Menilik Fundamentalisme Agama Lewat Film "Khalifah"

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Tema reliji masih menjadi tema yang menarik untuk dituangkan ke dalam sebuah film bagi sutradara generasi baru Indonesia, Nurman Hakim. Setelah sukses menghadirkan lika-liku kehidupan dunia pesantren dalam filmnya terdahulu, “3 Doa 3 Cinta”, kini ia kembali dengan film berlatar belakang agama berjudul "Khalifah" yang akan diluncurkan dalam pemutaran perdana pada 3 Januari 2011 dan akan beredar di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia mulai 6 Januari 2011.
Film ini mengangkat kisah seorang perempuan bernama Khalifah ketika ia harus menjalani identitas baru setelah menikah dengan Rasyid, laki-laki yang tidak ia kenal sebelumnya. Khalifah yang bekerja di sebuah salon kecantikan harus menghadapi suaminya yang ternyata menganut ajaran Islam ”garis keras”. Dalam kehidupan masyarakat tempat tinggalnya, Khalifah juga mengalami ketidak nyamanan karena sikap kaum lelaki yang cenderung kurang menghargai perempuan. Pernikahannya kemudian mengharuskan ia mengenakan kerudung cadar yang hanya memperlihatkan bagian matanya. Pakaian yang menjadi identitas barunya itu ternyata telah membuatnya tereksklusi dari lingkungannya. Tapi pada saat yang sama diam-diam dia menemukan semacam ”kebebasan” karena dengan pakaiannya itu dia dapat melihat orang lain dari sudut pandang yang berbeda. Sementara itu hubungannya dengan Yoga, tetangga depan rumahnya membentuk dunia lain bagi dirinya, memberikan warna yang lain dalam hidup Khalifah. Yoga yang berusaha memahami Khalifah dengan cadarnya, adalah representasi dari cinta yang tidak memandang fisik semata.

Khalifah mengalami komplikasi psikologis dan sosial akibat identitas barunya itu. Suatu komplikasi yang membuat dirinya semakin sulit menemukan siapa dirinya yang sebenarnya dan bagaimana sosok, karakter, pikiran serta dunia Rasyid. Dia juga kian sulit memahami apa arti agama. Identitas baru itu terkadang menjadi semacam ruang ”perlindungan”, tapi pada saat lain menjadi tembok yang membuatnya terasing dari dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Menurut Nurman Hakim, film ini hendak menilik fenomena Islam ”garis keras” yang selalu muncul di dunia Islam kapan pun dan di mana pun, termasuk di Indonesia. Suatu ajaran yang cenderung eksklusif dan mendapat banyak tantangan dari kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat Indonesia yang plural. Suatu fenomena yang kadang menimbulkan pertentangan, konflik, bahkan juga benturan yang sangat keras. Nurman Hakim, yang juga bertindak sebagai penulis skenario film ini, mengangkat permasalahan tersebut melalui sudut pandang dari orang-orang yang terlibat atau berada di dalam kelompok ”garis keras” tersebut. Yakni suatu tilikan ”dari dalam” sehingga dapat melihat berbagai dimensi persoalan secara lebih jernih dan komprehensif.
Film ini dibintangi oleh Marsha Timothy yang memerankan Khalifah, Indra Herlambang (Rasyid), Ben Joshua (Yoga) dan beberapa bintang pendukungnya, Jajang C Noer, Titi Sjuman dan Yoga Pratama. Penata Kamera ditangani oleh Agni Ariatama, penata musik oleh Djaduk Ferianto, editing oleh Mujibur Rahman dan Nurman Hakim. Film Khalifah diproduksi oleh TriXimages bersama Frame Ritz. TriXimages adalah sebuah Production House yang diprakasai oleh Nan Achnas dan Nurman Hakim yang telah memproduksi beberapa film panjang, dokumenter dan film pendek.
Nurman berharap kehadiran film Khalifah akan turut memperkaya khazanah perfilman Indonesia, khususnya film berlatar belakang kehidupan agama - dalam hal ini agama Islam - yang akhir akhir ini banyak muncul. Film ini melihat konteks kehidupan agama dalam dimensi-dimensi yang lebih mendasar sehingga memberikan pengayaan dan pencerahan cara pandang kita, tak hanya terhadap masalah kehidupan Islam, tapi lebih luas dari itu juga terhadap masalah kebangsaan di negeri ini.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites









Comments
RSS feed for comments to this post.