| 11 March 2012

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Alkisah seorang jendral besar bernama Sie Jin Kwie memimpin pasukan Tang berperang ke Barat. Namun, dalam pertempuran, Sie Jin Kwie terluka parah dan nyaris sekarat, bahkan arwah Sie Jin Kwie sempat melayang ke akhirat. Sebelum dikembalikan ke dunia fana, Sie Jin Kwie sempat diperlihatkan sebuah masa depan, yang mana ia kelak akan mati di tangan putranya sendiri, yaitu Sie Teng San. Demikianlah sepenggal kisah yang akan ditampilkan kelompok Teater Koma, pada 1 - 31 Maret 2012, di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta. Setelah sukses dalam pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, yaitu Sie Jin Kwie (2010) dan Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011), Teater Koma memberikan satu koma lagi pada perayaan hari ulang tahun Teater Koma yang ke-35 lewat lakonnya yang ke 126 yaitu "Sie Jin Kwie di Negeri Sihir".
Selama 4 jam durasi pertunjukan, penonton akan disuguhi parade lebih dari 300 kostum bermotif batik peranakan yang akan dikenakan oleh kurang lebih 65 aktor pendukung lakon ini. Kostum hasil karya Rima Ananda dan Subarkah Hadisarjana tersebut terinspirasi dari wayang kulit Cina-Jawa atau Wayang Thithi yang dipopulerkan oleh dalang Gan Thwan Sing (1885 - 1966). Selain menulis sendiri lakon cerita wayangnya, Gan Thwan Sing juga membuat lebih dari 900 boneka wayang berwujud ksatria Cina yang menggunakan busana batik Jawa. Inspirasi kostum juga berasal dari Wayang Tavip, Wayang Gendong, Wayang Wong Wayang Beber, Wayang Potehi, hingga wayang dramatisasi masa kini.
Dalam konferensi pers sekaligus syukuran ke-35 tahun Teater Koma, N. Riantiarno selaku sutradara berharap semoga pertunjukan Sie Jn Kwie di Negeri Sihir bisa menjadi klimaks dari lakon-lakon Sie Jin Kwie sebelumnya, dengan melibatkan puluhan pemain dan kru pendukung yang tak asing lagi di panggung teater. Ratna Riantiarno yang bertugas menjadi pimpinan produksi-pemain, menegaskan harapan tersebut, bahwa sejak berdirinya Teater Koma pada Maret 1977 sampai dengan sekarang, "Teater Koma tidak hanya menciptakan para aktor, tetapi juga menciptakan para penonton setia Teater Koma," tutur Ratna. Sebuah pencapaian yang membanggakan, dalam rentang perjalanan panjang Teater Koma di ranah teater Indonesia. Seperti diungkapkan budayawan Radar Panca Dahana, "Teater Koma membuat pertunjukan tidak sekedar perwujudan bentuk-bentuk estetik, tapi juga memberikan teks kritik; Kritis tapi tidak politis. Kritik yang dilayangkan merupakan kritik kebudayaan, kritik yang tidak terbungkus pada kepentingan-kepentingan. Kritik terhadap kelas atas, menengah, juga pada kelas bawah. Sebuah harga mati yang bisa dinikmati, dan Teater Koma merupakan salah satu kelompok teater yang mempunyai ketekunan," tutur Radar.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites









