Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Suara Lirih dari Sungai Bedog

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Raungan sirine terdengar mengaum memekakkan telinga. Ratusan pengunjung yang hadir di tepi sungai Bedog pun menutup telinga mereka. Sementara itu di atas rakit perupa Joko Pekik melarung sebuah lukisan "Celeng" (babi hutan)…

DONGENG EPISTEMOLOGI: Alam Pikiran Melayu antara Amok Massa dan Mitos Pribumi Malas - Sebuah Rekonstruksi Nalar

"Saya ingin mencoba dan memahami mengapa begitu banyak orang melakukan kejahatan dalam nama identitas," -- Amin Maalouf, In The Name of Identity   Pada tahun 2001 seorang perupa kenamaan Indonesia, Entang Wiharso, membuat sebuah pameran…

Sensasi Youtube dan Artis Karbitan

    Sudah hampir dua minggu belakangan ini publik dicekoki oleh aksi Briptu Norman Kamaru, seorang anggota Satuan Brigade Mobil (Brimob) Gorontalo yang mendadak melejit namanya karena goyang India-nya di Youtube. Stasiun televisi seperti tidak…

Sensasi Youtube dan Artis Karbitan Sensasi Youtube dan Artis Karbitan

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung…

Citra Negatif "Kota Kembang"

    IndonesiaSeni.com, Bandung - Kota-kota di Indonesia memiliki julukan masing-masing, sesuai karakteristik dan sejarah kotanya. Kalau Yogyakarta dijuluki kota pelajar, karena banyak menghasilkan intelektual dan cendekiawan, dan Surabaya dijuluki kota pahlawan karena aksi heroik…

Citra Negatif Citra Negatif

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

Print
PDF


bumi_tarung


IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang.

Diskusi tersebut berlangsung di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Sabtu, 12 Maret yang baru lalu, dengan mengetengahkan pembicara EZ Halim (kolektor), Hardi (pelukis), Sihar Ramses Simatupang (wartawan-sastrawan), dan Amrus Natalsya (bos Bumi Tarung). Menjelang diskusi, anggota Bumi Tarung, pelukis semiliar, Joko Pekik, juga berbicara mengenai pengalamannya selama bergelut dalam kelompok pelukis yang bermarkas di Yogyakarta awal 1960-an itu, termasuk penderitaannya selama meringkuk dalam tahanan rezim yang simbolisasinya dia visualkan di atas  kanvas dalam bentuk babi hutan: Celeng.

Taufiq Ismail --begitulah sejauh yang saya amati -- berusaha, termasuk menggunakan intimidasi, untuk membatalkan pertemuan yang dihadiri hampir 100 undangan itu. Sekitar jam 10 pagi di hari Sabtu itu, Ajip Rosidi menelepon saya yang sedang bersiap-siap mengajar di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara. “Martin,” kata Ajip, yang saya duga berbicara dari rumahnya, di Pabelan, Magelang, “saya dengar ada diskusi di PDS yang diadakan Lekra generasi ketiga, ya?!” Saya katakan, setahu saya, itu adalah diskusi yang diadakan oleh sekelompok pemuda yang menamakan diri ‘Bumi Tarung Fans Club’ sebagai bagian dari kegiatan menyongsong pameran besar Bumi Tarung yang akan berlangsung September.

Ajip tidak mengatakan dari siapa dia mendengar informasi itu. Dia lantas mengeluh dan meminta bantuan saya untuk membatalkan diskusi tersebut. Bagaimana perasaan HB Jassin di dalam kuburan. Dia yang dulu diserang oleh Lekra, sekarang tempatnya malahan jadi gelanggang pertemuan orang-orang Lekra. Dan, apa kata keluarga Jassin kalau mendengar acara itu, demikianlah keluhan Ajip. Saya katakan saya bukan anggota panitia diskusi itu. Lantas, dia memahami mengapa saya tak bisa mencegah berlangsungnya diskusi. Dia kemudian menimpakan kesalahan pada Endo Senggono, kapala PDS HB Jassin, yang tidak memberikan laporan kepadanya. PDS HB Jassin berada di bawah sebuah yayasan yang didirikan oleh Ajip Rosidi bersama HB Jassin (ketika kritikus ternama ini masih hidup).

Kepada Ajip saya berjanji untuk menghubungi Amrus Natalsya, dan meyampaikan keberatannya terhadap diskusi yang akan berlangsung di PDS pukul 02.00 siang itu. Ketika saya telepon, dan saya sampaikan keberatan Ajip terhadap rencana diskusi itu, Amrus tidak berkomentar, dan kami sepakat untuk bertemu di PDS sebelum acara yang sudah dijadwalkan dimulai. Setibanya di PDS HB Jassin, saya langsung menemui Endo Senggono dan menanyakan apakah diskusi akan tetap berlangsung, karena Ajip ingin acara itu batal. Endo, yang murah senyum itu, sambil kedua ketiaknya bergelayut pada tongkat penyangga tubuhnya, berkata: “Jalan terus… Kalau dibatalkan malah bisa bikin masalah berkepanjangan. Kita lihat saja nanti,” katanya. Saya terharu mendengar keputusannya itu. Dia berdiri di atas tongkat ketiaknya, tetapi dia lebih tegak dari saya, kata saya dalam hati. Dia mengeluarkan undangan, yang juga saya terima. Katanya, di mana ada kata Lekra di sini, di undangan ini? “Bumi Tarung itu pimpinan Amrus, dan Amrus kan anggota Akademi Jakarta!” lanjutnya menguatkan pijakan sikapnya.

Endo mengutarakan penyesalannya kepada saya bahwa Taufiq Ismail hanya mengirimkan pesan singkat (SMS), yang meminta acara supaya dibatalkan, tetapi samasekali tak bisa dihubungi untuk diajak bicara. Kemudian, saya menemui Rini, salah seorang staf PDS HB Jassin, yang terpaksa datang (ditemani anak gadisnya) pada hari libur itu, karena dia, katanya, mendapat perintah lisan dari Taufiq Ismail, melalui telepon genggam, “supaya membatalkan diskusi tersebut.” Menurut Rini, Taufiq mengatakan jika diskusi tidak dibatalkan PDS HB Jassin bisa dikenakan pasal pidana, karena Lekra adalah organisasi terlarang.

Menurut Rini, dia sempat bertanya dari mana Taufiq Ismail mendengar berita bahwa “Lekra generasi ketiga” akan menyelanggarakan diskusi di PDS HB Jassin, yang dijawab Taufiq dari “orang yang bisa dipercaya.”

Kata mati, “Jalan terus…” dari Endo saya sampaikan kepada Amrus Natalsya. Begitulah, diskusi itu dimulai dan disudahi dengan damai. Saya deg-degan juga – mungkin juga Endo – jangan-jangan Taufiq Ismail akan mengirimkan “orang yang bisa dipercaya”-nya dengan tutup kepala khusus, membawa pedang terhunus, untuk membubarkan pertemuan. Syukurlah, tidak, dan Joko Pekik bisa pulang ke habitatnya di Yogyakarta tanpa kehilangan jenggot barang seujung rambut pun.

Sebagai seorang pegiat kebudayaan yang berwibawa, saya kira Goenawan Mohamad layak mendapatkan informasi mengenai niat buruk dari seorang sastrawan yang berkobar-kobar puisi dan pidatonya untuk memberangus kehendak terpuji dari anak-anak muda penggemar kesenian. Setelah membaca SMS saya mengenai niat Taufiq Ismail untuk membatalkan diskusi di PDS HB Jassin itu, Goenawan mengatakan: “Kita lawan saja. Dia nggak punya hak apa pun.” Kemudian saya jelaskan kepadanya, bahwa Taufiq ingin memanfaatkan Ajip Rosidi (salah seorang pendiri PDS HB Jassin) untuk membatalkan diskusi itu, yang dia jawab dengan lantang: “Pokoknya mereka nggak bisa menyetop kalian!” Saya menemukan kekuatan pada kata-kata yang terpateri di layar HP saya, dan saya biarkan kata-kata itu terus berkedip di situ sampai sekarang.

Hari Senin, 14 Maret 2011, KOMPAS menurunkan berita di halaman dua dengan judul “Komunisme Masih Dianggap Ancaman.” Laporan dari sebuah diskusi yang berlangsung di Jakarta. Di dalam diskusi itu, Taufiq Ismail dilaporkan sebagai mengatakan, bahwa “…komunisme telah membantai 120 juta manusia di 75 negara sepanjang 1917-1991, lebih besar dari korban seluruh perang dunia dan perang lokal pada abad ke-20, sebanyak 38 juta orang.”

