|
08 February 2012

PADI
Kami tumbuh dari benih yang sama. Mencintai hujan dan tuhan yang sama hijaunya. Menunggu masa tua. Dan merunduk dalam hening kuning yang sama. Begitu kiranya kami selalu mengasup luas sawah. Sungai dan sang sri menjaga kami sampai sembada. Kata sungai, petani yang menemukan kami. Menamai marga kami sebagai padi. Dan bertekad menghidupi kami dengan segenap raga. Tapi kami tahu, hidup kami yang mengilhami petani bagaimana hidup sewajarnya. Menghijau sama-sama. Merunduk sama rata. Hingga kami dibawa dengan sapi dan pedati yang sama. Dalam tidur yang membuat kami tak bertanya, ke mana kami dibawa. Dan tahu-tahu, kami sudah tak terhidang tenang dalam satu meja.
2010
PETANI
Kami saling berbagi, aku dan sungai. Bunga dan rumput segar menjalar ke tidur kami. Kami saling mengerti dan tak ada maksud menghianati.
Seperti sulur nadi, sungai sering mengulur umur permai. Sungailah yang menjaga jagung, kacang dan padi bila hujan tertahan ke bumi.
Di lubuknya yang damai, kucuci daki dan benci. Agar bersih badan dan hati ini. Kugiring juga ternak untuk minum atau mandi.
Dan sungai slalu menyambut dengan riak gelak, yang memekarkan bunga semak. Di saat begini, kami sering tertawa walau tak sampai terbahak.
Tak pernah kami berbohong. Apalagi saling memotong. Tanpa banyak omong kami saling menolong. Kusingkirkan batu-batu di pelupuknya.
Ia beri ikan-ikan untuk mengisi sepi sawah. Kami tak ingin terpisah. Dan kami bahagia. Kami berjanji akan bertemu dalam tawa bidadari sorga.
2010
PEDATI
Semoga roda ini mencukupi putaran. Semoga kerbau ini tak gampang pikun dan lupa jalan. Semoga petani itu selalu dalam lindungan tuhan. Semoga singkong dan padi selamat sampai tujuan.
Sebagai harta petani, aku sungguh mencintai hasil bumi. Aku suka memboyong singkong. Apalagi jika cuaca cerah dan bau singkong begitu sedapnya. Aku bahagia membawa padi. Sebab pada padi kehidupan merangkum diri. Aku senang mengangkut pisang: buah kesabaran yang disayang tuhan. Aku juga tak keberatan memuat hewan buruan: celeng, cuwut, marmut, dan manuk bubut—yang kadangkali menyedapi tiga batu dapurmu. Sebagai harta petani, aku mencintai semua itu, seperti seorang ibu. Tapi sore ini
aku harus mengangkut mayatmu, petani yang selalu membimbing kerbau dengan kesabaran. Roda ini akan pecah sebelum kuburan. Dan tanpa kau, kerbau itu pasti mendadak pikun dan tak tahu jalan.
(2010)
__________________________________________________________
A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur. Puisinya tersebar di berbagai media cetak dan buku bersama. Tahun 2009, ia mengikuti International Literary Biennale dan Ubud Writers and Readers Festival. Buku puisinya Pembuangan Phoenix (2011). Ia tinggal di Surabaya. Menggelola Komunitas Rabo Sore dan Jurnal Puisi Amper.








