
“Hinalah derajat keturunanku. Aku calon Arang, akan membinasakan hingga akar derajat keturunannya”
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Petikan di atas merupakan deretan percakapan dalam cerita rakyat Jawa-Bali, pada abad ke-12 yang dibawakan dalam Festival Teater Jakarta (FTJ) 2010, yang berlangsung di gedung Teater Kecil dan Teater Luwes, Taman Ismail Marzuki, tertanggal 16-24 Desember 2010. Meskipun tidak tampil sebagai pembuka, kelompok teater Stage Corner Community, dengan sutradara Dadang Badoet yang membawakan pertunjukan yang berjudul, Ni Rangda. Karya yang berangkat dari tafsir bebas buku, Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer tampil cukup memukau.
Nuansa mistis, yang menghidupkan imajinasi, tampak secara jelas dari fasilitas/property pendukung, seperti bambu-bambu yang tergantung menyerupai jarum, topeng, lampu dan latar panggung lainnya turut menambah aroma tradisonal nan mistis dalam pertunujukkan. Hal senada juga disampaikan Diyanto, pengamat pertunjukan teater yang berasal dari Bandung. Bahwa pertunjukan tersebut adalah persolan yang sangat sugestif, disuguhi dengan perhitungan yang sangat estetis. Persoalan sesuatu yang mencemaskan sudah dititipkan sejak awal. Bunyi dan unsur visual semuanya bergerak dengan teks, yang reaksinya dapat dibaca. Dan semuanya bermain dengan magic realitas.

Sutradara Dadang Badoet yang juga memerankan tokoh Wisersa, beserta Yg. Threenov Syang berperan sebagai Calon Arang, Sintya Syakaraw yang berperan sebagai Ratna Manggali, dan Pemila Sari yang berperan sebagai Rangda sekaligus sebagai koreografer dan penari itu kembali menghidupkan suatu peristiwa masa lampau yang terjadi pada suatu tempat. Dan dendam Nyai Calon Arang atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ni Rangda adalah ide pokok dari pertunjukan kali ini. Lantas yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, seberapa dahsyatkah dendam Nyai Calon Arang tersebut, dalam hidup dan kehidupan sekelompok masyarakat yang ada dalam satu desa?
Derajat Keturunan
Alkisah, di kampung Girah, hiduplah Ni Rangda, si Calon Arang, seorang janda penguasa ilmu hitam beserta putri kesayangannya Ratna Manggali. Dalam kehidupannya Ni Rangda si Calon Arang, telah memberikan seluruh hidupnya, demi derajat dan keturunannya, demi harga dirinya sebagai janda (rangda) dan sebagai ibu. Juga sekotor debu, tak dibiarkannya melekat mengotori keturunannya. Siapa yang berani mengusik, apalagi mengganggu Ni Rangda, akan disikat secara cepat.
Kampung Girah seketika menjelma menjadi sebuah kampung yang sedemikian menakutkan. Terlebih lagi ketika dendam mulai dinyalakan. Dendam terhadap masyarakat kampung yang kerap mengusik Calon Arang, terlebih mengusik Ratna Manggali, putri kesayangan sekaligus putri kehormatannya. Putri cantik jelita. Ratna Manggali adalah seorang putri yang cantik jelita, serupa kembang desa. Namun sayang, kecantikannya tak membuat mata para lelaki terbelalak dan terpikat. Alasannya tidak lain dan tidak bukan, karena ketakutan para lelaki pada ilmu-ilmu hitam yang dimiliki Calon Arang.
Ratna Manggali juga merupakan seorang putri yang patuh pada setiap perintah ibunya, tak sekali pun ia menolaknya. Ratna selalu diminta untuk menyiapkan ruang pedupaan oleh sang ibu, yang sekaligus tanpa disadari Ratna terdorong masuk dalam ritual-ritual pemujaan dan persembahan terhadap dewa-dewa jahat yang kerapkali dilakukan sang ibu. Namun hal tersebut tak berlangsung cukup lama, terlebih ketika Ratna Manggali mulai menyadari perbuatan yang dilakukan sang ibu sudah terlampau jauh dan melebihi batas wajar. Sudah banyak penduduk kampung terbunuh oleh ilmu hitam dan murid-murid Calon Arang. Perang demi perang dilakukan melawan masyarakat kampung. Benturan batin Ratna Manggali yang begitu besar tak kuasa menahan amarah, benci dan dendam kusumat yang ada dalam batin Ni Rangda si Calon Arang. Terlebih ketika mendengar usikan-usikan masyarakat kampung tentang putrinya, maka tamatlah setiap orang yang menggunjingnya.
Tidak hanya Manggali yang tak bisa menahan kuasa Calon Arang, muridnya Wisersa pun sempat berusaha menahan amuk Calon Arang, terlebih ketika Wisersa berjalan menyusuri kampung, pintu-pintu bersegera dengan cepat ditutup dan tak ada seorang pun yang mau bicara karena ketakutan yang begitu besar. Mendengar protes dari muridnya, sang guru, Calon Arang pun marah, bahkan sempat mencekik Wisersa, yang juga berusaha memohon keselamatan bagi musuh-musuhnya. Lalu bersegera menyuruhnya untuk kembali membuatkan sesajen untuk persembahan. Akan kuciptakan ketakutan hingga menembus kelopak mata mereka. Aku melangkah diantara kepala-kepala mereka. Sang batari Durga, seribu kuda jantan, utus dan binasakanlah mereka. Restuilah anakmu ini, Calon arang. Hamba mohon untuk membinasakan mereka dengan sihir hamba, mohon untuk mengirim teluh pada mereka.
Lalu para murid-muridnya berlompatan dari tempat tidur, meminum meminum darah segar, memakan daging mentah masyarakat kampung, kecongkakan merajalela, dan binasalah masyarakat kampung. Aku Calon Arang, telah aku korbankan nyawaku untuk kehidupan, tak lagi kupedulikan hitam, putih. Siapa ibu yang tak geram, jika derajat keturunannya dihina. Ratna Manggali anakku, aku sebagai ibu tak akan memaksamu untuk memahaminya. Meski masyarakat sudah banyak terbunuh, lari tunggang-langgan, namun Ni Rangda si Calon Arang tak kunjung puas. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seribu penyesalan, Calon Arang pun berteriak lantang, aku bersumpah hanguslah derajat keturunanku. Tak beberapa lama panggung gelap gulita disambut dengan seruan tepuk tangan atas apresiasi yang cukup memukau.
Berangkat dari pertunjukan tersebut, banyak interpretasi terhadap Calon Arang, dan semua kelompok serta semua orang berhak mengapresiasi dengan cara dan tradisinya sendiri, tanpa terkecuali. Tinggal bagaimana tradisi tersebut kembali dihidupkan dalam satu panggung pertunjukan yang dapat memukau para penikmat teater.
Frans ED Purba,
Penulis lepas, tinggal dan bekerja di Jakarta
(Foto: Muggy Samudra)
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Dendam Nyai Calon Arang









Comments
RSS feed for comments to this post.