Membaca ucapannya itu, dengan berkelakar saya ingin bertanya kepada Taufiq, apakah angka “120 juta manusia” itu sudah dikorting TIGA juta “komunis,” jumlah yang dikatakan Sarwo Edhi kepada wartawan setelah kembali dari operasi penumpasan G30S akhir 1965. Paling tidak dua kali saya diundang untuk berbicara di dalam diskusi mengenai G30S di Univesitas Indonesia. Duduk bersama Taufiq Ismail. Undangan yang datang, terutama para mahasiswa, tidak mendapat apa-apa. Karena Taufiq hanya menyampaikan angka-angka pembantaian yang terjadi pada zaman Stalin di Uni Soviet, dan Kamboja. Yang hadir dibuat munafik, karena Taufiq samasekali tidak menyinggung manusia-manusia Indonesia yang dibantai menyusul gagalnya G30S. Agaknya, yang tiga juta, sebagaimana yang dikatakan Sarwo Edhi, atau sekitar 500.000 sebagaimana yang diyakini para peneliti asing dan 10.000 yang dibuang ke Pulau Buru serta ratusan ribu yang ditahan tanpa proses hukum selama belasan tahun adalah BUKAN MANUSIA! 


Martin Aleida,

penulis pegiat kesenian



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Comments  

 
0 #11 2011-06-17 12:33
taufik ismail bukan penyair tapi pencari
Quote
 
 
-1 #10 2011-06-06 17:33
sangat kagum dengan tokoh satu ini
Quote
 
 
+1 #9 2011-04-27 09:45
taufik ismail mungkin salah satu sosok yang bakal tenggelam menjadi bebek atau bola lampu 15 watt melihat masa depan Indonesia....sesuai dengan puisinya. wahai sastrawan yang udah senior(biar makinbangga dia)...jangan dendam masa lalu kau jadikan alasan untuk menghentikan gerak sejarah...kalau masih sanggup berkarya, ya berkaryalah...kalau sudah tak sanggup lagi...istirahat di rumah...jangan ngrecoki anak-anak muda membuat sejarah!!! ok, bos.
Quote
 
 
+1 #8 2011-04-02 09:33
Acara saya, diskusi buku "G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme" karya Tan Swie Ling, di UIN Jakarta, Desember 2010, seperti "dibungkam" dg kedatangan Taufiq Ismail yg menyampaikan serangkaian data korban komunisme di seluruh dunia. Acara yg semula ingin menjembatani generasi muda dengan wacana komunisme menjadi mati karena ditutup dengan presentasi Taufiq Ismail. Saya yang mungkin berselisih umur setengah abad dengan penyair terkenal ini merasa malu dengan kesempitan berpikirnya.
Quote
 
 
0 #7 2011-03-30 05:29
Taufik Ismail ini bukan penyair karena tak pernah menemukan diksi khas. Bahkan dia plagiator, yang tanpa malu menjiplak karya orang lain diakui miliknya. Maling. Tapi sok moralis dan suka menekan seniman lain yang lebih kreatif. Sila cari karya Douglas Malloch yang dijiplaknya jadi : Kerendaha Hati.
Taufiq Ismail : PLAGIATOR TUNA BUDAYA TUNA SUSILA.
Quote
 
 
0 #6 2011-03-28 21:03
wah...mengapa Pak Taufik melakukan perbuatan seperti yang pernah ia alami, seperti yang diceritakannya pengalaman tahun 60-an.Ah, Pak taufik tak tahu bahwa berkesenian itu tak bisa dihempang....sejarah sudah membuktikan....
Quote
 
 
0 #5 2011-03-28 16:21
sudah saatnya sbg bangsa yg slalu di gembar-gemborkan sbg bangsa yg besar ini hrs bs utk lbh brjiwa besar menerima sejarah masa lalu bangsanya dg apa adanya sejarah spy kebesaran bangsa ini benar-benar nyata bukan semata slogan-slogan kosong utk kelabui generasi muda bangsanya utk ttp berpura-pura jd bangsa yg gesar akan ttpi trnyata msh ttp mnjdi bangsa yg tdk besar, brjiwa kerdil.
Quote
 
 
-1 #4 2011-03-28 06:25
Semakin usia senja, semakin gelap pemikirannya
Quote
 
 
0 #3 2011-03-28 03:31
aneh nya ketika ada kesalahan dari orang lain kenapa "kita" yg harus kena getahnya
Quote
 
 
0 #2 2011-03-27 18:33
Kekawatiran yang berlebihan, harusnya bisa lebih bijak dalam membaca sejarah, Pak Taufiq...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh