Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di…

Puisi-Puisi Sarah Monica

SANG PEMBURUDengarlah, hai sang penguasa waktu;tanahMu berhutang atas tiap denyut yang darahku getarkan,lautMu mengemis dari tiap garam yang aku teteskan,dan di puncak ubun-ubunku, langitMu tidak lagi merajaatas takdir yang kugoreskan sendiri di urat keningku.Di mana…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,lalu menangkapmu, memenjarakanmuseumur puisi.IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya…

Cerpen: Cawat dan Kutang Ibu

        Saya hampir lupa kapan terakhir Ibu membeli kutang dan cawat baru untuk memberi baju identitas perempuan-nya itu. Dulu Ibu adalah seorang pedagang pakaian, kembali saya ingat-ingat, Ibu memang tak pernah membeli kutang dan cawat,…

Cerpen: Mandul

Sudah lebih dari enam bulan aku tinggal di Jakarta. Meninggalkan kampung halamanku di Gunung Kidul karena tak lagi ada asa untuk bertahan hidup. Tanah di kampungku tak lagi bisa ditanami sayur-mayur, karena sebab panjang makin…

Sehimpun Diksimini - 35 Cerita Buat Seorang Wanita

Print
PDF

fiksimini1

Anjing
Ia berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.

 

Teka-teki Laki-laki yang Tak Kembali

Terkantuk-kantuk perempuan itu menunggu suaminya pulang. Terdengar kunci pintu dibuka pelan. Sejak itu suaminya tak pernah muncul.


Bayi

Tengah malam, bayi yang lapar itu terus menangis menjerit-jerit. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.


Jangan Membunuh Ular di Hari Minggu

Kau bermimpi, seekor ular menyelusup masuk telinga ibumu. Kau menjerit, dan cepat-cepat menghantamnya. Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.


Misteri Mutilasi

Ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan membuangnya ke kali. Polisi masih sibuk mencari pembunuhnya, sampai kini.


Api Sinta

Sinta berdiri di tepi api penyucian yang berkobar. “Masuklah..,” ujar Rama.”Bila kau belum terjamah Rahwana, api itu akan menyelamatkanmu.”

Sinta menatap pangeran tampan itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum akhirnya terjun dalam kobaran api. Semua yang hadir begitu lega ketika menyaksikan api itu perlahan padam: tubuh Sinta tak terbakar.

Hanya kedua payudaranya yang gosong.


Pengantin

Tak pernah ia bertemu perempuan secantik itu. Mengingatkannya pada Putri Tidur jelita. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan meminangnya. Tak ada yang tahu ketika ia membawa mayat itu ke kamarnya.


Kisah Seorang Psikopat

Sebelum polisi tiba ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.


TKI yang Pulang Kampung

Ia dikabarkan mati. Saat ia kembali, keluarganya sedih. Tengah malam ia pun menggantung diri.


Ambulan yang Lewat Tengah Malam

Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati.

Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.


Ulat dalam Kepala

Bocah itu begitu iba pada adiknya yang bertahun-tahun terbaring sakit dengan kepala yang makin membengkak. “Seperti ada ribuan ulat di otakku,” keluh adiknya selalu. Suatu hari bocah itu melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya.

Tengah malam, diam-diam, ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.


Mayat di Pinggir Kali

Mayat itu ditemukan telanjang di pinggir kali. Ia kemudian dilaporkan ke polisi dan dihukum lima tahun penjara karena dituduh melanggar Undang-undang Pornografi.


Sumur Tua di Belakang Rumah

Ada sumur tua di belakang rumahku. Setiap purnama air sumur itu memerah.

“Dulu,” cerita Nenek, “puluhan orang dibantai, dan dibuang ke dalamnya.” Sejak itu, siapa pun dilarang mendekat.

Tapi diam-diam aku suka ke sana. Menyaksikan bangkai mayatku mengapung di dasar sumur itu.


Matinya Seorang Pelawak

Tak ada yang tersenyum menyaksikannya di panggung. Ketika ia mati, semua orang tertawa.


Sarapan Pagi

Potongan daging busuk penuh belatung berceceran di lantai. Bau busuk meruap kamar gelap itu. Sumanto menikmati sarapan paginya dengan tenang.


Salju

Matahari begitu terik. Sebutir salju melayang jatuh di telapak tangan. Ia berteriak gembira. Sejak itu orang-orang menganggapnya gila.


Saat Paling Indah dalam Hidup Sepasang Suami Istri

Keduanya duduk di beranda, menikmati teh hangat, memandang senja yang bagai usia perkawinan mereka. “Ceritakan kisah paling lucu dalam hidupmu,” kata si istri.

“Ialah ketika aku membunuhmu,” jawab si suami.

Mereka pun tertawa.


Mudik Lebaran

Aneh sekali. Stasiun lengang dan sepi. Cuma ia sendiri. Sesekali terdengar lengking peluit. Tapi kereta itu tak juga muncul. Padahal ia sudah menunggu sejak lebaran bertahun lalu.


