Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di…

Puisi-Puisi Sarah Monica

SANG PEMBURUDengarlah, hai sang penguasa waktu;tanahMu berhutang atas tiap denyut yang darahku getarkan,lautMu mengemis dari tiap garam yang aku teteskan,dan di puncak ubun-ubunku, langitMu tidak lagi merajaatas takdir yang kugoreskan sendiri di urat keningku.Di mana…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,lalu menangkapmu, memenjarakanmuseumur puisi.IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya…

Cerpen: Cawat dan Kutang Ibu

        Saya hampir lupa kapan terakhir Ibu membeli kutang dan cawat baru untuk memberi baju identitas perempuan-nya itu. Dulu Ibu adalah seorang pedagang pakaian, kembali saya ingat-ingat, Ibu memang tak pernah membeli kutang dan cawat,…

Cerpen: Mandul

Sudah lebih dari enam bulan aku tinggal di Jakarta. Meninggalkan kampung halamanku di Gunung Kidul karena tak lagi ada asa untuk bertahan hidup. Tanah di kampungku tak lagi bisa ditanami sayur-mayur, karena sebab panjang makin…

Puisi-Puisi Nur Wahida Idris

Print
PDF




Di atas Kapal Fery Ketapang-Gilimanuk

gilimanuk

kulepas segala milik kesayangan
dan saat-saat dimiliki kecemasan

berlayarlah menemui tepi laut bersawah hijau
serta musik pantai hingar-bingar
punggungmu yang oleng, disorot cahaya senja muda
di antara jendela-jendela basah yang bergerak pergi
serta tangan-tangan yang ingin merengkuh kembali


penjaga pelabuhan, gapura ujung jalan gilimanuk
mengasah runcingnya
dengan cahaya kuning kemerahan
sebelum tali tambang dilempar ke kapal

 
selat bali

di tengah selat bali
ketapang-gilimanuk sama kelam-kedipannya
antara saat pergi dan ketika tiba
waktu milik jalanan

laut tenang di selat yang sempit
arus di kedalaman menyasar lambung kapal yang lapar berkarat
dan oleng kelebihan muatan

di dasar yang kelam
menakar nasibmu jadi umpan
sebagai pelancong atau pendatang


ketapang

kutarik tali keinginan, kapal merapat
sebentar, kandas pandangan ke seberang
mengusut rasa sakitmu yang dulu kutinggalkan
mengemas deru angin, azan subuh,  suara-suara asongan 
jadi samanera hitam lapar
minta dibawa serta ke atas kapal
—kapal hias perayaan kecemasan—
        yang kami tunggu berjajar menunggu cap segel
        sebagai pendatang di pintu pelabuhan 

kau yang menunggu dengan tarian lapar kebebasanmu
aku dan barisan panjang ketam dan umang-umang
merong-rong tanah padas yang diasingkan kepurbaan
restuilah kuku hitam kami yang penuh telur cacing tanah

miri-sawit, juli 2008


Hujan di Bumi yang Mati

kubuat pematang untuk memisahkan derita dan senangku
milikku lumpur pekat tempat benih-benih berendam
musuh-musuh di seberang menghitung waktu dan jalan-jalan yang akan tenggelam


ke arah lubang galian harapan ditumbukkan
lubang penghisap bagi kepalan tangan, langkah kaki dan catatan cakar ayam
di buku tulis yang menampung serbuk kayu di meja dan bangku-bangku
serta runtuhan atap sekolah seperti doa-doa pelajaran di buku-kitab sekolah
        yang dikabulkan pemimpin kami yang mulia

kami yang mulia, budak pampasan di lantai cermin ruang sidang-sidang
di mikrofon, di layar mihrab pemujaan, di kitab undang-undang
lepas pergi ke dalam lubang mautmu
naungan tipu daya, muslihat pasar dan fundamentalis dusta ekonomi
        tiada milikku dan milik mereka yang dirampas akan menjerat
        hitam nafas kami, naungan kemuliaan tubuh kami

yang bergerak, yang dihujamkan ke tanah, yang dilumat tanah!
awan bergerak mengabarkan duka sarang laba-laba
menghidupkan tangan-tangan anak kami yang disalibkan di nisanmu
di nisanmu setiap kata ada masanya tak terbaca

catatan kelabu dijinakkan garis tangan
yang kami baca sendiri
wahai, pemimpin yang mulia
juru bicara tukang galian
pengepul nasib rampasan!   

kucangkul pematang
air derita, mengalirlah, ke petak penyemai lupa 
menderaslah, seperti hujan menumbuhkan biji-bijian di bumi yang mati
menjadi ingatan yang mencengkeram kesadaran yang mati 

mei 2010-februari 2011


Yang Hadir dalam Kemurnianku

duka penghiburanku...
tak soal engkau datang dari mana
tak soal aku mendayung atau arus bawah yang mengawal
dinding bagiku semua sisi
bahtera ini hanya berhasrat mengalir tujuan ke arahmu

bila daun-daun dan hujan enggan jatuh ke bumi
melayang-layang di antara aku dan langit
dan langit tunduk padamu
o, jiwa yang dipikat fana dan umpama
kusemayamkan realitasku di bawah daun-daun yang jatuh
di bawah hujan yang menimpa

aku menyaksikan dan memberi kesaksian
cinta dan aniaya menyusun batu pijak ke arah jarak
dan cemas menyimak:
        ingatan pada bunga yang tumbuh
        ditinggalkan daun-daun
        deru angin menikung di sela dahan
        menyeru layar-layar menegangkan tali-temali
        mengajarkan gerak dan suara-suara bagi hikayat kegelapanku
        ombak dikibaskan pujian bagi bahtera yang terasing
        terombang-ambing memutus pegangan kasih
        bagi kehendak pergi untuk kembali

kini, aku berlaku bagi bumi fantasimu
berpijak bagi dunia fantasiku
dalam jerat grafitasi   duka penghiburanku
aku masih terikat pada dunia ini

oh, engkau, yang hadir dalam kemurnianku
yang tercabik terserak tak utuh 

kenyataan hanyalah daun-daun
juga mimpi-mimpi hanyalah daun-daun

lemahdadi, 2009-mei 2010


Dari Kesambi

di kesambi masa tuaku telah lewat
kini kujelang masa muda dengan keriangan dewasa
yang gembira melawat tanda jejak ke arah senja

dari kesambi jalan menurun dan kelabu menuju pantai
yang dirayakan yang  tertutup silau pijar, kelambu bagi angin laut
kubentangkan peta duka dan sukaku di hadapan rencana-rencana
bisa jadi aku akan dimusnahkan oleh kesedihan
kesedihan yang membawaku padamu

dalam kehendak
yang ingin kucintai,
di masa-masa ketika kubayangkan wajahmu
dengan kecemasan yang angkuh
anganku menjauh dari lapisan cahaya dalam relung tak tembus itu
kudekati gelanggang aduan dan taruhan yang dihempaskan

gemerlap pesta, arak wangi, bujuk rayu tarian dan minum-minum
apapun yang kutinggalkan menjadi kerlap-kerlip hiasan 
kilau warna-warna memagar tiap penjuru
tenggelam dalam penghiburan, ruang dilenyapkan
tak ada pijakan
melayang, mempesona
tetapi engkau jauh dalam selubung
dan aku rindu padamu

ya, aku berhasrat padamu
hasrat padamu, dipiuh dalam tabung peruntungan mereka yang bertaruh
setiap kepalan meneriakkan namamu
tapi kutahu engkau bukan taruhan yang dihempaskan itu
aku bola aduan engkau yang menggodaku

dari kesambi jalan menurun dan kelabu menuju pantai
setiap yang bertolak dan kembali, menolakmu
keriuhan pesta meringkus suara-suara dan pendengaran
dalam kelambu raksasa yang menolak pandanganku
kusaksikan segalanya, angin laut behembus ke pendakian
berpaling dari ijab di mana dulu aku kau lepaskan
agar aku memberi tawaran bagi hasratku
dan rindumu yang kuinginkan

akankah berpencar antara aku dan dunia yang memisahkan kita
dalam kasihmu yang membebaskan aku
dari pemujaan dan pijakkan yang memintal aku
sebagai kain pembungkus jidat pendusta  
kini, aku yang meminta
inginkan aku dalam pandangan rindumu
lenyapkan aku dalam gelanggang ini

lemahdadi-sawit, desember 2010


Nur Wahida Idris, lahir di Kampung Ketugtug, Loloan Timur, Negara, Bali, 28 April 1976. Buku puisinya, Mata Air Akar Pohon. Ia aktif di Komunitas rumahlebah dan AKAR Indonesia di Yogyakarta.




























Add comment


Security code
Refresh