
Kami bertemu lagi di sebuah di pojok taman di ruang kota yang tak pernah berhenti berdegup. Dia masih seperti dulu. Mata yang pekat memukau, gurat-gurat waktu mulai menghiasi rambut dan wajahnya, tetapi tubuh itu tetap sebagus saat pertama kusentuh. Pertemuan ini menjadi begitu keparat, karena satu sisi hatiku begitu ingin kembali menulis kenangan di kekinianku, tetapi satu sisi hatiku yang lain begitu asing dengan ruap keraguan; apakah waktu masih memberi rasa yang sama. Percakapan menjadi sangat sunyi. Kami duduk dalam diam yang riuh. Sesekali dia menghela nafas.
“Kamu masih cantik!” bisiknya. Aku tergelak. Dia tidak berubah dari berabad lalu kami bertemu.
“Kamu masih pemetik bunga yang hebat, Roris,” ganti aku menggoda dengan kegenitan luar biasa yang entah kenapa tiba-tiba menyeruak. Sekarang gelak ada di sela-sela keriput di ujung matanya; mata yang dulu mampu membuat seluruh sel darahku membuncah sampai tak mengenal masa.
“Aku ini roh, aku sudah mati beberapa tahun yang lalu.” Kali ini aku benar-benar tergelak mendengar omong kosongnya.
Akhirnya kami bercakap kembali meski seribu sunyi terhampar di antara kami. Cerita tentang tempat-tempat yang kami kunjungi, orang-orang baru yang kami temui , tapi semua itu hanya upaya agar setiap hembusan nafas kami tidak menjadi asing satu sama lain. Sesekali kerling-kerling liar kami beradu dan kami tertawa karena masing-masing seperti tengah menguji ilmu pemikat yang dimiliki. Ini benar-benar pertemuan yang amat menyenangkan meski sangat asing. Taman itu mulai ramai. Satu persatu pengunjung berdatangan, sesekali ujung mataku masih bisa menangkap nafas para lelaki yang lewat, entah dengan sengaja atau tidak seperti menguliti tubuhku. Tentu aku menikmatinya karena aku bukan perempuan gurun yang hanya membiarkan satu orang saja melata di atas tubuhku.
"Mengapa kamu pergi?”
Sungguh aku lebih mati sebenarnya daripada harus menjawabnya.
Waktu seperti berbalik arah dan menembus satu lorong yang selama ini kuhindari.
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi besok ?”
Dengan sigap aku menawarkan sebuah pertemuan baru agar sebuah masa tidak lagi harus dipertanyakan.
***
Namanya Roris. Katanya nama itu berasal dari negeri dewa para api. Tentu saja aku tahu dia hanya ingin mencoba menatahkan detak di dadaku. Harus kuakui, dia salah satu pemetik bunga yang hebat. Kami bertemu di taman ini di sebuah malam pada hari festival lampion dimulai. Tanpa sengaja kami duduk di bangku yang sama, tepat di sebatang pohon dengan puluhan lampion merah digantung di antara pohon-pohon cemara.
Bulan bulat penuh menyeruak di antara pohon-pohon yang berubah menjadi jajaran detak yang tak pasti di dalam darah kami. Disentuhnya pipiku dengan matanya, dan akupun merona. Saat itu orang-orang yang riuh berjejer di tepi sungai mulai bersiap-siap menghanyutkan lampion mereka. Segerombolan penabuh serentak membunyikan musik yang mengiringi pemujaan kepada dewa sungai dengan melarung lampion-lampion merah. Seluruh kota percaya, di dalam lampion-lampion itu ada dewa-dewa yang akan membawa harapan dan mimpi-mimpi mereka kepada dewa tertinggi di atas sana. Setiap orang punya keyakinan bahwa mereka punya dua kehidupan; satu untuk dirinya dan satu untuk mimpinya. Festival lampion itu adalah pengingat bahwa hidup harus bermimpi karena mimpi adalah penggerak hidup yang sesungguhnya. Di dalam lampion-lampion yang dilarung itu mereka mencatat daftar mimpi-mimpi mereka dan berharap kekuatan tangan-tangan tak terlihat dari Semesta mengambil dan mewujudkannya. Sebuah ritual yang tak masuk akal, tetapi bukannya hanya kesombongan yang selalu menempatkan akal diatas segalanya?
Sejak malam itu di setiap senja lelaki itu selalu mengunjungiku.
“Kamu senjaku…,” begitu bisiknya tiap kali dia berkunjung ke kamarku. Akupun terkelupas.
Warna nafasku menjadi merah. Cahaya bulan yang menembus jendela kamarku memantulkan bias yang absurd. Dengan setengah gugup kunyalakan lampion itu di depan pintu kamarku. Cahayanya sia-sia karena cahaya bulan menjadi pemenangnya. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin bersama lelaki itu. Lampion itu adalah tanda bahwa tak boleh ada tangan-tangan lain yang melata di atas gairahku.
“Aku buat sendiri lampion itu untukmu ….” Dengan agak pongah kucoba mengalihkan kegugupanku karena dia mulai menguliti darahku dengan tatapan yang membuatku tak bisa bernafas. Begitulah, sebuah lampion merah bergambar Phoenix keluar dari api selalu kubuat seiring kedatangan lelaki itu di nafasku. Pada awalnya hanya satu lampion, kemudian dua, tiga, sepuluh, dua puluh, seratus, dua ratus dan tanganku selalu bergerak seperti kesetanan membuat lampion untuknya. Di meja, lantai, atas lemari, kasur, kamar mandi, dimana-mana berserakan lampion merah bergambar Phoenix untuknya.
Hingga pada satu malam, aku sadar, aku tidak punya ruang lagi untuk menaruh lampion itu. Ruangan ini begitu sesak. Bahkan untuk secarik nafaspun tak ada tempat. Aku panik. Tidak bisa begini. Ini bukan cinta yang membebaskan. Aku harus meruang, kalau tak mau mati dengan nafas disesaki cinta.
Seorang pencinta tidak boleh hanya menyukai warna merah. Dia harus menyukai semua warna, termasuk hitam dan malam. Aku keluar kamarku, dan ternyata dimana-mana juga ada lampion merah bergambar Phoenix. Bahkan yang paling mengerikan lampion itu sudah bergelayut di awan-awan yang bergerak. Kota itu menjadi merah semerah-merahnya. Aku semakin tidak bisa bernafas.
Itu semua gara-gara lelaki bernama Roris itu. Dia harus bertanggung jawab, karena bahkan di dalam tidurku, tanganku terus bergerak membuat lampion merah bergambar Phoenix. Ini harus dihentikan. Hatiku tidak boleh dijajah semena-mena oleh cinta sekali pun. Lampion merah bergambar Phoenix itu pelan-pelan menjadi bengis . Hidup menjadi begitu melelahkan dan menyakitkan karena lampion merah bergambar Phoenix selalu terlahir dari degupku. Satu-satunya cara agar lampion merah bergambar Phoenix itu tidak terus menyesaki ruang kota ini, lelaki itu harus kuhindari.
Pada sebuah pagi dengan kepekatan malam yang masih menyisa, kutinggalkan kota itu. Aku tidak menangis sama sekali tapi hatiku retak dan jiwaku pecah. Tapi aku harus melakukannya, agar aku kembali menjadi penguasa hatiku sendiri. Begitulah. Sehabis percintaanku yang melahirkan bara, kutinggalkan dia dengan sebuah kecupan di kening dalam pulasnya. Aku menghilang dengan sebuah kalimat pendek untuknya “Aku tak bahagia, maaf.”
***
Pertemuan malam ini benar-benar tak sengaja. Entah karena terpikat pada kenangan atau karena festival lampion di kota itu benar-benar indah, maka setiap festival lampion yang diadakan di setiap bunga-bunga flamboyan gugur, aku selalu datang di kota ini, tepatnya di taman ini. Setiap kali pula aku selalu datang duduk di bangku ini. Menunggu sesuatu yang entah. Aku selalu bahagia setiap melihat orang membawa lampion merah bergambar Phoenixnya dengan sejuta keyakinan akan warna merah itu. Mungkin mereka belum mengerti, warna merah itu fatamorgana. Satu hari saat musim berganti , warna merah itu akan memudar menjadi pucat, hingga yang tersisa hanya kertas-kertas lusuh berbau busuk.
***
Malam semakin pekat. Tetapi kota semakin merah. Percakapan yang riuh mendadak berhenti. Mata kami menerawang ke atas pucuk-pucuk cemara yang mulai mengering oleh waktu. Kupandang lelaki itu dari sudut mataku. Dia ternyata sangat serakah karena telah mengambil semua lampion merah bergambar Phoenix itu hanya untuknya. Entah dari mana kekuatan itu, tanganku kembali bergerak membuat lampion merah bergambar Phoenix. Satu, dua , tiga, sepuluh, seratus, seribu , seperti dulu, lampion-lampion merah itu bergerak kembali memenuhi hidupku. Tak satupun kuberikan pada lelaki itu sekarang. Wajahnya terlihat pasi. Airmatanya berdarah. Aku tak peduli. Aku terus membuat lampion-lampion itu kala tersadar selama puluhan tahun aku tak pernah membuat satupun lampion merah bergambar Phoenix untuk diriku sendiri. Aku marah dengan kebodohanku. Sejak malam itu kuhadiahi diriku sendiri dengan lampion-lampion merah bergambar Phoenix buatanku. Kota kembali sesak. Lampion merah bergambar Phoenix ada di mana-mana . Tetapi kali ini aku tidak ingin lari.
Sejak malam itu aku kembali ke kota ini dan bertekad untuk tetap ada di kota ini. Setiap hari kulahirkan lampion-lampion merah bergambar Phoenix. Kadang kubagi ke penjual sayur yang lewat, kadang kubagi begitu saja di pasar. Dengan gembira kubagi ilmuku di kompleks-kompleks pelacuran, agar lelaki-lelaki yang melata di atas tubuh mereka membawa cinderamata sebuah lampion merah bergambar Phoenix buatan hati mereka. Aku tidak pernah ingin mematenkannya. Siapapun boleh menirunya cuma-cuma. Siapapun boleh menciptakan fatamorgana.
***
“Apakah kita akan bertemu lagi?”
Aku tahu jika aku memandang bola matanya barang satu detik saja, aku akan menganggukkan kepalaku dan hidupku akan kembali dijajah selama-lamanya. Dengan sisa kekuatan nafas, kugelengkan kepalaku. Lelaki itu pergi tanpa sepatah kata. Aku sama sekali tidak khawatir dia akan melupakanku. Justru ketakutanku akan pudarnya warna merah menjadi menipis. Setiap warna merah akan memudar oleh detak jantung , tetapi akan selalu ada warna merah pada lampion-lampion baru bergambar Phoenix yang dibuat oleh mereka yang percaya bahwa Phonix tak pernah mati.
Ubud, 29 November 2010





