Thursday, Jun 20th

Last update12:47:50 PM GMT

You are here: Wacana & Kritik

Suara Lirih dari Sungai Bedog

IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Raungan sirine terdengar mengaum memekakkan telinga. Ratusan pengunjung yang hadir di tepi sungai Bedog pun menutup telinga mereka. Sementara itu di atas rakit perupa Joko Pekik melarung sebuah lukisan "Celeng" (babi hutan) di aliran Sungai Bedog yang sangat der...

Sensasi Youtube dan Artis Karbitan

    Sudah hampir dua minggu belakangan ini publik dicekoki oleh aksi Briptu Norman Kamaru, seorang anggota Satuan Brigade Mobil (Brimob) Gorontalo yang mendadak melejit namanya karena goyang India-nya di Youtube. Stasiun televisi seperti tidak bosan-bosannya menyetel lagu India dan menyorot...

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fa...

Melawan Arogansi Dengan Kirab Budaya

    IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Jogja memang istimewa. Ketika polemik  status keistimewaan Propinsi DIY tak juga ada kejelasan, rakyat pun melawan. Tidak dengan  sikap anarkis dan angkat senjata, tetapi dengan sebuah Kirab Budaya. Ini sebuah perlawanan khas rakyat Jogjakarta, ...

Membicarakan “Namaku Mata Hari” dan “Max Havelaar”

    IndonesiaSeni.com, Bandung - Pada 13 Desember 2010 lalu, diadakan acara bertajuk “Sejarah dalam Novel dan Film” oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) bekerjasama dengan Penerbit Gramedia dan Perpustakaan Batu Api di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran...



Wacana dan Kritik

DONGENG EPISTEMOLOGI: Alam Pikiran Melayu antara Amok Massa dan Mitos Pribumi Malas - Sebuah Rekonstruksi Nalar

E-mail Print PDF




"Saya ingin mencoba dan memahami mengapa begitu banyak orang melakukan

kejahatan dalam nama identitas," -- Amin Maalouf, In The Name of Identity

 

Pada tahun 2001 seorang perupa kenamaan Indonesia, Entang Wiharso, membuat sebuah pameran tunggal bertitel “Nusa Amuk”. Pameran di Bentara Budaya dan Taman Budaya Jogjakarta yang dikuratori oleh Jim Supangkat dan ko-kurator Suwarno Wisetrotomo ini merupakan sebuah refleksi atas beberapa kejadian, khususnya di sekitar era reformasi 1997-1998, dimana banyak terjadi kasus kekerasan fisik dan konflik berdarah di Indonesia yang cukup menggegerkan dunia internasional. Sekitar tahun 1996-2001 Indonesia memang tengah mengalami masa pergolakan yang cukup luar biasa. Ambruknya penguasa rezim Orde baru Suharto didahului oleh krisis moneter dan disintegrasi sosial yang melahirkan serangkaian kerusuhan; demo mahasiswa dan masyarakat, penjarahan, pembakaran tempat ibadah, pemerkosaan etnis tertentu (terutama Tionghoa) dan ketika akhirnya Suharto mengundurkan diri, meletus beberapa kasus perang antar etnis yang mengancam keutuhan bangsa. Media-media internasional menyebut peristiwa kekerasan berdarah itu sebagai Amok. Sebuah suku kata dalam bahasa melayu yang berarti kemarahan yang luar biasa dan tidak bisa terjelaskan oleh akal sehat.

Page 1 of 6

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  Next 
  •  End 
  • »
  •    Latest News   

  •    Most Read   

  •    Hot News   

Twitter Updates