Resensi Buku
|
17 March 2011

Saat mendengar Sutasoma, segera berkelebat ingatan kepada Muhammad Yamin -- pemuda yang mengusulkan seloka "Bhinneka Tunggal Ika" untuk dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Muhammad Yamin mengambil kata itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.
Secara lengkap bait 5 berbunyi:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)
Kutipan tadi merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno versi "Kapustakan Jawi" karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah ini disadur Pu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India. Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Dalam konteks usulan Muhammad Yamin, ia hendak menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di Indonesia.








