Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Menguji Para Penguji

Merangkap profesi perupa sekaligus dosen bukanlah hal baru.Yang patut dibincangkan: apakah mereka tahan uji dan bagaimana hasil karyanya? Pameran seni kontemporer bertema “melihat/dilihat” di Galeri Nasional Indonesia Juni 2013 ini cukup menarik untuk dijadikan lahan…

Konfrontasi Estetika dan Keberdayaan Seniman

“Seni bukan lagi persoalan estetika. Lebih dari itu, menyangkut kemanusiaan.” Demikian isi pidato sambutan Vukar Iodak, pemerhati seni rupa, di malam pembukaan SACCHARINE Smile Agoes Jolly, di Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 17-31…

Kompleksitas Kesederhanaan Sketsa dan Puisi Romo Mudji

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Sketsa dianggap karya seni rupa yang belum jadi. Sebab dari sketsa seorang perupa akan menggarapnya menjadi lukisan di masa-masa mendatang. Sketsa jamaknya dibuat di suatu tempat dan waktu ketika si perupa menemukan…

"Can Smile on The Wall" Memberi Makna Pada Tembok Kusam

IndonesiaSeni.com, Bandung - Bertempat di sepanjang Jalan Setasiun Barat Hingga Jalan Setasiun Timur, Bandung, Sabtu 4 Agustus 2012 Preman Urban dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bersama puluhan Street Artist nasional  menggelar kegiatan yang bertajuk…

Bahasa Warna Bahasa Hati Iswanto

IndonesiaSeni.com, Jakarta- Satu tambah satu bagi pelukis produktif Iswanto hasilnya bukan dua, tapi bisa jadi seribu, satu juta, bahkan bilangan tak berbilang. Dari satu objek, satu ide, satu warna, satu fundamental, ia bisa mengolahnya menjadi…

You are here: Home Sosok Patung Kehidupan Ismanto

Patung Kehidupan Ismanto

PDFPrintE-mail

Ismanto dan patung modelnya
Beberapa waktu lalu IndonesiaSeni.com berkunjung ke kediaman seniman patung Ismanto. Saat itu ia sedang berada di “studio alam”nya, di lereng barat Gunung Merapi. Bongkah-bongkah batu andesit yang bertebaran di pematang-pematang sawah sejauh mata memandang itu adalah inspirasi bagi proyek estetis selama 17 tahun karir kesenimanannya. Nama Ismanto semakin dikenal luas di kalangan publik seni melalui keikutsertaannya di berbagai pameran bergengsi. Meski seorang seniman otodidak, karya-karya yang dihasilkannya penuh perencanaan dan teknis yang matang. Tak sedikit seniman-seniman yang lebih senior, seperti misalnya Made Wianta, membutuhkan bantuannya dalam menggarap karya-karya instalasi. Selain dikenal sebagai pematung, Ismanto juga melakoni aktivitas seni lainnya seperti melukis, membuat seni instalasi dan bermain teater. Ia juga mengelola Sanggar Gadhung Mlati, sebuah sanggar seni yang ia dirikan untuk menampung anak-anak putus sekolah di desanya.  Berikut bincang-bincang santai kami bersama Ismanto:

Apa saja kegiatannya sekarang mas?
Kegiatannya, disamping kadang kita ikut pameran bersama, juga sedang mempersiapkan pameran tunggal, di antaranya menyiapkan tema untuk pameran.

Apa sudah merumuskan  tema spesifik untuk pameran tunggal kali ini?
Pengennya, nama saya kebetulan Ismanto, jadi saya ambil huruf besar di depannya itu: I-S-M (ism, isme); jadi sebuah paham, ya semacam pahamnya Ismanto gitu. Tapi itu belum fix betul, harus disesuaikan dengan karya.
Salah satu karya yang sedang dipersiapkan untuk pameran tunggalnya
Boleh ceritakan sedikit tentang persiapan pameran tunggalnya?
Melalui pameran tunggal itu sebetulnya saya hanya ingin menunjukkan sebuah proses membuat patung; dari yang realis sampai karya-karya yang kontemporer. Dari proses berkeringat itu saya ingin menampilkan kegelisahan-kegelisahan yang mungkin saya rasakan tentang kondisi lingkungan, kondisi manusia pada umumnya, kegelisahan tentang kemiskinan moral; yang pasti banyak sekali yang ingin ditampilkan dalam bentuk-bentuk 3 dimensi juga dalam bentuk-bentuk drawing atau lukisan.

