Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Film Dokumentasi Budaya: Mengawal Tradisi "Muludan" Keraton Cirebon

IndonesiaSeni.com, Cirebon – Mauludan tahun ini di Keraton Kasepuhan Cirebon terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Upacara Mauludan yang digelar pada 16 Februari tersebut disertai pembuatan…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film "Khalifah"

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Tema reliji masih menjadi tema yang menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah film bagi sutradara generasi baru Indonesia, Nurman Hakim. Setelah sukses…

Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film

Proyek-proyek Keterasingan Sosial

    IndonesiaSeni.com, Jakarta - Adalah Louis Malle seorang sutradara Perancis (1932-1995) yang banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia perfilman Perancis maupun dunia internasional.…

Proyek-proyek Keterasingan Sosial Proyek-proyek Keterasingan Sosial

"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jika agama diturunkan Tuhan sebagai rahmatan lil alamin–rahmat bagi alam semesta, seharusnya, agama  mampu menghadirkan kenyamanan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Seperti…

Ketika Perempuan Tak Mempunyai Pilihan

    Film ini diangkat dari dua cerpen dari buku kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! karya Djenar Maesa Ayu, penulis sekaligus sutradara film…

Ketika Perempuan Tak Mempunyai Pilihan Ketika Perempuan Tak Mempunyai Pilihan
Print
PDF
08
September
2010

"Sang Pencerah", Kisah Seru Sosok Pembaharu

dahlan

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jika agama diturunkan Tuhan sebagai rahmatan lil alamin–rahmat bagi alam semesta, seharusnya, agama  mampu menghadirkan kenyamanan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Seperti alunan musik yang membuat nyaman siapapun yang mendengarnya. Karena itu, agama tak boleh dipahami secara sempit sebagai sebuah dogma, namun harus dimaknai dengan logika. Sistem dan metode pengajaran maupun dakwah agama juga harus disesuaikan dengan perkembangan budaya masyarakat.

Demikian pesan yang ingin disampaikan sutradara Hanung Bramantyo dalam film “Sang Pencerah”, yang pada Libur Lebaran 2010 ini tayang di bioskop kelas utama di seluruh Indonesia. Film yang  mengisahkan tentang sosok pendiri organisasi Persyarikatan Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan ini digarap cukup detail dan cukup memberi gambaran mengenai sosok KH. Ahmad Dahlan.

dahlan-1

Meski sama-sama sebagai film dakwah, jika film ini di bandingkan dengan film dakwah yang sejenis, rasanya film ini lebih sempurna, karena dari sisi setting dekorasi dan editing sangat rapih. Dalam upaya menyajikan gambar Jogjakarta di era Pasca Perang Diponegoro (sekitar tahun 1886), sebuah survei lokasi yang cukup panjang dilakukan. Kebun Raya Bogor dengan hutan yang sangat lebat disulap untuk memotret kawasan Malioboro kala itu, sementara untuk memotret situasi Stasiun Lempuyangan, Hanung melakukan studi lokasi sampai ke Ambarawa.

Keunggulan film ini bukan sekedar dari sisi setting, namun dari sisi cerita, Hanung mencoba mengungkap bahwa persoalan Islam tak sekadar berkutat pada persoalan romantisme dan poligami namun lebih menyoroti persoalan hakiki ummat karena berhubungan dengan pemahaman sebuah agama. Yang ternyata, persoalan semacam ini sampai sekarang masih terus ada.

Dalam beberapa adegan, film ini memang menyampaikan kritikan Hanung terhadap pemahaman beberapa pemuka maupun kelompok agama Islam saat ini  yang menerapkan kekerasan sebagai upaya solusi terhadap perbedaan pemahaman. Salah satunya muncul dalam adegan dirobohkannya  Langgar Kidoel (mushola) Ahmad Dahlan serta di-kafirkannya Ahmad Dahlan karena dirinya meyakini bahwa kiblat yang selama ini dianut oleh jamaah masjid Gedhe Kauman adalah salah. Dahlan berpendapat, kiblat Masjid Gedhe Kraton Yogyakarta tidak mengarah ke Arab, tetapi mengarah ke Afrika. Secara langsung atau tidak, adegan ini akan mengingatkan siapapun yang menontonnya tentang masih adanya sejumlah ulama yang mem-fatwa kafir atau sesat kelompok Islam lain hanya karena mereka tidak sepaham dengan pemahaman mayoritas.

dahlan-2

Di samping itu, keterbelangan pemuka agama kala itu juga muncul dengan difatwa haramnya penggunaan alat musik, meja, kursi dan semua peralatan sekolah, karena dianggap sebagai hasil kreasi orang kafir. Oleh karena itu, film ini mencoba memotret suasana perjuangan Ahmad Dahlan dalam menyadarkan ummatnya, bahwa Islam itu agama yang melindungi semua golongan dan tidak identik dengan kekerasan.

Minim referensi
Memotret kehidupan Ahmad Dahlan sebagai tokoh pahlawan nasional tentu bukan perkara gampang. Sebab, pengejawantahan karakter tokoh ini dalam media sinema, akan menjadi referensi bagi puluhan juta warga Muhammadiyah tentang tokoh ini selanjutnya. Padahal, Hanung sendiri mengakui, referensi tulis tentang keseharian tokoh ini sangat minim.

Fakta-fakta baru tentang sisi humanisme Ahmad Dahlan justru didapat dari cerita tutur masyarakat sekitar Kraton Yogyakarta dan Kotagedhe. Oleh karena itu, dari sisi inilah Hanung mencoba mengangkat sosok Ahmad Dahlan sebagai seorang pembaharu dakwah Islam. Film yang dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan, menjadi sangat manis dengan dukungan bintang-bintang  lain dengan akting yang matang seperti Slamet Raharjo, Zaskia Adya Mecca, Idrus Madani, Sujiwo Tejo dll.   Rasanya, film yang menghabiskan dana sekitar 12 milyar ini layak menjadi referensi dan materi diskusi bagi sejumlah komunitas studi perfilman dan dakwah Islam.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Author: Sulistyawan (Kontributor)

Comments  

 
0 #5 2010-09-14 02:34
100 milyar???????? Yang bener aja kang.
Quote
 
 
0 #4 2010-09-13 07:04
Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh
Jika hati seputih awan, jangan biarkan dia mendung
Jika hati seindah bulan, hiasi ia dengan iman
Mohon maaf lahir batin
Quote
 
 
0 #3 2010-09-12 07:33
Film yang bagus untuk di perkenalkan ke generasi pemuda kita

Sukses selalu buat Mas Bramantyo, Terus berkarya Mas . . .
Quote
 
 
0 #2 2010-09-11 05:10
Sejauh ini, saya masih melihat film-film nondakwah (apalagi yang dibuat bukan oleh orang Indonesia – bangsa saya sendiri) justru jauh lebih manusiawi dan membumi. Mereka tidak berusaha menyodor-nyodorkan kebenaran mutlak, tetapi memberi kesempatan yang baik kepada kita semua (penonton) untuk merenung dan memetik nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Tidak jarang kemudian, setelah menonton film-film nondakwah tersebut banyak di antara kita yang spontan tergerak hati dan perilakunya untuk mengambil bagian dalam upaya-upaya pembangunan kemanusaiaan, humanisme, serta kehidupan secara luas.

Harapan saya, film “Sang Pencerah” ini (karena saya belum menonton, entah kapan bisa menontonnya karena saya tinggal di pelosok terpencil), pencapaiannya tidaklah terlalu sama dengan film-film dakwah lain yang sudah pernah ada, yang selalu hanya menyodor-nyodorkan kebenaran mutlak. Semoga!
Quote
 
 
0 #1 2010-09-09 08:32
salut buat bramantyo....
setelah laskar pelangi,kita rindu film2 bermutu mencerahkan
bukan dengan suguhan film2 horor tidak bermutu itu
salut
wah kayak apa setting jogya waktu itu yaa...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh