sangat berbeda dengan pementasan teater yang ada selama ini. Oleh karena itu, setelah sukses dipentaskan di Yogyakarta, PAN-DOL juga direncanakan akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

 

img_0026

 

Berbeda dengan pementasan teater pada umumnya, PAN-DOL dimainkan dengan struktur dramatika yang sangat sederhana. Para aktor terlihat lepas dalam memainkan perannya dengan sesekali menjalin improvisasi dengan penonton. Pementasan malam itu juga menjadi lebih menarik dengan dilibatkannya para ‘Gandrik Muda’, meski dalam adegan mereka terlihat mati gaya dalam beradu peran dengan para seniornya.

 

Sejumlah seniman yang hadir malam itu justru merasa terkesan dengan pementasan PAN-DOL, yang tak lagi berfokus pada dramaturgi yang ruwet dengan simbol-simbol yang abstrak. Bahkan, Susilo Nugroho yang dalam pementasan ini bertindak sebagai supervisor naskah menyatakan bahwa keberhasilan sebuah pementasan, terletak pada daya komunikatif antara penonton dengan pemain, sehingga pesan-pesan yang disampaikan selama pertunjukan dapat dipahami oleh penonton.

 

Secara umum, pementasan PAN-DOL terasa sangat menghibur. Model pementasan guyon parikeno dengan gaya sampakan seolah ingin selalu mengingatkan pada masyarakat agar tak menyerah untuk terus berupaya memperjuangkan semangat anti korupsi. Oleh karena itu, jika PAN-DOL dikaitkan dengan semangat kekinian maka PAN-DOL tak lagi cukup menjadi sarana menasehati penguasa tetapi sudah menjadi semacam sarana ‘nglulu’ (menyindir-red) terhadap para pelaku korupsi.

 

Sejak terbentuk pada 12 September 1983, Teater Gandrik telah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Bahkan, jika dibandingkan dengan kelompok teater lain di Indonesia, Gandrik merupakan kelompok teater yang mampu memadukan gaya pementasan modern dengan tradisional. Oleh karena itu, Gandrik pernah disebut sebagai salah satu representasi perkembangan teater modern di Indonesia.

 

Pada era 80-an, Gandrik pernah mementaskan karya yang sangat fenomenal seperti Pasar Seret (1985), Pensiunan dan Sinden (1986), Dhemit (1987), Isyu (1987), Orde Tabung (1988), Juru Kunci (1988), Upeti (1989), dan Juragan Abiyoso (1989). Karya-karya yang penuh dengan kritik sosial pada masa hegemoni kekuasaan yang cukup kuat waktu itu membuat pementasan Gandrik bukan hanya berfungsi sebagai media hiburan tetapi sekaligus sebagai media katarsis politik waktu itu. Sebab, Gandrik mencoba menjadi manifestasi opini keresahan rakyat kecil bagi penguasa yang cukup dominan waktu itu. Dan lewat PAN-DOL ini, Gandrik juga mencoba menjadi katarsis atas keresahan rakyat kecil terhadap fenomena korupsi yang (konon) di masa demokrasi ini justru semakin tak terkendali.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Add comment


Security code
Refresh



Twitter Updates