Tentang pameran ini, kira-kira sudah siap berapa karya mas?
Kalau untuk patung batunya, sudah lebih dari 20 tema. Satu tema bisa seratus lebih karya patung. Ukurannya ada yang ukuran 2m, 3m, dll. Seperti patung “Brayut” (salah satu judul karyanya) itu membentuk sebuah candi. Brayut itu seorang ibu, dari cerita rakyat di Bali atau di Jawa, bercerita tentang seorang ibu yang memiliki anak banyak sekali; Saya selalu berpikir sesuatu itu Tuhan. Saya selalu melihat itu Tuhan, apapun itu Tuhan. Jadi, ketika saya ingat Brayut, saya teringat, yang selalu melahirkan itu adalah Tuhan. Jadi saya melihat candi brayut itu adalah gambaran proses penciptaan.

Berapa lama biasanya proses yang dibutuhkan untuk membuat satu karya?
Mungkin untuk Brayut itu 1-2 bulanan lah. Karena karya patung ”Pohon Kehidupan”, dengan 60 pohon apel yang ditumbuhi sekitar 200 buah apel, hanya dikerjakan 10 hari. Yang mengerjakan ada 5 orang.
Ismanto dibantu 5 murid didiknya dalam proses berkarya

Rencana pamerannya digelar di mana?
Pengennya di Jakarta. Pengennya 3 kota sih, Bali, Yogya, Jakarta. Cuma mungkin kendala pendanaan terlalu bengkak banyak, karena transportasinya tidak cukup 30 truk, kemungkinan 50 truk.

Untuk mengangkut karya patung yang beratnya berton-ton itu memang menjadi persoalan tersendiri bagi Ismanto. Biaya transportasi pulang perginya saja bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Tetapi ia berupaya untuk menanggung biayanya sendiri meski kerap ditawari bantuan oleh beberapa galeri. Ia mengatakan, hal tersebut demi menjaga independensi dan kebebasan berkarya. Untuk mencapai obsesinya menyelenggarakan pameran tunggalnya, Ismanto pun harus rela menahan diri untuk tidak melepas karya-karya barunya ke tangan kolektor.

Dari sisi tema atau gagasan, sebenarnya apa yang mungkin paling menarik untuk mas Ismanto eksplorasi?
Sebetulnya saya selalu menunjukkan sesuatu yang tidak sempurna di mata umum. Mungkin kalau secara visual, melalui patung-patung yang pecah atau hancur, atau mungkin krowak/growong (bengkok ke dalam). Saya ingin menunjukkan bahwa dari sesudut rusak atau mungkin mata umum mengatakan rusak atau tidak sempurna, ternyata di baliknya ada sebuah keindahan. Sempurna itu tidak harus utuh. Jadi justru nilai estetisnya muncul dari suatu ketidaksempurnaan.

Pemilihan bahan untuk patungnya sendiri?
Kami orang lokal yah, kebetulan di daerah sini ada penambangan pasir yang sebetulnya dilarang oleh pemerintah karena merusak alam, tetapi kalau kita tinggal diam dengan limbah-limbah batu (batu andesit) yang bergeletakan, juga tidak ada artinya nanti. Akhirnya limbah-limbah batu itu saya eksplorasikan untuk menjadi sebuah karya seni, sehingga mempunyai nilai tambah.

Dalam berkarya bekerja sendiri atau melibatkan orang lain?
Kita melibatkan masyarakat setempat, yang pasti yang pengangguran dan tidak sekolah dan latar belakang ekonominya miskin, maksudnya strata sosialnya dari keluarga yang perlu dibantu. Karena kita punya tim kerja. Tim kerja ini perlu, karena bahan bakunya juga besar, yang harus kita buat menjadi sebuah karya. Nggak mungkin kalau hanya saya sendiri yang mengerjakan. Di samping itu juga kita sambil belajar bersama-sama dengan teman-teman yang belum mengenal dunia patung.

Orang-orang yang bergabung dalam tim kerja ini apakah yang memang sudah memiliki kemampuan mematung sebelumnya?
Dari nol semua. Memang saya mencari orang-orang yang tidak bisa membuat patung, untuk dilatih agar bisa membuat patung dan setelah bisa membuat patung mereka harus pergi dari sini supaya mereka bisa mengumpulkan anak-anak yang drop out sekolah lagi untuk dilatih dan diajarkan mandiri lagi, juga untuk mendampingi teman-teman mereka yang belum mahir di sini.

Bagaimana pendapat Mas Ismanto mengenai dunia kesenian khususnya seni rupa di Indonesia sekarang?
Untuk kemajuan seni rupa di Indonesia menurut saya sebenarnya sudah menemukan kemajuan yang pesat. Jadi tidak ketinggalan dengan negara lain. Dan sebenarnya banyak seniman yang sudah mampu atau memang mampu, berbakat, tapi tidak muncul di permukaan karena mungkin kekurangan informasi, baik informasi tentang pameran atau informasi lain. Atau mungkin gerak dari kurator sendiri tidak sampai ke daerah. Seharusnya kurator itu bisa ke daerah dan bisa mengumpulkan seniman-seniman dan dari situ bisa lebih menciptakan atau memberikan kekuatan bagi seniman-seniman yang ada di daerah.

Adakah kaitan antara karya-karya Mas Ismanto dengan latar belakang lokalitas mas Ismanto yang berlatar kebudayaan seperti di sini?
Ya, yang saya rasakan, yang saya ungkapkan sebetulnya lokalitas, kegelisahan orang lokal. Seperti karya-karya saya yang mengangkat isu religi, di mana pengertian religius di Indonesia atau di daerah-daerah itu belum tertangkap; misi religinya itu nggak ada, jadi nggak ada rohnya. Religi di negeri ini adalah religi dalam bentuk fisik saja, bukan hati. Karena toh konflik masih ada, toh kemiskinan masih ada, agama sudah kehilangan kebaikannya. Agama itu sudah kehilangan kedamaiannya.

Ada pesan lain yang ingin disampaikan mas?
Saya berharap IndonesiaSeni bisa menjadikan seni itu menjadi indonesia. Dan IndonesiaSeni itu menjadi milik masyarakat yang berkesenian meskipun di pelosok, agar betul-betul bisa mengayomi dan merangkul, menjamah, supaya tidak ada yang pesimis di dunia kesenian kita ini; bahwa ternyata dunia seni ini harus dikenalkan secara apa adanya.


Tags: Sosok


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #8 2010-11-07 07:34
Quote
 
 
0 #7 2010-07-17 20:36
edan juga buat karya utk pameran..
bisa cape banget abis pameran..
jdi penasaran liat ntar pamerannya
Quote
 
 
0 #6 2010-07-16 08:33
caayoo.,.,.,
truss berkarya an bersemangatt.,..,. :D
Quote
 
 
0 #5 2010-07-10 15:03
mas Is emang canggih!!! terus berkarya mas
Quote
 
 
0 #4 2010-07-10 08:01
Siippp!! Terus berkarya, Pak.. Berkah Dalem!
Quote
 
 
0 #3 2010-07-07 05:43
Kabar-kabarin kapan pameran tunggalnya, penasaran lihat karya-karya terbarunya. Bravo!
Quote
 
 
0 #2 2010-07-03 17:33
Setiap seniman memang sudah seharusnya memiliki kontribusi positif terhadap lingkungannya, tidak hanya asyik sendiri dengan berkarya tetapi tidak mengambil peran dalam lingkungan sosialnya. Salute utk mas Ismanto...
Quote
 
 
0 #1 2010-07-02 02:10
Hebatt....
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

  •    Latest News   

  •    Most Read   

  •    Hot News   

290x70-3


Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Apresiasi

  • Sosok

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Esai

contrib
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Peluang dan Kesempatan

Twitter Updates

Copyright © 2011 Indonesia Seni - Bentang Informasi Seni dan Budaya Indonesia.