|
09 August 2011

Badruddin Emce
RANCANGAN RUMAH
Rumah ini, dengan kesepakatan istri, kurombak buat apa saja, hingga tiga bulan lalu, lewat celah jendela, malam yang dingin menyentuh gigi berlubang anak terkecil kami. Sesuai rancangan, tangis mengiris kami biarkan mengiris.
Tak jadi bercinta dan melek hingga Subuh, kami berangkat kerja tanpa mandi terlebih dulu seperti saat gempa Tasik. Lalu semalam kami coba menahan sunyi di tempatnya mulai. Mengiau. Naik ke atap. Bergulingan di bidang miring, sampai tanpa kami sadari jatuh tersangkut keranjang bola. Paginya tetangga cerita, anak laki-laki pertamanya ingin jadi pebasket ternama.
Kami melakukan apa saja yang bisa. Terkadang sendiri-sendiri. Terkadang satu keluarga. Terkadang dunia tergoda, tetapi lupa mencatatnya. Terkadang dianggap biasa.
Kroya, 2011
Badruddin Emce
CINDERAMATA DARI CISARUA
Siang-malammu.
Hangat-dinginmu.
Liku-lurusmu.
Juga hijau-coklatmu, berkisar sebagai kegelisahan.
Harus aku yang menyempurnakan?
Sementara pelayan hotelmu menyerahkan beberapa lembar,
di sudut lain
ada yang perlu dibincangkan dengan teman atau kenalan.
Baiklah!
Saat tidur, pikiranku hanyalah kertas
yang engkau gelar di meja kamar.
Lalu di atas putih kosongnya
engkau pajang puncak-puncak hidupmu.
Sulitkah menyusun kalimat bersahaja?
Teruslah!
Meski janggal, hasratku akan bangkit membacanya.
Melempar selimut yang memberatkan.
Dan tanpa menunggu pagi menjadi pasti
menyeretku ke Gambir –
orang-orang seperti hendak melarikan diri
ke Timur!
Bagaimana dengan diriku?
Tinggal apa maumu. Gelap maupun terang,
hanya cara ungkap. Semua kukembalikan padamu.
Kroya, 2011
Badruddin Emce
BATURADEN, 21 MEI MALAM
– Ahmad Komari
Aroma sate menggeliat dalam ruang remang,
saat sebuah gang
seperti berujung di tubir jurang.
Sepertinya tidak terlampau dalam.
Di dasarnya terserak cangkang telur sebuah kota
bertahun dikungkung dingin.
Kerlap-kerlip.
Sepertinya para pemikir, penyair.
Pun para pendamping orang bingung itu,
merasa jadi penerang ke arah jalan-jalan baru.
Saat udara bertiup,
yang tua maupun yang muda
polahnya sama.
Lalu bedanya apa aku dengan mereka?
Ingin hangatkan malam
dengan kata semata.
Tidak!
Seperti apapun aku musti mencarikan api.
Mungkin dalam dirimu
yang tak ada di situ.
Kroya, 2011
Badruddin Emce
POHON ANDAIAN
Dab, andai satu saja pohon sepertimu, ah, di ketinggian berkabut bukitmu, setiap menjelang kemarau, pohon itu kembali meluaskan diri. Airpun berebut masuk. Berpusaran mencari titik terdalam dasar pohon itu. Sedang alang-alang, runtuhan tanah kapur, batu, pasir, bergantian tikus dan ular sawah, hanya bisa membujuk tak lebih dari separuhnya. Mereka menjauh menuju laut sesungguhnya. Penghujan berlalu, pohon itu kembali mengatup. Rapat hingga seperti tak menyimpan setetespun, bahkan bagi dirinya sendiri. Melanjutkan tumbuhnya dengan pesat, namun tersembunyi dalam ujud rimbun lambat. Tentu mudah dibayangkan, jika pohon lain di bukit itu menirunya. Tidak lama sumur-sumur ditinggalkan. Jika kamu berumah di kampung itu, seperti musim-musim lalu, setiap butuh air, pasti perlu turun ke kali. Tertatih-tatih ke laut terdekat, setelah lele dan betik mengubur diri dalam lumpur. Kalaupun tak seperti itu, takut kulitnya terbakar, kamu akan mendekati pohon telah tinggi besar itu. Sambil meresapi teduh, mohon setetes bikin abadi. Tetapi pohon itu hanya menjatuhkan ranting daun kering. Pohon itu terus memucat. Juga pohon-pohon yang mengikuti. Namun siap membuka lebih luas lagi, hingga kelak awan tumbuh dan runtuh di atasnya.
Kroya, 2011
Badruddin Emce
GENDING PULEBAHASAN
(Daryono Yunani)
1.
Suaramu teramat keras, Saudara! –
Tiada lain besi bekas
ditempa nada-nada orang tandang
menagih hutang.
Pukulanmu tak kalah keras,
Saudara! –
Si muka bopeng,
turunan kawincampur Gombong-Ambal,
musti bikin jago lain terjungkal.
Atau surut bersama air laut
sebelum sempat mendengar
kluruk tantangan yang kauajarkan.
Maka sepanjang hayat,
si surut tak pernah ngambah
kalangan lemah-pasir celah bakau Tritih Kulon.
2.
Saudara, kayu tabuh tak juga kaulepas! –
Kresna Triwikrama,
lukisan nuntut lek-lekan dua bulan itu,
masih tergantung di ruang tamu.
Lantas para juragan
yang ingin dibilang dekat rakyat,
kapan bisa memiliki?
Sederhana saja, Saudara!
Tahun ini putrimu kembali naik kelas.
Tas sekolah, buku dan sepeda baru
kiranya perlu sebagai hadiah.
3.
“Tidak begitu!” –
tiba-tiba engkau bangkit.
– Semua akan baik, jika yakin akan baik!
Percaya saja, seiring waktu
bersamaku kelak anak ini tahu!
Garis dan warna-warna ini
telah kupersembahkan
bagi juragan yang berani nglakoni
gembira-duka pohon besar Nusakambangan :
Pulebahas!
4.
Kini juraganku menjadi biji buah pahit.
Entah bagaimana burung berparuh ceroboh
meninggalkannya di ceruk batu,
di sebuah dasar jurang tak terjangkau
terang tangan siang.
Hiduppun seperti tidur yang disusupi mimpi.
Kadang melelahkan.
Tak jarang menakutkan.
5.
Bagaimana hidup yang sia-sia
jadi bertampang hebat?
Menjadi biji buah pahit,
dengan akar dan tunas pertamanya,
juraganku coba meraihsentuh
sesungguhnya hujan.
O, air. Betapa saat melintas angkasa,
lalu tanah,
berusaha tetap jadi diri sejati.
Maka meski hanya biji buah pahit,
juraganku tetap gemetar.
Butuh sandaran.
Nafas kekasih di siang juga malam.
Entah seperti apa.
Tak perlu bernama Ciptarasa,
sosok gemulai bagai dari angkasa.
Terpenting bisa mengikuti-memahami.
Tetapi di antara rumput,
siapa akan nanggap?
Tetap saja, juraganku dianggap gampang tercerabut.
6.
Entah bagaimana, menjadi biji buah pahit
yang tak digadang, justru membuat juraganku
leluasa mencaritentukan harga kebersamaan :
Pohon besar tidak akan merebut
apa yang jadi bagian rumput.
Dengan akar musti mencari
yang lebih tersembunyi
sekaligus tak gampang hanyut.
Sedangkan dahan, musti jadi tangkringan
semua canda,
meski di antara tawa ada yang berbisa.
7.
Mungkin belajar jadi pohon besar
yang berabad menjaga kedalaman jurang
dan ketinggian tebing menghadang.
Sejak disentuh kegembiraan,
juraganku suka mengundang celeng
dan harimau, tidur dalam satu lubang.
Kadang mempertemukan
cahaya dengan gelapnya di bawah rimbun pandan.
8.
Jika juragan-juragan seberang sampai tahu,
sungguh itu laku sembrana!
Dan cepat atau lambat semua pasti tahu.
Dan untuk tahu lebih dalam
Kamandaka akhirnya menyamar jadi kegelapan.
Dimakhkotai bintang,
diiring jerit kera-kera ketakutan,
memasuki malam juraganku.
Saudara, aku tak ragu,
begitu yang dihadapi juraganmu.
Selalu begitu yang dihadapi para juragan?
9.
Bait demi bait, syair yang engkau nyanyikan
meninggalkan sebuah titik malam.
Meninggalkan sesuatu yang dipatok :
sosok buas titisan dewa memenuhi kanvas!
Bait demi bait
berjalan ke timur.
Tetapi di sana,
di pagi yang hujan,
putrimu berangkat sekolah dengan payung tetangga.
Kroya, 2010
Badruddin Emce, tinggal di Kroya, di samping aktif bersama Tjlatjapan Poetry Forum saat ini juga menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT). Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit Binatang Suci Teluk Penyu (Olongia, Yogyakarta, 2007).







