Thursday, Jun 20th

Last update12:47:50 PM GMT

You are here: Home

Aja Dumeh : Ketika Tentara Bersenirupa

E-mail Print PDF
dumeh-1

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Militer dan kesenian adalah dua dunia yang berbeda. Namun, kedua dunia ini mampu disatukan secara sempurna lewat sosok Marsekal Muda TNI Sudjadijono, SE dan Kolonel Purn. H. Totok Sudarto. Melalui dampingan perupa Djoko Pekik, kedua tentara ini menggelar pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta.

Pameran bertajuk "Aja Dumeh" yang digelar 9 - 16 Oktober ini tentu saja menarik. Sebab, melalui pameran ini kita dapat melihat dunia terdalam para tentara dari sisi seni rupa. Kita dapat mengamati pergolakan batin dan olah rasa para tentara yang selama ini nyaris tak pernah terlihat di permukaan. Melalui karya-karya yang dipamerkan, kita dapat melihat bahwa ternyata mereka punya sisi-sisi  halus yang sangat manusiawi. Misalnya saja, tak banyak orang yang tahu bahwa Marsda. TNI Soedjadijono ternyata sangat dekat dengan kesenian wayang. Bahkan, mantan Asisten Panglima TNI ini juga mahir melakonkan tokoh-tokoh wayang. Sementara dalam diri Kol.Purn. Totok Suharto, ternyata banyak menyimpan kekaguman terhadap alam sekitar.

dumeh-2

Secara keseluruhan, "Aja Dumeh" seolah ingin menyampaikan pesan kepada setiap pengunjung bahwa pada hakekatnya manusia akan kembali sebagai manusia biasa. Pangkat dan jabatan semua hanya titipan yang tak pantas terlalu dibanggakan. Sebab, semua yang dititipkan pada manusia suatu saat akan diambil Yang Maha Kuasa.

Kurator Seni Rupa asal Jogjakarta, Kuss Indarto, menilai pertemuan dua orang tentara; Marsekal Muda Sudjadijono dan Kol.Purn. H.Totok Sudarto dengan perupa Djoko Pekik dalam satu ruang banyak memunculkan nilai-nilai ekstra estetik dari mereka. Bahkan tema "Aja Dumeh" yang merupakan spirit budaya Jawa, dapat dibaca lebih dalam lewat pameran ini secara bersama-sama. "Aja Dumeh (jangan mentang-mentang –red) menjadi sangat kontekstual untuk menelusuri situasi sosial yang sangat mutakhir," ujar Kuss.

Ditambahkan Kuss, melalui perspektif Sudjadijono kita dapat memberi tafsir bahwa kita jangan mentang-mentang berkuasa lalu tak mau turun ke bawah dan duduk bersama rakyat kecil. Sementara dari sisi Djoko Pekik, publik bisa mengandaikan tafsir bahwa kita jangan mentang-mentang  menjadi bintang bagi para seniman lalu serta merta menjaga jarak terhadap ruang sosial dan penghuninya. Padahal selama ini justru jarak dan ruang sosiallah yang membentuk kebintangannya, sehingga nilai lukisan Pekik pernah menyentuh angka Rp.1 Milyar; suatu angka yang bagi sebagian besar perupa hampir tak pernah terbayangkan.

Sementara dari sisi Totok Sudarto, dunia visual sesungguhnya bukan hal yang sangat baru. Sejak masih muda, Totok memang sudah gemar melakukan olah visual. Bahkan, ketika menjabat sebagai Wakil Bupati dia pernah mengumpulkan seniman untuk melakukan pameran bersama di rumah dinasnya. Karena itu, melalui pameran ini, pesan Aja Dumeh dapat dimaknai sebagai: jangan mentang-mentang pernah punya pengaruh dan kekuasaan maka tak mau lagi belajar pada sesamanya. Sebab, hidup adalah sebuah proses, dimana manusia harus terus belajar memaknai kehidupan.


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #1 2010-10-25 14:35
tentu butuh kehati hatian dalam memilih tema dimana dalam seni seorang seniman tercetak sebagai pengincar rasa dan kelembutan yg tentu sangat jauh dengan sosok yg memang dilatih menjadi mesin bunuh

semoga incaranya tidak terfokus pada angka Rp.1 Milyar nya Pak Joko Pekik yg tentu saja pernah terincar peluapan rasanya di masa lampau
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Twitter Updates