Proyek-proyek Keterasingan Sosial

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Adalah Louis Malle seorang sutradara Perancis (1932-1995) yang banyak memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia perfilman Perancis maupun dunia internasional. Louis juga merupakan seorang yang kali pertama memperoleh pengakuan sebagai anggota Gerakan Aliran Baru (New Wave) Perancis pada dekade 1950-an. Pada dekade tersebut ia juga pernah menyutradarai beberapa film terkenal yang terdiri dari beberapa genre, visi dan cakupan-cakupan nilai perfilman.
Film-film karya Louis Malle cenderung mengangkat dan membahas tentang persoalan-persoalan kehidupan pribadi, yaitu kehidupan yang berfokus keterasingan sosial—keterasingan seseorang akan diri dan lingkungannya—keterasingan sosial yang sangat mengikat kebebasan seseorang dalam suatu suasana dan kondisi peradatan serta kondisi kehidupan.
Beberapa film Louis yang mengangkat cerita tentang keterasingan sosial tersebut berjudul The Lovers. Film ini diputar pada hari Jumat, tanggal 26 November di Bentara Budaya Jakarta. Tidak hanya film ini saja yang diputar, ada beberapa film lain karya-karya dari Louis Malle sang sutradara terkenal Perancis yang juga diputar. Beberapa diantaranya yaitu Elevator Gallows, Lacombe Lucien, Pratty Baby, Au Revoir Les Enfants, Damage. Film-film tersebut diputar pada 26 – 27 November di Bentara Budaya Jakarta. Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, hal atau pelajaran apa yang dapat dipetik dari film-film karya Louis Malle? Seberapa jauh keterkaitannya dengan kondisi budaya di Indonesia?

Tradisi yang Mengikat
The Lovers merupakan salah satu film yang banyak mengangkat tema-tema kritik sosial dan keterasingan sosial, yang merupakan cerminan dari budaya Perancis maupun beberapa budaya yang ada di dunia termasuk Indonesia. Cerminan dan keberanian inilah yang kemudian sedikit banyaknya memberikan beberapa kritik, masukan terhadap kondisi serta penyelesaian terhadap suatu masalah dan permasalahan.
Kritik dan cerminan budaya tersebut tampak pada film The Lovers, yang sedikit banyaknya menceritakan tentang kehidupan seorang ibu rumah tangga yang diperankan Jeane Moreo. Dalam ceritanya, Jeane bosan memainkan peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, terlebih karena keterikatannya pada hukum tradisonal yang berlaku dalam keluarganya, yaitu hukum yang mewajibkan sang istri (perempuan) terikat dan turut pada suami.
Kondisi tersebut secara tidak langsung mengekang dan mengikat kebebasannya dalam berlaku sebagai seorang manusia. Kondisi tersebut pulalah yang kemudian melahirkan sebuah konflik dalam suatu rumah tangga, yang mana sang istri agak sedikit keberatan dengan sikap dan perlakuan sang suami yang sedikit banyaknya bersikap dan berperilaku otoriter dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian sang istri sadar bahwa kebebasannya sebagai seorang manusia sedang dirampas, kebebasannya sebagai seorang istri lambat laun semakin dihilangkan, dengan kata lain selalu bersikap dan bertindak sesuai dengan keinginan serta persetujuan sang suami. Dalam cerita ini kemudian sang istri sadar, bahwa ia harus membebaskan diri, ia tak boleh terlalu lama terkekang dalam suatu sistem yang tidak ia sepakati dan sukai.
Salah satu bentuk protesnya mulai dari postur berpakaian hingga pada penolakan pelaksanaan terhadap suatu perintah yang diberikan sang suami pada sang istri. Hingga pada suatu hari, di tepi jalan yang lengang dan sunyi ia bertemu dengan seorang arkeolog muda yang tampan yang diperankan oleh Jean-Marc Bory. Bory pun diajak menginap dan tinggal dalam rumahnya. Hal tersebut pulalah yang secara tidak langsung menyulut rasa saling suka atau cinta terpendam diantara Jeane dan Bory, yang kemudian melahirkan perselingkuhan diantara keduanya.
Seiringi berjalannya waktu, rasa cinta Jeane pada Bary bertumbuh subur, demikian juga halnya dengan Bary. Yang mana secara tidak langsung Bary memberikan kenyamanan pada Jeane, selain itu pula Jeane juga mendapatkan kebebasanya sebagai seorang perempuan dan istri dari seorang Bary. Hal ini pulalah yang semakin menumbuhkan rasa saling cinta dan rasa saling memiliki pada kedua pasangan selingkuhan tersebut.
Hingga pada akhirnya mereka melakukan hubungan persebadan secara sadar dan memutuskan untuk hidup dan tinggal bersama, dengan kata lain Jeane lebih memilih Bary tinimbang suaminya sendiri. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah dan membebaskan diri dari keterkungkungan aturan-aturan adat yang secara tidak langsung mengekang kebebasan sebagai seorang istri. Meskipun demikian, Jeane sebagai seorang manusia biasa masih merasakan ketakutan-ketakutan kecil dan besar terhadap dampak apa yang akan terjadi pada sikap, tindakan dan keputusan yang ia pilih.
Dengan keinginan serta tekat yang kuat untuk mendapatkan suatu kebebasan yang selama ini ia cari serta idam-idamkan, akhirnya Jeane dan Bary pun melarikan diri dari suami dan rumah tingalnya, dengan kata lain lebih memilih bary dan kebebasan. Cerita dalam film tersebut merupakan gambaran kondisi kehidupan dan budaya dalam peradaban Perancis dan beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Film tersebut juga turut memberikan sumbangan ide dan jalan ke luar dalam penyelesaian masalahnya, tinggal bagaimana setiap orang dan bangsa dalam menyikapi permasalahan dengan bijak dan tepat.
Frans Ed Purba,
Penulis Lepas, tinggal di Jakarta
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites








