Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Konfrontasi Estetika dan Keberdayaan Seniman

“Seni bukan lagi persoalan estetika. Lebih dari itu, menyangkut kemanusiaan.” Demikian isi pidato sambutan Vukar Iodak, pemerhati seni rupa, di malam pembukaan SACCHARINE Smile Agoes Jolly, di Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 17-31…

Kompleksitas Kesederhanaan Sketsa dan Puisi Romo Mudji

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Sketsa dianggap karya seni rupa yang belum jadi. Sebab dari sketsa seorang perupa akan menggarapnya menjadi lukisan di masa-masa mendatang. Sketsa jamaknya dibuat di suatu tempat dan waktu ketika si perupa menemukan…

"Can Smile on The Wall" Memberi Makna Pada Tembok Kusam

IndonesiaSeni.com, Bandung - Bertempat di sepanjang Jalan Setasiun Barat Hingga Jalan Setasiun Timur, Bandung, Sabtu 4 Agustus 2012 Preman Urban dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bersama puluhan Street Artist nasional  menggelar kegiatan yang bertajuk…

Bahasa Warna Bahasa Hati Iswanto

IndonesiaSeni.com, Jakarta- Satu tambah satu bagi pelukis produktif Iswanto hasilnya bukan dua, tapi bisa jadi seribu, satu juta, bahkan bilangan tak berbilang. Dari satu objek, satu ide, satu warna, satu fundamental, ia bisa mengolahnya menjadi…

Raden Saleh, Sang Maestro

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Memasuki wilayah yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan secara antusias lewat penceritaan, tulisan maupun gambar, tentu sebuah pengalaman mendebarkan. Apalagi, kepergian ke tempat tersebut untuk mempelajari apa yang sangat digemari sekaligus keahliannya: melukis.Raden…

You are here: Home Wacana & Kritik Raden Saleh Melukis Binatang

Raden Saleh Melukis Binatang

PDFPrintE-mail



Tulisan ini dimuat untuk menyambut 200 tahun Raden Saleh
dan Pameran Monografi hasil karya pelukis yang baru pertama kali
diadakan di tanah airnya Indonesia yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut
bersama Kedutaan Besar Jerman di Galeri Nasional pada 3 - 17 Juni 2012

Di Indonesia, siapa yang tak mengenal Raden Saleh?walau hanya sebatas nama saja. Maestro seni lukis modern Indonesia ini namanya terpampang di plang jalan-jalan utama di kota-kota Indonesia. Raden Saleh yang memiliki nama lengkap Raden Saleh Sjarief Boestaman. Ia terlahir dari keluarga bangsawan Jawa pada sekitar tahun 1807 atau 18141  di Terboyo, Semarang, Jawa Tengah, rupanya tak hanya dikenal di Indonesia saja. Masyarakat Eropa akrab dengan namanya. Tidak heran karena memang Raden Saleh pernah tinggal di beberapa negara Eropa, seperti Belanda, Prancis, Italia, Austria, dan Jerman. Di Eropa bakat melukis seniman asal Jawa ini memesona orang-orang Barat pada zamannya.



Menelusuri karakter
Atas rekomendasi guru gambarnya yang berkebangsaan Belgia, Antoine Payen, dia berkesempatan mendapat beasiswa dikirim ke Belanda untuk belajar melukis pada 1829. Dimulai dari negeri yang tengah menjajahnya ini, Saleh “tamasya” ke beberapa negeri Eropa selama sekitar 23 tahun.  Di Belanda sendiri, bakat Saleh kian bersinar. Karakternya mulai terasah. Di sini, tema-tema alam yang khas aliran Belanda berupa simbol-simbol didapat dari guru-gurunya. Selama lima tahun di Belanda, Raden Saleh belajar lukisan potret dari Cornelis Kruseman dan pemandangan dari Andries Schelfhout.

Tema ini nantinya akan berubah saat dia melukis di Dresden, Jerman. Tema alam yang sesungguhnya alam (Kusumo, 2007).
Beberapa tahun di Belanda, Raden Saleh meminta untuk tidak dipulangkan ke Indonesia dengan alasan ingin belajar ilmu pasti dan litografi. Permintaannya itu pun dikabulkan. Namun, karena keinginan kuatnya pada seni lukis dan menemukan dua guru, Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout, Saleh segera ingkar pada janjinya itu. Beberapa tahun kemudian, dia dikirim ke Dresden, Jerman, untuk menambah ilmunya. Selama lima tahun dia menjadi tamu kehormatan Kerajaan Jerman.



Di sini, Raden Saleh meninggalkan jejak yang mengesankan. Dia menunjukkan representasi orang Indonesia pada zamannya, dan kualitasnya sebagai seorang seniman lukis. Selama di Jerman, Raden Saleh menetap lama di kota Dresden. Dresden merupakan sebuah kota di Jerman yang dibelah oleh sungai Elbe dan letaknya tak jauh dari perbatasan Ceko dan Polandia. Dresden didirikan oleh bangsa Slavia yang mendiami Jerman bagian Timur dari abad ke-7 hingga abad ke-10. Konon kota ini didirikan pada 1206. Di kota ini pada 26 dan 27 Agustus 1813 berlangsung pertempuran sengit pasukan Napoleon Bonaparte dari Prancis melawan Austria. Di Dresden ini dia banyak bergaul dengan para seniman kenamaan dan intelektual yang menambah wawasannya. Selama menetap di Istana Maxen, tersebutlah nama-nama kondang zamannya yang pernah berinteraksi dengan Saleh, seperti penyair, editor, dan novelis  Jerman Johann Ludwig Tieck; komponis dan kritikus musik, Robert Schumann; penyair dan pendongeng, Hans christian Andersen; serta penyair dan penulis, Karl Ferdinand Gutzkow. Para bangsawan sering mengunjungi tempat ini untuk menikmati karya mereka. Di tempat ini pula Raden Saleh berkenalan dengan Raja Sachsen Coburg dan Gotha Ernst II, serta Alexandrine istrinya. Di sini tapak jejak Saleh terlihat jelas. Dia banyak menghasilkan lukisan dalam waktu yang cepat.

Dari Dresden, dia ke Weimar, Jerman pada 1843. Lalu kembali ke Belanda setahun kemudian. Di Belanda, Saleh menjadi pelukis di istana Kerajaan Belanda. Pelukis Prancis, Ferdinand victor Eugene Delacroix, merupakan pelukis beraliran romantisme yang dia kagumi. Dari sini, dia bereksperimen ke pelukisan binatang yang ditabrak dengan sifat manusia agresif. Dari Prancis, dia bersama pelukis Prancis, Horace Vernet?meski diragukan oleh Sardono W Kusumo berdasarkan Mariae Odette Scalliet2? pergi ke Aljazair dan tinggal beberapa bulan pada 1846. Di sini, dia menghasilkan karya lukis yang menggambarkan perkelahian binatang buas dengan manusia maupun binatang lainnya. Raden Saleh pun pernah mengunjungi Austria dan Italia. Pada 1851 dia kembali ke Hindia Belanda.

Di Hindia, dia bertugas menjadi seorang konsevator di Lembaga Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni. Selain itu, dia melukis potret keluarga keraton dan pemandangan. Dia menikahi janda kaya bernama Wilkenhagen. Tak lama kemudian, dia menikah kembali dengan Raden Ajeng Danurejo, gadis keluarga ningrat keturunan Keraton Yogyakarta, setelah bercerai dengan istri terdahulunya. Dia tinggal di Batavia dan menyulap halamannya yang luas menjadi kebun binatang. Pada 1875, dia berkunjung lagi ke Eropa bersama istrinya dan kembali di 1878. Lalu, menetap di Bogor. Raden Saleh wafat di Bogor pada 23 April 1880. Konon, dia mati diracun oleh seorang pembantunya yang ingin memiliki lukisannya. Tapi, banyak informasi yang menyebutkan dia mati lantaran penyakit trombosis atau pembekuan darah.

Kritikus lukisan dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, dalam artikel di Kompas edisi 19 Mei 2004 berjudul “Karya Lukis Raden Saleh Kurang Dihargai Pemerintah”, mengatakan bahwa selama “petualangannya” Raden Saleh menghasilkan empat tema besar lukisan, yaitu tema potret, panorama, binatang, dan manusia dalam lingkaran drama. Tema-tema soal binatang, dan pergulatan binatang dengan manusia ini yang menurut Sudarmadji (1982: 112) merupakan salah satu tema terkuat Raden Saleh, selain lukisan potret. Kata Suwarno, melalui lukisan binatang, Raden Saleh menggambarkan pandangan kritis terhadap persoalan sosial, kultural, dan politik serta renungannya tentang hidup dan kehidupan.
Binatang dalam lukisan

Sudarmadji (1982: 112) mengatakan, lukisan Raden Saleh bercorak naturalistis. Artinya, bentuk dan pewarnaannya mewujudkan kesamaan realita. Kata Sudarmadji, melukis dengan cara begitu, di Indonesia Raden Saleh lah yang memulainya. Selain masyhur dengan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibahas habis oleh Dr. Peter Carey, tema alam, dan lukisan potret; tema binatang juga tak bisa dilepaskan dari buah kreatifitas Raden Saleh. Tema binatang ini banyak dihasilkan oleh Raden Saleh saat dia berada di Eropa dan saat kembali di tanah air.
Jika kita menilik lukisan-lukisannya, tampaknya dia tidak sembarangan membuat karya. Carey menulis kalau lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) merupakan bentuk perlawanannya terhadap kolonial. Dalam lukisan itu, Pangeran Raden Saleh sengaja membuat kepala besar Belanda, referensi untuk keangkuhan dan arogansi. Dalam lukisan tersebut juga ada sosok wajah Raden Saleh dalam bentuk prajurit Diponegoro, dengan dua karakter, yang menunduk dan yang berdiri tegak.

Dalam sebuah artikelnya, Arifni Netrirosa (2003), mengatakan hubungan antara simbol dan seni sangat erat. Istilah simbol sendiri mengacu pada sebuah proses atau kegiatan, ada gerak pemikiran manusia yang dinamis, karena terjadi suatu proses perubahan secara gradual atau bertahap menuju sasaran. Makna simbol seni, kata Arifni, bukan merupakan gabungan makna yang dikandungnya secara kontributif. Banyak sekali seniman menggabungkan simbol-simbol itu ada di dalam seni dan merupakan kontribusi secara khusus yang tergabung dalam karya seni. Simbol-simbol di dalam seni dapat memberikan kandungan arti dalam kesuburan, kesucian, kelahiran kembali, cinta, tirani, dan lain-lain. Arifni mengatakan, simbol dalam alam pemikiran dan kreasi manusia (seni) termasuk simbol presentasional. Simbol presentasional adalah simbol yang cara pengungkapannya tidak memerlukan intelek, dengan spontan menghadirkan apa yang dikembangkannya. Simbol ini dapat berdiri sendiri sebagai simbol yang utuh, artinya bukan dibangun dari suatu konstruksi atau secara bertahap, melainkan satu kesatuan yang utuh. “Maknanya tidak bisa ditangkap dengan logika, tetapi dengan intuisi langsung,” tulis Arifni. Lebih lanjut, Arifni menulis, seperti halnya bentuk seni lainnya, lukisan pun cuma bisa ditangkap melalui arti keseluruhan, lewat hubungan antara elemen-elemen simbol dalam struktur keseluruhan. “Seorang seniman dikatakan menciptakan lukisan, bukan menyusun lukisan, walaupun sebelum memulai melukis, seorang Affandi atau Basuki Abdullah terlebih dahulu mempersiapkan perlengkapan lukisanya. Dalam hal ini, mereka bukan menyusun, melainkan mencipta dari yang tidak ada menjadi ada: lukisan. Jadi lukisan merupakan gimbal dari ekspresi Affandi atau Basuki Abdullah. Tapi gimbal seni bukan suatu susunan, jadi tak dapat dikatakan teratur atau tidak teratur. Simbol seni adalah satu dan utuh, karena itu ia tidak menyampaikan makna (meaning),” tulis Arifni.

Dalam kaitannya dengan lukisan Raden Saleh yang bertema binatang, banyak peneliti dan pelaku seni menduga ada “simbol” di dalamnya. Prof. P. J. Veth, seorag guru besar Belanda, memuji lukisan Raden Saleh yang bertema binatang. “(Raden Saleh melukis) kijang yang lincah, kuda yang gagah, banteng yang tinggi hati, harimau yang haus darah, dalam detik-detik waktu mereka sedang terbakar oleh semangat perburuan atau ketakutan bahaya yang tak bisa dihindari, dilecut dengan luapan semangat tinggi...”

Sepanjang karirnya sebagai pelukis, ada banyak judul lukisan yang bertema binatang, semisal Antara Hidup dan Mati (1848), Antara Harimau dan Kerbau, Harimau dan Mangsanya, Perkelahian dengan Singa (1870),  Perburuan Kijang di Jawa, Berburu Singa di Jawa, Singa dan Ular (1839), dan Macan dan Ular (1862). Ketut Wiyana dalam bukunya berjudul Lukisan-lukisan Raden Saleh: Ekspresi Antikolonial mengungkapkan, lukisan Perkelahian dengan Singa yang dibuat pada 1870, bergaya romantisme paradoks, memperlihatkan seseorang yang dalam keadaan setengah jatuh dari kudanya, masih berjibaku dengan seekor singa yang menerkam punggung kuda berwarna hitam. Wiyana (2007: 142) dalam bukunya tadi mengatakan kalau lukisan ini merupakan bentuk perlawanan Raden Saleh terhadap penguasa kolonial, karena dirinya pernah diperlakukan semena-mena. Wiyana berkaca pada peristiwa sebelumnya, yaitu ketika Raden Saleh ditangkap dan diadili oleh pemerintah kolonial karena dituduh terlibat dalam pemberontakan di Bekasi pada 1869. Padahal keterlibatannya sulit dibuktikan.

Banyak orang yang menafsirkan bahwa lukisan Antara Hidup dan Mati yang menggambarkan pergulatan antara seekor banteng dan dua ekor singa sebagai perlambang bangsa Indonesia yang disimbolkan banteng melawan kolonial Belanda yang disimbolkan dua ekor singa. Dalam artikel di www.raden-saleh.org berjudul “Prince Raden Saleh-Aristocrat, Artist, Scientist and Patriot”, penulisnya (mungkin Harsja Bachtiar) menulis, “pada tahun 1839, Raden Saleh melukis satu dari karya agungnya berjudul Singa dan Ular, yang merupakan simbolisasi peperangan abadi antara yang baik dan jahat, dan Delacroix melukis lukisan dengan tema yang sama berjudul Macan dan Ular pada 1862.”

Namun, kurator seni rupa ITB, Heru Hikayat, mengatakan hal yang berbeda. Menurutnya, "pesan tersembunyi" selalu ada. Tapi berbicara nasionalisme Raden Saleh, dia termasuk orang yang berpendapat hal ini ambigu. “Karya-karya Raden Saleh yang menggambarkan alam "Timur" dibikin ketika ia sudah ada di Eropa, dan memukau kaum elit di sana. Seturut Onghokham, saya berpendapat, karya-karya Raden Saleh menarik perhatian Eropa karena ia memenuhi imajinasi Barat tentang Timur yang eksotik. Khusus menyangkut tema binatang, saya curiga Raden Saleh justru mendapat rincian dalam keadaan berjarak: ia mengamati binatang di kebun binatang, dengan pandangan saintifik ala Barat,” kata Heru.

Alasan Heru, pertama, makna ada di mana? Ia mengatakan, siapa yang bilang banteng dan harimau adalah perlambang perjuangan pribumi? “Saya, bukan menentang simbolisasi ini, saya cuma menginginkan sesuatu yg lebih dalam. perlambangan ini terlalu dangkal. Kedua, kalau kita jadi tertarik pada sesuatu di sekitar kita karena orang asing menganggapnya bagus, bukankah ini ambigu? Misalnya kita jadi sibuk ngomongin reog gara-gara reog diklaim oleh Malaysia. Sebelum ada kontroversi ini, kita mungkin tidak punya ketertarikan apa pun pada reog,” katanya. Heru mengakui, ini baru sekadar kecurigaannya saja. “Kalau betul Raden Saleh mulai melukis binatang-binatang yang "eksotis" di Eropa, maka dia sesungguhnya tak tertarik pada binatang liar di habitat aslinya. Dia tertarik pada kehidupan binatang liar ketika dia sudah mengadaptasi cara pandang Barat yang orientalis. Dengan begitu dia menjadi orientalis bagi alam dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Sardono W Kusumo dalam artikelnya juga mengatakan, bisa juga lukisan Raden Saleh yang dikatakan sebagai hidden message oleh banyak ahli itu, seperti Horace Vernet yang dikaguminya, sekadar melukis suasana di Aljazair di mana para penunggang kuda sering mendadak oleh singa gurun.
Jika kita kembali melihat artikel soal simbol dalam karya seni yang ditulis oleh Arifni Nitrirosa, kita pun bebas menafsirkan apapun soal lukisan bertema binatang karya Raden Saleh ini. Sebab, katanya makna dalam karya seni tidak bisa ditangkap dengan logika, tetapi dengan intuisi langsung. Terlepas dari itu, kita bisa mengakui bahwa Raden Saleh adalah seorang pelopor lukis modern Indonesia yang turut mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Bahkan, International Astronomical Union pada 2008 memberi nama salah satu dari lima belas kawah di Planet Merkurius dengan namanya, bersama nama-nama seniman, musisi, dan pengarang terkenal di dunia.
 

Fandy Hutari, penulis, editor lepas, dan jurnalis. Menulis esai, cerpen, dan buku. Esai dan cerpennya dimuat di berbagai media, baik cetak maupun online. Bukunya yang sudah terbit berjudul Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (Ombak, 2009), Ingatan Dodol; Sebuah Catatan Konyol (IMU, 2010), Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (InsistPress, 2011). Salah satu cerpennya ada dalam buku antologi Be, Strong Indonesia! Edisi 4. Kumpulan cerpennya yang akan terbit berjudul Manusia dalam Gelas Plastik.Saat ini masih menjadi penulis dan editor lepas, serta jurnalis di sebuah majalah di Kota Bandung.




Sumber Bacaan:

Buku
Carey, Peter. 2004. Asal Usul Perang Jawa; Pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden Saleh. Yogyakarta: LKiS.
Bachtiar, Harsja. W dkk. 2009. Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme. Jakarta: Komunitas Bambu.
Hasan, Asikin (ed.). 2001. Dua Seni Rupa; Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman. Jakarta: Yayasan Kalam.
Soekarman, M. Sulebar. 1998. “Perkembangan Seni Lukis di Jakarta; Peranan Besar Persagi”, dalam Dari Mooi Indie Hingga Persagi. Jakarta: Museum Universitas Pelita Harapan.
Sudarmadji. 1982. Pelukis dan Pematung Indonesia. Jakarta: Aries Lima.
Wiyana, I Ketut. 2007. Lukisan-lukisan Raden Saleh; Ekspresi Antikolonial. Jakarta: Galeri Nasional Indonesia.

Artikel
Dermawan. T, Agus. 2007. “Dua Abad Misteri Raden Saleh”, dalam Media Indonesia, 6 Mei 2007.
Kusumo, Sardono. W. 2007. “Raden Saleh 200 Tahun (1807-2007)” dalam Kompas, 22 April 2007.
Netrirosa, Arifni. 2003. “Simbol dalam seni Merupakan Jenis Simbol Presentasional” dalam USU Digital Library.
“Karya Lukis Raden Saleh Kurang Dihargai Pemerintah” dalam Kompas 19 Mei 2004.

Internet
www.raden-saleh.org.
www.wikipedia.org.






1.  JJ. Rizal menulis tahun kelahiran Raden Saleh sebagian orang menyebut tahun 1814 atau 1815, sebagian lagi 1809 atau 1810. (Lihat Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie dan Nasionalisme, Jakarta: Komunitas Bambu, hal xi). Namun Harsja W. Bachtiar dalam tulisannya berjudul “Raden Saleh: Bangsawan, Pelukis, dan Seniman” di buku yang sama menyebut tahun 1814 sebagai tahun kelahirannya, tapi ia memberikan catatan kaki bahwa Sukanto meragukan tanggal ini berdasarkan sebuah surat kepada Residen Semarang yang ditandatangani ibu Raden Saleh. Ibu Raden Saleh menyebutkan dalam suratnya bahwa pengasuhan anaknya diserahkan pada Paijen, sang pelukis, di tahun 1817. Perkiraan Sukanto, Raden Saleh lahir pada 1807. Harsja beragumentasi bahwa ibu Raden Saleh salah memberikan tanggal. Ia berpendapat, usia Raden Saleh mestinya lebih tua dibandingkan tahun yang diberikan Sukanto. Oleh karena itu, Harsja memberikan tahun 1814 dibandingkan 1807. Memang dalam banyak literatur disebutkan bahwa tahun 1807 adalah tahun kelahiran Raden Saleh. Artikel Agus Dermawan T berjudul “Dua Abad Raden Saleh” di Media Indonesia edisi 6 Mei 2007 juga menguatkan hal itu. Agus menulis bahwa para ahli sejarah seni memilih 1807 sebagai tahun kelahiran Raden Saleh. “Apalagi ketika makam Raden Saleh di Bondongan, Bogor, yang dikeramatkan dan acap dipakai untuk cari wangsit itu mematok prasasti yang menulis angka 1807”, tulis Agus.

2.  Sardono W Kusumo menduga Raden Saleh hanya melihat Aljazair dari lukisan Horace Vernet (lihat Sardono W Kusumo, “Raden Saleh 200 Tahun (1807-2007)”, Kompas, 22 April 2007).



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites

Add comment


Security code
Refresh

  •    Latest News   

  •    Most Read   

  •    Hot News   

290x70-3


Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Apresiasi

  • Sosok

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Esai

contrib
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Peluang dan Kesempatan

Twitter Updates

Copyright © 2011 Indonesia Seni - Bentang Informasi Seni dan Budaya Indonesia.