Wednesday, May 22nd

Last update08:13:06 AM GMT

You are here: Home

Bambu dan Botol Bekas dalam Instalasi “Gajah & Menapaki Jejak”

E-mail Print PDF

menapaki jejak 1

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Seekor gajah setinggi dua meter berdiri kokoh, gajah ini merupakan karya instalasi, disusun dari puluhan bambu yang dimodifikasi sehingga dapat melentur dan membentuk gajah, lengkap dengan gading dan belalainya. Berdekatan dengan instalasi gajah, pengunjung diajak masuk ke dalam terowongan, yang disusun dari kaleng softdrink dan botol minuman bekas, pencahayaan berwarna biru menambah kekuatan dalam karya rupa instalasi Hedi Hariyanto yang ia namai “Menapaki Jejak”.

Kedua karya instalasi dipertontonkan kepada pengunjung dalam pembukaan Festival Salihara ketiga, 23 September 2010- 20 Oktober 2010. Yang menarik dari dua karya instalasi adalah subjek material yang berbeda, bambu dan botol juga kaleng softdrink yang digunakan seniman sebagai ide dan proses kreatif.

58664_1581972426359_1147150384_1608426_7910021_n

Joko Dwi Avianto, pematung lulusan ITB Bandung 2007, memang kerapkali bermain-main dengan Bambu sebagai subject matter untuk berkarya, Untuk membuat instalasi Gajah yang terletak di samping gedung teater Salihara, ia kerjakan dengan bantuan dua tukang dalam proses selama satu minggu. Bambu yang berwana kuning didatangkan dari Bandung karena keterbatasan tumbuhnya bambu yang hanya didapatkan di pedesaan. Bambu yang bulat dan memanjang awalnya dipecah agar dapat melentur untuk membentuk tubuh gajah, dan di bawahnya dipasang penyangga yang kokoh untuk kaki gajah.

Joko pun pernah menggunakan bambu untuk membuat replika pulau Jawa dengan menggunakan 300 batang bambu di Galeri Ciputra World, dalam waktu dekat  Joko akan membuat instalasi Dinosaurus di salah satu Mall Jakarta yang tentunya membutuhkan ketekunan keras untuk menjadi karya rupa dengan bentuk dan ukuran luar biasa. Ketertarikan Joko akan bambu karena baginya bambu yang identik dengan alam yang tumbuh seakan-akan tanpa campur tangan teknologi, memiliki nilai guna yang besar untuk masyarakat, dan dengan kreativitas, ia ikut melestarikan bambu menjadi karya bernilai seni ekslusif dengan bahan alam.

Material dari kaleng dan botol bekas minuman mineral disulap menjadi terowongan berukuran 153 cm x 180 cm, sebenarnya ada dua terowongan yang menghubungkan dari lantai bawah ke Galeri Salihara. Terowongan pertama sepanjang 308 cm dan yang kedua 410 cm. Hedi Hariyanto pematung asal Malang lulusan ISI Yogyakarta membuat terowongan dengan susunan dan komposisi yang begitu rapih dan kokoh, pilihan pencahayaan berwarna biru memancarkan spektrum cahaya yang kuat untuk ruang dalam terowongan. Hedi memberikan makna dari instalasinya, “Dalam dunia kapitalisme mutakhir, kita sebenarnya meneruskan atau mengikuti apa yang telah ditempuh orang lain, terutama dalam soal mengonsumsi makanan dan minuman. Semua itu terjadi karena rayuan iklan.”

Kedua karya instalasi dengan ciri khas keunikan, bahan, dan visual bukan hanya sekedar untuk dipamerkan. Joko dan Hedi menyusun, mengkontruksi, dan mengekspresikan benda untuk menciptakan ruang dan memberinya identitas dengan suatu pesan dan nilai, agar publik merespon dari konstektual makna.


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #1 2010-10-09 17:07
salut! trnyata bambu gak cuma dibikin kerajinan anyaman dan gazebo..
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Twitter Updates