Last Updated on Thursday, 01 March 2012 16:57 Written by Hendra Prawira Sunday, 23 October 2011 17:57

IndonesiaSeni.com, Jakarta – Jakarta Biennale, ajang pameran seni rupa berskala internasional, kembali digelar tahun ini. Memasuki tahun ke 14, Jakarta Biennale kali ini mengusung tema urban bertajuk “Maximum City: Survive or Escape”, sebagai konsep yang menghadirkan fenomena kota Jakarta yang sesak disertai berbagai permasalahannya yang kompleks. Di tengah kesesakannya, masyarakat menempuh jalan yang berbeda-beda, entah mencoba bertahan atau justru kabur dari tekanan yang dihadapi. Hal tersebut yang direspon oleh Jakarta Biennale kali ini dengan mengelar pameran seni karya penderita Skizofrenia bertajuk “Hospital Without Wall”.
Pameran “Hospital Without Wall” yang menjadi bagian dari program paralel dan fringe events dalam rangkaian perhelatan Jakarta Biennale #14 ini berlangsung dari tanggal 16 – 28 Oktober 2011 di Galeri Cipta 3, TIM Jakarta. Pameran ini adalah hasil kolaborasi dari Kelompok Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) dan 150 orang penderita skizofrenia serta didukung oleh Dewan Kesenian Jakarta selaku penyelenggara Jakarta Biennale #14. Selain memamerkan karya lukisan, acara ini juga diramaikan oleh lomba lukis, diskusi bertema “Seni dan Gangguan Jiwa”, dan bedah buku “gelombang Lautan Jiwa”.

Bagus Utomo, Ketua Umum KPSI mengatakan, “sebelum ada tawaran kita memang sudah mulai rutin kegiatan melukis, tapi kemudian kami buat workshop teratur menjelang Jakarta Biennale,” ujarnya. Bagus juga mengatakan bahwa semua karya yang dipamerkan tidak dikurasi, ini dimaksudkan supaya semua orang yang berkunjung ke pameran tersebut bisa melihat secara utuh karya-karya dari para penderita gangguan schizophrenia dan memberi kesempatan sebebas-bebasnya kepada mereka yang melukis untuk memilih lukisan yang paling mewakili perasaan mereka, di antara karya-karya mereka sepanjang workshop beberapa bulan sebelum event ini.
Dengan beranggotakan hampir 4000 orang dari seluruh Indonesia, KPSI mencoba mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pendekatan dan dukungan secara utuh dari dalam lingkungan keluarga dan melukis sebagai salah satu media terapi dan bentuk komunikasi sederhana dalam upaya memahami dan melakukan pendekatan secara utuh dan tanpa tekanan apapun dalam melukis, juga sebagai jembatan untuk memahami apa-apa yang sebenarnya tersimpan di dalam benak para penderitanya.
Hospital Without Wall adalah sebuah konsep rumah sakit tanpa dinding atau layanan kesehatan yang tidak dibatasi oleh tembok rumah sakit, yang memuat perencanaan dan tata laksana perawatan kesehatan yang melibatkan semua pihak secara komprehensif dan efektif. Konsep ini pertama kali dimunculkan di era 1950-an di sebuah puskesmas di Palmares, Provinsi Alajuela, Costa Rica. Bagus mengatakan, konsep Hospital Without Wall menuntut partisipasi semua pihak, termasuk pemerintah yang memegang peranan sangat penting. “Pemerintah mencanangkan program bebas pasung dengan data tahun lalu sebanyak 30.000 penderita gangguan jiwa dipasung, lalu tahun ini dinyatakan 20.000 penderita yang masih dipasung. Tetapi, tidak jelas apa saja program yang sudah dijalankan, lalu publik sulit mengetahui kebenaran data tersebut dan dari mana saja,”
Saat ini
penderita Schizoprenia sekitar 1% dari populasi yang ada di Indonesia, atau
sekitar 2,2 juta jiwa dan hanya sekitar 150 ribuan yang bisa mengakses layanan
kesehatan dan informasi yang benar tentang penyakit schizophrenia.

