Thursday, May 23rd

Last update08:13:06 AM GMT

You are here: Sosok Love Me Or Die: Hasrat dan Gairah Menaklukan

Suara Lirih dari Sungai Bedog

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Raungan sirine terdengar mengaum memekakkan telinga. Ratusan pengunjung yang hadir di tepi sungai Bedog pun menutup telinga mereka. Sementara itu di atas rakit perupa Joko Pekik melarung sebuah lukisan "Celeng" (babi hutan) di aliran Sungai Bedog yang sangat der...

Sensasi Youtube dan Artis Karbitan

    Sudah hampir dua minggu belakangan ini publik dicekoki oleh aksi Briptu Norman Kamaru, seorang anggota Satuan Brigade Mobil (Brimob) Gorontalo yang mendadak melejit namanya karena goyang India-nya di Youtube. Stasiun televisi seperti tidak bosan-bosannya menyetel lagu India dan menyorot...

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fa...

Melawan Arogansi Dengan Kirab Budaya

    IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jogja memang istimewa. Ketika polemik  status keistimewaan Propinsi DIY tak juga ada kejelasan, rakyat pun melawan. Tidak dengan  sikap anarkis dan angkat senjata, tetapi dengan sebuah Kirab Budaya. Ini sebuah perlawanan khas rakyat Jogjakarta, ...

Membicarakan “Namaku Mata Hari” dan “Max Havelaar”

    IndonesiaSeni.com, Bandung - Pada 13 Desember 2010 lalu, diadakan acara bertajuk “Sejarah dalam Novel dan Film” oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) bekerjasama dengan Penerbit Gramedia dan Perpustakaan Batu Api di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran...



Love Me Or Die: Hasrat dan Gairah Menaklukan

E-mail Print PDF
Entang Wiharso bersama salah satu karya instalasinya

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Mengamati pameran tunggal Entang Wiharso “Love Me Or Die”, pengunjung seakan diajak untuk memasuki tamasya visual yang  estetik dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan multitafsir. Karya yang bermain dengan liar, mencampurkan fakta dan fiksi; di dalamnya ada emosi, hasrat, peristiwa, dan imajinasi. Karya yang misterius sekaligus menghidupkan, yang idenya tercetuskan oleh satu fondasi tunggal, bahwa semata-mata kedalaman cinta akan menimbulkan hasrat  dan gairah menaklukan dan mematikan.

Pameran “Love Me or Die” berlangsung 21-31 Oktober 2010 di Galeri Nasional Indonesia. Entang Wiharso, seniman kelahiran 1967, lulusan ISI Yogyakarta, memilih kata cinta untuk tema pameran, dengan tafsiran bukan cinta yang bermanis-manisan dan membahagiakan. Tetapi cinta yang menguasai dan mematikan karakter seperti kekuasaan politik, modernisme, fanatisme agama, ataupun cinta antar personal yang hanya mengagungkan persoalan sensualitas dan kepemilikan.


Entang membongkar nilai-nilai realitas dari tipuan keindahan cinta. “Cinta itu sifatnya seperti air, kalau ditaruh di batu akan menjadi batu, di meja akan menjadi meja dan setiap orang menginginkan kematian yang baik maka seharusya manusia harus tepat untuk memilih cinta,” Kata Entang dalam wawancara. Ungkapan tema cinta yang dikorelasikan dalam bentuk karya seni Entang, diungkapkan Jim Supangkat selaku kurator pameran, “Karya ini ingin menampilkan cinta yang mengandung paradoks. Bagaimana cinta bisa berkembang ke rasa memiliki dan bagaimana rasa memiliki bisa menjadi hasrat menguasai.”

Entang Wiharso memvisualisasikan karya dalam sosok figur-figur manusia dan hewan, pertama dalam bentuk Instalasi dinding yang menempel di pagar, tembok bangunan dan di dinding ruang, kedua dalam bentuk patung dengan kulit yang bercorak hewan sebagai simbol dimana banyak orang menggunakan warna kulit untuk membedakan identitas dan menimbulkan permusuhan. Ketiga, dalam bentuk lukisan dengan panorama dengan aktivitas figur-figur manusia telanjang dengan muka menyeringai di atas lukisannya.

Kecenderungan penggunaan teks hampir memenuhi seluruh karyanya untuk menyusun statement yang kuat, menyampaikan persepsi dan melengkapi bentuk rupa, seperti instalasi mobil yang dilengkapi dengan tulisan “Aaah pusing… Sialan… jalannya macet, Polusi udaranya gila lagi, Suara gaduh apaan tuh”.  Kekuatan teks-teks yang disusun merupakan hasil ketekunan Entang dalam mengumpulkan teks dari berbagai sumber sejak tinggal di Amerika Serikat pada pertengahan 1990. Dan Entang mengungkapkannya bukan dalam tafsiran tunggal agar terdapat jeda berpikir bagi apresiator untuk menafsirkan makna secara personal. 


Figur-figur karyanya juga membangun bentuk teatrikal seperti hasrat pamer, dramatisasi, ungkapan hiperbolik dan komunikasi satu arah seperti dalam patung-patung manusia, berkulit binatang dengan lidah yang menjulur seperti anjing. Fenomena politik dan kenyataan di negeri ini diapungkan Entang dalam ide karya pameran. Seperti kerusuhan Mei 2008, aksi demonstrasi serta reformasi yang berujung pada turunnya penguasa orde baru. Entang melihat kondisi masyarakat yang seakan memuja kekerasan dan menikmati kekerasan karena daya paksanya membuat mereka berkuasa. Kepenatan akan kekuasaan yang sentral dengan embel-embel kecintaan akan negerinya menjadi fenomena kekerasan hingga di jalanan. Properti pisau, pistol, pedang, dan gergaji mencerminkan kekerasan yang mengerikan dan memiliki kekuatan menghardik siapapun.

Pandangan Entang dalam melihat realitas baik potret diri, masyarakat dan lingkungan, tidak hanya dari permukaan, tetapi lebih detail dan mendalam seperti halnya cinta dengan hasrat menaklukan. Karyanya menyajikan eksplorasi dan olahan karya yang memikat dengan kekuatan imajinasi, teks dan simbol. Entang menggeliat dengan nikmat di setiap peristiwa-peristiwa, dengan respon dan reaksi melalui karyanya yang kritis dan memikat.
(Foto: Ratu Selvi Agnesia/Chandra Irawan Hartadi)


Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Add comment


Security code
Refresh

  •    Latest News   

  •    Most Read   

  •    Hot News   

Twitter Updates