Last Updated on Wednesday, 10 August 2011 08:38 Written by Stanislaus Yangni Wednesday, 02 February 2011 05:27

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Dua tenda dome di tengah sebuah ruang. Tak jauh dari sana, sebuah tengkorak manusia berukuran di atas manusia normal tergeletak dengan posisi miring menyerupai manusia tidur. Salah satu pahanya tak ada. Di bagian yang hilang itu tertulis: “An Offering.” Di bagian lain tulang tengkorak ada tulisan-tulisan “Dream,” “Phallic stage,” “Xyphoid,” “Repression,” “money power,” “Column,” dan sebagainya, tentu saja terserah sang penciptanya, Agus Suwage. Karya ini, An Offering to Ego, adalah koleksi pribadi Agus Suwage yang sedang dipamerkannya bersama dengan Filippo Sciascia di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, 29 Januari 2011 sampai dengan 11 Maret 2011.

Sementara Suwage mengeksplorasi tema “tanatos” (kematian), Sciacia lebih mendekati 'judul' pameran, “Illuminance.” Ia menghadirkan beberapa jenis karya dengan medium berbeda: karya lukis cat minyak di atas kanvas dengan efek retak-retak, seperti karakter khasnya yang beberapa kali ditampilkan, juga video semacam video art berjudul Lux Lumina (2010). Video ini menarik karena seperti menampilkan dilematika antara dalam dan luar, antara “insider,” dan “outsider,” antara yang “intim” dan “asing,” antara “mapan” dan “liar.” Penggambaran ini tampak dalam adegan manusia yang berelasi dengan rumahnya, teritorinya, disandingkan dengan seekor rusa yang berkelana di tengah ranting-ranting serupa tanduknya, berkeliaran di luar, sendiri, asing. Kemudian permainan cahaya di dalam video itu agaknya mampu menarik penonton untuk merenungkan makna cahaya di mata manusia.

Menarik menyandingkan “cahaya” Filippo dengan “kematian” Suwage. Dengan beberapa medium pun Suwage menampilkan refleksi mengenai kematian, ketiadaan, atau “ada di tempat yang lain.” Dead Poet Society (2007) hadir di sini menemani setumpukan tengkorak berbahan grafit, Circle of Hope (2010). Hitam yang mengkontraskan “cahaya” Sciascia. Kemudian, tak jauh dari sana, ada beberapa deret kertas semacam studi “anatomi tulang” ala Suwage, berbahan campur, termasuk jus tembakau dan cat air. Tema atau refleksi mengenai “tanatos” dihadirkan Suwage melalui pengalaman atas cahaya, pengalaman atas kehidupan. Karena itu tampillah semacam “artefak” dan tulang belulang. Agaknya, di bawah tema Illuminasi ini, Suwage ingin menghadirkan apa yang ‘tidak hadir,’ sekaligus ‘sudah hadir’ dalam kehidupan ini, yaitu pengalaman tentang kematian.


Comments
RSS feed for comments to this post.