
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Keberadaan sebuah kota tidak hanya sebagai rumah untuk penghuninya. Berawal dari segenggam harapan untuk melanjutkan hidup, kota saat ini adalah setumpuk masalah. Problematika ini tidak hanya pada bidang ekonomi tetapi mencuat kepada perilaku, gaya hidup, modernisasi, kebudayaan dan tingkat persaingan hidup sehingga menciptakan masyarakat urban yang lebih konsumtif. Segalanya menjadi berbau kepentingan dan menyampingkan sisi kemanusiaan antar penghuni-nya.
Kebudayaan masyarakat urban menjadi salah satu inspirasi dalam ajang “The Jakarta International Photo Summit 2010” dengan tema “City Of Interaction” (16-26 Desember 2010). Event berkaliber internasional yang diadakan setiap tiga tahun ini merupakan kerjasama antara Galeri Foto Jurnalistik ANTARA, Galeri Nasional dan Dewan Kesenian Jakarta dengan melibatkan 59 fotografer dalam dan luar.
Mengamati satu persatu foto yang disuguhkan, tidak hanya sebagai rekreasi mata dengan objek dan teknik yang hampir sempurna, tetapi makna tentang interaksi kota dan penghuninya menjadi potret kejadian yang memberikan sebuah makna, masyarakat urban di perkotaan sudah tidak sehat lagi perilakunya.

Dalam potret Ruth Hesti Utami berjudul “Jakartarian”, Ruth menggambarkan, “Jakarta seperti menjadi tempat bermukim orang-orang yang sakit. Mereka tidak dapat melihat secara wajar dan tidak dapat mendengar dengan baik. Lalu ketidakpedulian pun membuahkan orang-orang apatis, tidak bantu membantu, tidak tolong menolong”.
Sedangkan, Charles Lim Zheng dengan visualisasi belasan manusia yang dijadikan model dengan memakai topeng. Charles menjadikan topeng sebagai simbolik untuk menutupi dan menyamarkan wajah-wajah masyarakat perkotaan terhadap hal-hal yang kurang dari diri setiap pribadi. Bagi Charles, di era ketidakpastian seperti sekarang banyak orang mencari oase dalam segala kejenuhan yang harus dijalani setiap hari. Lalu dalam usaha untuk menemukan tempat di masyarakat, pelan-pelan kesadaran diri mulai menyelinap pergi tanpa diketahui dan digantikan oleh topeng.
Apartemen yang menjadi gedung dimana masyarakat urban berlomba-lomba menempatinya, tidak sekedar menjadi hunian tetapi prestise dan kebanggaan. Lam Hieau Thuan mengambil apartemen bukan dari sudut pandang bentuk bangunan tetapi penghuni di dalamnya yang kental dengan kesepian.

Ketiga potret di atas mewakili gambaran masyarakat urban yang hidup di perkotaan, pada realitasnya kenyamanan secara materialis bisa membuat kesakitan psikologis. Mengkorelasikan potret-potret dalam pameran ini dengan pemikiran Prof. Bintarto dimana kota merupakan fenomena yang unik dan kontradiktif. Menurutnya, “Di satu sisi kota merupakan identifikasi kemajuan, kegembiraan dan daya tarik yakni sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan hiburan, kesehatan dan pengobatan, dan sebagainya. Di sisi yang lain, kota ternyata identik pula dengan perilaku buruk, immoralitas dan bahkan kejahatan—hedonisme atau kemewahan hidup, pemuasan diri tanpa batas, kepura-puraan dan ketidakjujuran— Lalu masih adakah harapan untuk merubah mind set masyarakat urban perkotaan? Momen-momen yang diambil dari lubang intip kamera fotografer ini tentunya sebagai bentuk seni fotografi, selain sebagai wadah kreatifitas juga memuaskan kegelisahan. Seperti yang diungkapkan Zhuang Wubin, pengamat asal Singapura dalam catatan pameran, para fotografer tersebut dengan ide nya, berkelana dalam kota untuk mencari “realitas versinya sendiri”.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Kota & Masyarakat Urban Yang Sakit