Berita dari Koran Pagi

Ayahmu menggampar ibumu sampai mati karena ia telah menggorok kamu yang dengan sadis membacok ayahmu hingga tewas hanya karena tak membelikanmu mainan.


Tamasya Keluaga Seorang Kerani

Liburan sekolah ini ia ingin mengajak anak-anaknya tamasya. “Meski miskin, sesekali perlu juga kita rekreasi,” katanya. Anak-anak bersorak gembira.

Menyisihkan sedikit uang gaji, digoncengnya anak-anak ke Kebun Binatang. Ia tersenyum menyaksikan mereka berlarian, main prosotan.

Mendadak ponselnya berbunyi. Dari istrinya, “Katanya mau ngajak liburan. Anak-anak nunggu di rumah nih!”

Buru-buru ia ngebut pulang. Tapi di tikungan sepeda motornya terguling dan truk yang melaju kencang langsung menyambarnya. Sedetik sebelum nyawanya melayang, ia tiba-tiba teringat kalau istrinya sudah meninggal setahun lalu.


Hiroko

Ia tak terbangun ketika bom atom itu meledak di sampingnya.


Reinkarnasi

Setelah mati di masa depan, aku terlahir kembali di masa silam sebagai diriku yang sekarang.


Pohon Hayat

Ketika kanak, kau mendengar kisah pohon rimbun di alun-alun kotamu. Setiap selembar daunnya luruh, seseorang akan mati. Pernah sebagian besar daunnya rontok ketika terjadi pembantaian.

Saat ini kau gemetar memandangi satu-satunya daun yang tersisa di pohon itu.


Ibu yang Menunggu

Anaknya hilang saat kerusuhan. “Mungkin diculik. Mungkin terpanggang api yang membakar pertokoan,” kata orang-orang. Sejak itu ia selalu duduk termangu di beranda, hingga larut.

Bertahun-tahun kemudian para peronda masih sering melihatnya duduk di situ, meski ia telah lama mati dan rumah itu sepi.


Halte

Terkantuk-kantuk kau duduk di halte menunggu angkot yang akan membawamu pulang. Begitulah, setiap hari, kau selalu pulang kerja selarut ini.

Angkot datang. Kau segera masuk. Ketika angkot itu kembali melaju, kau menegok ke jalanan sepi di belakangmu. Kau melihat dirimu yang tengah terkantuk-kantuk menunggu di halte itu.


Ramalan

Suatu kali seorang peramal mendatangi. “Kau akan mati ketabrak kereta api,” katanya. Padahal ia tak pernah dilahirkan.


Kasus Salah Tangkap

Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh kekasihmu. Padahal kekasihmu masih hidup. Kaulah yang mati.


Lelucon Seorang Badut

Ia suka menghibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.


Tabrak Lari

Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas.

Malam harinya, istrimu begitu sedih saat mendapat kabar kalau kau mati tertabrak lari ketika pulang kerja sore tadi.

Kau menangis menceritakan kisah itu padaku yang tadi pagi mati karna tabrak lari.


Seusai Pemakaman

Seusai dikuburkan, ia pun kembali ke rumah. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anaknya berlarian riang. Di pintu, mata istrinya berlinang.


Di Kafe

Sembari menunggu ia bercakap-cakap dengan tamunya yang tak pernah datang. Sampai kafe tutup. Dan ia pulang. Tapi pelayan kafe masih melihatnya terus duduk di kursi itu.


Alibi

Kau merasa senang karna akhirnya kau dibebaskan dari tuduhan. Polisi tak bisa mendakwamu, karna ketika kau terbunuh dan mayatmu ditemukan malam itu, kau memang tak ada di tempat kejadian.


Perempuan yang Mati Membakar Diri

Perempuan itu ditemukan mati gosong, sambil mendekap bayi yang disusuinya. Orang-orang yang mengangkat mayatnya bersumpah, kalau airsusu perempuan itu masih menetes-netes dari putingnya.


Pada Sebuah Kuburan

Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Bila pulang malam-malam, kau pasti merinding setiap melewatinya. Seperti ada suara yang terus melolong. Kau sedih setiapkali mendengar lolong itu. Lolong itu selalu mengingatkanmu pada kejadian bertahun lalu, ketika kau dulu mati dipotong-potong dan dibuang ke kuburan itu.


Sebutir Debu

Tepat, ketika sebutir debu itu jatuh menyentuh tanah, semesta ini pun meledak.


Agus Noor
Jakarta-Yogyakarta, 2008-2009
(Untuk Jenny Ang)

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #3 2010-09-28 04:15
kontemplatif, dab !!
Quote
 
 
0 #2 2010-09-27 10:10
Kata-kata singkat, tapi meledak seperti bom!
Quote
 
 
0 #1 2010-09-27 06:03
Mas Agus... kata-katanya seperti cabe rawit, terlihat sederhana tp terasa pedas....
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh