| 15 November 2010

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Di pulau ini tidak ada yang diperkosa, baik fisik maupun mental, yang ada hanyalah norma-norma sosial yang disebut toleransi.
Kata pulau adalah kata yang akrab di telinga. Setiap mendengar kata pulau mungkin yang pertama kali terbayang adalah tentang keindahan, kesenangan dan kebebasan, dan secara bersengaja akan mengatakan pulau kebahagiaan itu ada di pulau Bali. Pulau yang sangat seksi. Mungkin pemikiran dan pernyataan tersebut tidaklah salah. Yang pasti setiap orang, memiliki pulau idamannya masing-masing, baik pulau yang ada di dalam negeri maupun pulau yang ada di luar negeri.
Namun pertunjukkan drama musikal yang disutradarai oleh Joko Anwar, diproduseri Afi Shamara dan dikoreograferi oleh Eko Supriyanto ini juga memiliki pulau, pulau itu dikenal dengan sebutan pulau "ONROP”. Pertunjukan drama musikal "ONROP" ditampilkan di Taman Ismail Marzuki mulai tanggal 13 sampai 21 November 2010. Alkisah, pada suatu tahun tertentu, untuk membersihkan masyarakat dari para perusak moral, pemerintah membuat sebuah pulau, sebagai tempat pembuangan atau tempat isolasi, nama tempat itu tidak lain dan tidak bukan adalah pulau Onrop. Pulau Onrop juga dikenal dengan nama lain sebagai neraka bumi yang menjelma menjadi pulau cinta.
Drama musikal yang berbau komedi dan teater tersebut juga sangat kental dengan aroma-aroma cinta, kebersamaan dan sarat akan kritik sosial. Kritik akan kebiasaan yang kerap kali dilakukan masyarakat, baik masyarakat apalagi pemerintah. Hukum yang hanya menjadi panglima dalam kata-kata dan perundang-undangan, aturan dan pelarangan hanya untuk si miskin, bukan untuk yang kaya maupun penguasa. Meskipun pertunjukannya sarat akan kritik dan pesan, juga dapat membuat para penikmat tersadar dan tertawa besar.
Standar Moralitas
Di negeri ini, tak ada lagi standar moralitas yang jelas dan tegas. Tak ada kemanusiaan, yang ada hanyalah semua orang terbuang dalam kemasukan. Siapa yang punya kuasa, maka dialah yang dapat berbicara dengan tegas. Siapa yang tak punya kuasa maka bersiaplah untuk selalu tertindas. Tak ada kejelasan akan nasib dan kehidupan. Tak ada keantasan akan perjalanan dan perjuangan, semuanya hanyalah topeng yang diperjual belikan dalam meja-meja pengadilan, yang terangkup dalam bab-bab keputusan. Dan Onrop adalah jawaban dari setiap kesalahan.
Semula pulau Onrop hidup dalam cerita yang amat menyeramkan. Seyogiyanya neraka, yang ada hanya keperihan, pembantaian dan penghukuman atas tindak lagu yang pernah dilakukan setiap manusia sebagai wujud pertanggung jawaban yang nyata. Dikisahkan, Bram Anungtio merupakan seorang penulis novel religi yang terkenal. Tak sedikit orang yang belajar bahkan berkiblat dari novel-novel ciptaannya. Hingga dalam suatu peluncuran novel terbarunya, secara bersengaja ia mengucap kata terlarang. Sejak dari situlah dia mulai dipisahkan dari kekasihnya, Sari. Diadili secara tidak adil, tak ada pembelaan, yang ada hanyalah pengkerdilan atas hak. Sampai pada akhirnya ia diputuskan untuk dilempar ke pulau Onrop.
Sepelemparan Bram dalam pulau Onrop, yang terasa amat menyengat adalah ketakutan. Ajal seakan sudah dekat. Ternyata cerita kebanyakan tentang pulau Onrop hanyalah cerita yang berbalik arah. Pulau Onrop tak seperti ia dengarkan dan perkirakan. Tak ada kata saling memakan, semua yang hidup di sana hanyalah orang-orang yang berbadan aneh, seperti penis panjang terjulur ke luar, perilaku aneh, dan tindakan-tindakan yang aneh. Namun ia juga mendapatkan kebebasan akan kehidupan. Yang mana setiap makhluk bebas melakukan apapun yang diinginkan. Onrop yang menyeramkan seketika menjelma menjadi Onrop pulau cinta dan ingin bersegera mengajak sari untuk berdiam di sana.
Meskipun demikian Bram, tetap merasakan kehilangan. Kehilangan kota kecintaan, kehilangan orang-orang terkasih, khususnya Sari. Rasa kehilangan tersebut kemudian tergambar jelas dalam lirik-lirik lagu ciptaan sang sutradara, yaitu “Kangguru nggak boleh lompat-Anaknya nangis basah di kantungnya-Banyak hadiah nggak bersyarat-Kalo nggak ada kamu apa gunanya”. Perasaan serupa juga tergambar dalam lirik berikut ini “Oh Baby, sayang kau lah kipas angin waktu kemarau-Sayang, kau lah pemberi semangat waktu parau-Sayang, aku dan kamu saling melengkapi-Sayang, ke manapun kamu pergi pasti aku ikuti”.
Bagaimana kerinduan dan kritik digambarkan secara jelas dan tegas dalam satu pertunjukan drama musikal yang secara otomatis turut memberikan warna serta hiburan bagi para penikmat pertunjukan. Pertunjukan drama musikal Onrop, seakan memberikan penerangan bahwa, di pulau ini tidak ada yang diperkosa, baik fisik maupun mental, yang ada hanyalah norma-norma sosial yang disebut toleransi. Bagaimana toleransi dan norma kemanusian sangat berperan dalam menstabilkan keberingasan dan kerakusan-kerakusan yang ada melanda negeri.
Frans Ed Purba,
Penulis Lepas, Tinggal dan bekerja di Jakarta
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites









