|
25 March 2012

Di atas Kapal Fery Ketapang-Gilimanuk
gilimanuk
kulepas segala milik kesayangan
dan saat-saat dimiliki kecemasan
berlayarlah menemui tepi laut bersawah hijau
serta musik pantai hingar-bingar
punggungmu yang oleng, disorot cahaya senja muda
di antara jendela-jendela basah yang bergerak pergi
serta tangan-tangan yang ingin merengkuh kembali
penjaga pelabuhan, gapura ujung jalan gilimanuk
mengasah runcingnya
dengan cahaya kuning kemerahan
sebelum tali tambang dilempar ke kapal
selat bali
di tengah selat bali
ketapang-gilimanuk sama kelam-kedipannya
antara saat pergi dan ketika tiba
waktu milik jalanan
laut tenang di selat yang sempit
arus di kedalaman menyasar lambung kapal yang lapar berkarat
dan oleng kelebihan muatan
di dasar yang kelam
menakar nasibmu jadi umpan
sebagai pelancong atau pendatang
ketapang
kutarik tali keinginan, kapal merapat
sebentar, kandas pandangan ke seberang
mengusut rasa sakitmu yang dulu kutinggalkan
mengemas deru angin, azan subuh, suara-suara asongan
jadi samanera hitam lapar
minta dibawa serta ke atas kapal
—kapal hias perayaan kecemasan—
yang kami tunggu berjajar menunggu cap segel
sebagai pendatang di pintu pelabuhan
kau yang menunggu dengan tarian lapar kebebasanmu
aku dan barisan panjang ketam dan umang-umang
merong-rong tanah padas yang diasingkan kepurbaan
restuilah kuku hitam kami yang penuh telur cacing tanah
miri-sawit, juli 2008
Hujan di Bumi yang Mati
kubuat pematang untuk memisahkan derita dan senangku
milikku lumpur pekat tempat benih-benih berendam
musuh-musuh di seberang menghitung waktu dan jalan-jalan yang akan tenggelam
ke arah lubang galian harapan ditumbukkan
lubang penghisap bagi kepalan tangan, langkah kaki dan catatan cakar ayam
di buku tulis yang menampung serbuk kayu di meja dan bangku-bangku
serta runtuhan atap sekolah seperti doa-doa pelajaran di buku-kitab sekolah
yang dikabulkan pemimpin kami yang mulia
kami yang mulia, budak pampasan di lantai cermin ruang sidang-sidang
di mikrofon, di layar mihrab pemujaan, di kitab undang-undang
lepas pergi ke dalam lubang mautmu
naungan tipu daya, muslihat pasar dan fundamentalis dusta ekonomi
tiada milikku dan milik mereka yang dirampas akan menjerat
hitam nafas kami, naungan kemuliaan tubuh kami
yang bergerak, yang dihujamkan ke tanah, yang dilumat tanah!
awan bergerak mengabarkan duka sarang laba-laba
menghidupkan tangan-tangan anak kami yang disalibkan di nisanmu
di nisanmu setiap kata ada masanya tak terbaca
catatan kelabu dijinakkan garis tangan
yang kami baca sendiri
wahai, pemimpin yang mulia
juru bicara tukang galian
pengepul nasib rampasan!
kucangkul pematang
air derita, mengalirlah, ke petak penyemai lupa
menderaslah, seperti hujan menumbuhkan biji-bijian di bumi yang mati
menjadi ingatan yang mencengkeram kesadaran yang mati
mei 2010-februari 2011
Yang Hadir dalam Kemurnianku
duka penghiburanku...
tak soal engkau datang dari mana
tak soal aku mendayung atau arus bawah yang mengawal
dinding bagiku semua sisi
bahtera ini hanya berhasrat mengalir tujuan ke arahmu
bila daun-daun dan hujan enggan jatuh ke bumi
melayang-layang di antara aku dan langit
dan langit tunduk padamu
o, jiwa yang dipikat fana dan umpama
kusemayamkan realitasku di bawah daun-daun yang jatuh
di bawah hujan yang menimpa
aku menyaksikan dan memberi kesaksian
cinta dan aniaya menyusun batu pijak ke arah jarak
dan cemas menyimak:
ingatan pada bunga yang tumbuh
ditinggalkan daun-daun
deru angin menikung di sela dahan
menyeru layar-layar menegangkan tali-temali
mengajarkan gerak dan suara-suara bagi hikayat kegelapanku
ombak dikibaskan pujian bagi bahtera yang terasing
terombang-ambing memutus pegangan kasih
bagi kehendak pergi untuk kembali
kini, aku berlaku bagi bumi fantasimu
berpijak bagi dunia fantasiku
dalam jerat grafitasi duka penghiburanku
aku masih terikat pada dunia ini
oh, engkau, yang hadir dalam kemurnianku
yang tercabik terserak tak utuh
kenyataan hanyalah daun-daun
juga mimpi-mimpi hanyalah daun-daun
lemahdadi, 2009-mei 2010
Dari Kesambi
di kesambi masa tuaku telah lewat
kini kujelang masa muda dengan keriangan dewasa
yang gembira melawat tanda jejak ke arah senja
dari kesambi jalan menurun dan kelabu menuju pantai
yang dirayakan yang tertutup silau pijar, kelambu bagi angin laut
kubentangkan peta duka dan sukaku di hadapan rencana-rencana
bisa jadi aku akan dimusnahkan oleh kesedihan
kesedihan yang membawaku padamu
dalam kehendak
yang ingin kucintai,
di masa-masa ketika kubayangkan wajahmu
dengan kecemasan yang angkuh
anganku menjauh dari lapisan cahaya dalam relung tak tembus itu
kudekati gelanggang aduan dan taruhan yang dihempaskan
gemerlap pesta, arak wangi, bujuk rayu tarian dan minum-minum
apapun yang kutinggalkan menjadi kerlap-kerlip hiasan
kilau warna-warna memagar tiap penjuru
tenggelam dalam penghiburan, ruang dilenyapkan
tak ada pijakan
melayang, mempesona
tetapi engkau jauh dalam selubung
dan aku rindu padamu
ya, aku berhasrat padamu
hasrat padamu, dipiuh dalam tabung peruntungan mereka yang bertaruh
setiap kepalan meneriakkan namamu
tapi kutahu engkau bukan taruhan yang dihempaskan itu
aku bola aduan engkau yang menggodaku
dari kesambi jalan menurun dan kelabu menuju pantai
setiap yang bertolak dan kembali, menolakmu
keriuhan pesta meringkus suara-suara dan pendengaran
dalam kelambu raksasa yang menolak pandanganku
kusaksikan segalanya, angin laut behembus ke pendakian
berpaling dari ijab di mana dulu aku kau lepaskan
agar aku memberi tawaran bagi hasratku
dan rindumu yang kuinginkan
akankah berpencar antara aku dan dunia yang memisahkan kita
dalam kasihmu yang membebaskan aku
dari pemujaan dan pijakkan yang memintal aku
sebagai kain pembungkus jidat pendusta
kini, aku yang meminta
inginkan aku dalam pandangan rindumu
lenyapkan aku dalam gelanggang ini
lemahdadi-sawit, desember 2010
Nur Wahida Idris, lahir di Kampung Ketugtug, Loloan Timur, Negara, Bali, 28 April 1976. Buku puisinya, Mata Air Akar Pohon. Ia aktif di Komunitas rumahlebah dan AKAR Indonesia di Yogyakarta.








