
Dalam bahasa sederhananya, subjek merupakan pelaku dari keseharian, pelaku dari sebuah penciptaan juga dalang dari segala keadaan, baik yang tercermin pada masa lalu, sekarang maupun pada masa yang akan datang. Sedangkan objek merupakan bahan-bahan yang dijadikan subjek dalam pembentukan suatu keadaan, dalam penciptaan suatu karya, baik karya lukis maupun patung. Keadaan yang bahagia, luka, duka, kecewa yang berserakan dalam pergumulan sehari-hari. Pergumulan yang kerap kita temukan dalam kehidupan pemerintahan, politik, hukum, perekonomian, pekerjaan, kesenian, kesusastraan, dan kebudayaan masyarakat.
Sedikit banyaknya pergumulan interaksi tersebut terangkum secara jernih dan tegas dalam pameran seni visual “Huru-hara Hero”, dikuratori oleh Wicaksono Adi, dan berlangsung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 5 - 14 November 2010. Konteks pengalaman dalam berkarya tersebut kemudian melibatkan para seniman, yaitu Ady Laksono, Dwiko Rahardjo, Vincensius, masPadhik, Hari Mulyanto, Bambang Winarno, Iskandar, Puguh Cahyono, Sumarjo, Agus Prayitno, Herman Widianto, dan Widiyanto.

Tersebab suatu tindakan yang dilakukan seoarang subjek terhadap sebuah benda kemudian berakibat suatu keadaan, baik keadaan yang baik maupun keadaan yang buruk, secara langsung maupun tidak langsung dirasakan. Tersebab suatu kebijakan yang tidak berpihak-berakibat suatu menyengsarakan, begitu pula sebaliknya, tersebab suatu kebijakan yang berpihak-berakibat suatu kondisi yang memanusiakan, kondisi yang menyejahterakan masyarakat secara luas tanpa terkecuali. Dengan kata lain, sekecil atau sebesar apapun keputusan dan tindakan setiap orang akan melahirkan sebuah akibat.
Tak ada keputusan atau pun tindakan yang tidak menghasilkan akibat. Tinggal bagaimana mengelola ide, kebijakan, keputusan tersebut sehingga menghasilkan tindakan yang berkualitas, tindakan yang bermanfaat, baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun terhadap pembangunan bangsa dan negara. Namun apabila tindakan subjek terhadap suatu objek yang kurang baik, bagaimana cara yang efektif dan manusiawi untuk memperkecil volume resiko yang harus dijalani.
Artinya konteks pengalaman berkarya sangat erat berkait dengan interaksi kemanusiaan secara sosial, yang kemudian secara otomatis melahirkan hukum sebab akibat yang tak dapat dihindari. Konteks dalam hubungan tersebut juga terkait erat dengan kepribadian pengkarya (seniman) dengan diri maupun lingkungan, yang kemudian tertuang dalam karya.
Penulis Lepas, Tinggal dan bekerja di Jakarta
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
“Huru Hara Hero”, Antara Pengalaman dan Karya









Comments
RSS feed for comments to this post.