Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di…

Puisi-Puisi Sarah Monica

SANG PEMBURUDengarlah, hai sang penguasa waktu;tanahMu berhutang atas tiap denyut yang darahku getarkan,lautMu mengemis dari tiap garam yang aku teteskan,dan di puncak ubun-ubunku, langitMu tidak lagi merajaatas takdir yang kugoreskan sendiri di urat keningku.Di mana…

Tarian Kata - kata: Bedah Buku dan Pertunjukan Puisi Badruddin Emce

Hanya para pendendam tega menyalahkanmu,lalu menangkapmu, memenjarakanmuseumur puisi.IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Baris-baris dalam puisi Diksi Para Pendendam itu dibacakan di depan puluhan hadirin dalam acara Tarian Kata-Kata: bedah buku dan pertunjukan puisi Diksi Para Pendendam karya…

Cerpen: Cawat dan Kutang Ibu

        Saya hampir lupa kapan terakhir Ibu membeli kutang dan cawat baru untuk memberi baju identitas perempuan-nya itu. Dulu Ibu adalah seorang pedagang pakaian, kembali saya ingat-ingat, Ibu memang tak pernah membeli kutang dan cawat,…

Cerpen: Mandul

Sudah lebih dari enam bulan aku tinggal di Jakarta. Meninggalkan kampung halamanku di Gunung Kidul karena tak lagi ada asa untuk bertahan hidup. Tanah di kampungku tak lagi bisa ditanami sayur-mayur, karena sebab panjang makin…

Resensi Buku

 

cover-novel-sutasoma

 

 

Saat mendengar Sutasoma, segera berkelebat ingatan kepada Muhammad Yamin -- pemuda yang mengusulkan seloka "Bhinneka Tunggal Ika" untuk dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Muhammad Yamin mengambil kata itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

Kutipan tadi merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno versi "Kapustakan Jawi" karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah ini disadur Pu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India. Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Dalam konteks usulan Muhammad Yamin, ia hendak menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di Indonesia.