Benarkah Tak Ada Karya Sastra Indonesia yang Mendunia Selama 100 Tahun?
Written by Team Redaksi
|
02 March 2013

Bulan Februari 2013 ini, ramai dibicarakan soal polemik Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, dengan Damar Juniarto alias Amang Suramang, seorang publisis dan moderator komunitas baca Goodreads. Polemik berawal, ketika Damar menulis sebuah artikel di Kompasiana berjudul “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya.” Dalam tulisannya tersebut, jika dibaca dengan jeli, Damar sesungguhnya tak sedang memojokkan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Menurut pengakuannya di Tempo edisi 20 Februari 2013, ia cuma melakukan verifikasi terkait karya Andrea tersebut. Ada tiga hal yang Damar pertanyakan dalam tulisannya di Kompasiana.
Pertama, ia melakukan kroscek soal benar atau tidaknya Laskar Pelangi diterbitkan ulang oleh penerbit internasional yang menerbitkan karya-karya pemenang nobel sastra, yakni Farrar, Straus, dan Girroux (FSG). Menurut pengakuan Damar dalam artikelnya, ia telah terlebih dahulu melakukan wawancara dengan CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi. Damar menyimpulkan, Laskar Pelangi yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Rainbow Troops diterbitkan oleh Sarah Crichton Books, sebuah imprint penerbit FSG. Kedua, Damar menyebutkan kalau gelar international best seller untuk bukunya itu tidak jelas. Yang menarik dan membuat saya sedikit kaget adalah, temuan ketiga Damar yang ia dapatkan dari situs berita Metronews.com edisi 12 Februari 2013. Dalam situs tersebut, Andrea bilang, “hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdulillah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.”
Pernyataan ini menarik. Sebab, mengundang banyak “kicauan” dari berbagai kalangan. Meski Damar sendiri mengakui, tidak bisa datang langsung ke konferensi persnya dan mungkin salah kutip.”Kalau begitu, apa semua media yang datang salah kutip?” kata Damar dalam Tempo, edisi 25 Februari 2013. Buntut dari polemik ini, Damar akan dimejahujaukan oleh Andrea, karena dinilai mengganggu integritasnya sebagai penulis. Menurutnya, penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu sifatnya prinsipil.
Lalu di mana posisi Pram dan lain-lain?
Menurut beberapa sumber, Laskar Pelangi dapat predikat international best seller di Turki. Penerbit-penerbit ternama, termasuk penerbit Butik Yayinlari di Turki yang menerbitkan Laskar Pelangi dengan judul Gokkusagi Askerleri telah mencantumkan predikat tadi di kover bukunya. Menurut Andrea, di beberapa negara, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, Cina, Korea, dan Vietnam, novel Laskar Pelangi mengalami penjualan yang mengesankan. Tapi, yang sangat disayangkan adalah pernyataan Andrea terkait tak ada karya anak bangsa yang mendunia.
Pernyataan Andrea ini langsung memicu perdebatan di kalangan sastrawan dan kritikus sastra. Komentar pedas datang dari penyair dan kritikus sastra, Saut Situmorang. Ia mengatakan, “padahal sastrawan Pramoedya Ananta Toer telah berkali-kali jadi nominasi hadiah nobel sastra sebelum Andrea bisa cebok sendiri….” (Rimanews.com, 25/02/2013).
Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang sastrawan Indonesia yang mendunia. Sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925 dan wafat pada 30 April 2006 lalu, ini sudah menyabet berbagai penghargaan sastra dunia, di antaranya Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat pada 1988; The Fund for Free Expression, Amerika Serikat, pada 1989; Wertheim Award, Leiden, Belanda, pada 1995; Ramon Magsaysay Award, Manila, Filipina, pada 1995; Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang, pada 2000; The Norwegian Authors Union pada 2004; dan Centenario Pablo Neruda, Chili, pada 2004.
Karya monumental Pram, tetralogi Pulau Buru, yakni Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca, sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa. Bumi Manusia, yang mengisahkan perjuangan seorang wartawan bernama R.M. Tirto Adi Soerjo, ia ketik di mesin tik tua yang sudah bobrok dalam masa tahanannya di Pulau Buru pada 1973. Pram sebenarnya mendapatkan kiriman mesin tik penulis dan filsuf Prancis, Jean Paul Sartre. Tapi, mesin tik itu tak pernah sampai ke tangannya, lantaran tentara menggantinya dengan mesin tik bobrok, yang pitanya dibuat sendiri oleh para tahanan.
Pram juga menulis ratusan karya sastra fiksi dan nonfiksi, yang sampai sekarang masih diburu penikmat sastra. Yang membuat karya Pram diakui dunia internasional adalah kualitas tulisannya yang sangat baik. Pesan-pesan dalam tulisan Pram juga sangat realis. Pembaca diajaknya untuk menikmati karyanya seperti menonton film. Tulisannya menyiratkan pesan moral, humanitas, dan antifeodalisme. Artinya, pesannya bisa diterima secara universal. Namun, dari semua jerih payahnya selama hidup, Pram pernah bilang,”karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia.”
Selain Pram, ada N.H. Dini, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, dan lain-lain. Nurhayato Sri Hardini Siti Nukatin atau yang populer dengan N.H. Dini, dilahirkan di Semarang pada 29 Februari 1936. N.H. Dini banyak menulis karya sastra yang mengisahkan kehidupan perempuan. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain Pada Sebuah Kapal, La Barka, Orang-Orang Tran, Pertemuan Dua Hati, dan Hati yang Damai. Selain itu, ia menulis cerita pendek, novelet, dan cerita kenang-kenangan. Perempuan yang kini berusia 76 tahun ini pernah mendapatkan penghargaan SEA Write Award di bidang sastra di pemerintah Thailand. Ahmad Tohari pun tak kalah mendunia, kok. Pria kelahiran Banyuwangi pada 13 Juni 1948 ini terkenal dengan karyanya Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala). Selain itu, novelnya yang lain, di antaranya Kubah (1980), Di Kaki Bukit Cibalak (1986), dan Bekisar Merah (1993). Ia juga menulis cerita pendek. Trilogi Ronggeng Dukuh Pruk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, seperti Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris. Pada 1990, ia mendapatkan penghargaan The Fellow of The University of Iowa. Jasa-jasa Buat Sanwirya, salah satu cerpennya, mendapat hadiah hiburan sayembara Kincir Emas pada 1975 yang diadakan oleh Radio Nederlands Wereldomroep. Pada 1995, Tohari mendapat hadiah sastra Asean, SEA Write Award.
Lalu ada Mochtar Lubis yang kelahiran Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya berupa novel dan cerpen, antara lain Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956), Kuli Kontrak (1982), dan Harimau! Harimau! (1975). Ia mendapatkan penghargaan Magsaysay dari pemerintah Filipina pada 1958 dan Pena Emas dari World federation of Editor and Publisher (1967). Masih ada banyak sastrawan yang saya rasa punya kualitas baik dan diakui dunia, sebut saja Umar Kayam, Achdiat K. Mihardja, Goenawan Mohamad, Moetinggo Boesje, Seno Gumira Adjidarma, dan lain-lain. Kalau kita membaca pernyataan Andrea Hirata di awal tulisan ini, lalu pantas kita bertanya-tanya, lantas di mana posisi Pramoedya dan lain-lain?
Kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin
Pada 1984, Ahmad Tohari pernah juga berpolemik dengan F Rahadi dalam majalah Horison edisi Januari 1984. F Rahadi menulis sebuah kritik berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk: Cacat Latar yang Fatal.” Dalam tulisan tersebut, Rahadi di antaranya menulis,”penulis berulangkali menekankan bahwa Dukuh Paruk adalah sebuah pedukuhan miskin. Sampai-sampai, anak-anak makan dengan menggunakan daun pisang tiap hari. Ini terlalu ekstrim. Orang desa itu bisanya praktis. Tahun 50-an memang belum ada plastik termasuk piring plastik. Tapi toh sudah ada piring seng atau alumunium? Bagaimana kalau mereka tak kuat beli piring seng atau alumunium? Biasanya pakai layah atau cobek tanah atau tempurung kelapa. Daun pisang itu mahal dan bagi warga Dukuh Paruk terlalu berharga untuk disobeki tiap hari. Mending dibawa ke pasar ditukar garam dan sabun” (fharadi.wordpress.com).
Kemudian, ditanggapi lagi dengan tulisan oleh Ahmad Tohari berjudul “Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra: salam Buat Pak Guru Biologi” di majalah Horison edisi Maret 1984. Lalu, F Rahardi membalas lagi dengan tulisan berjudul “Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk: Hantam Kromo Bikin Keqi” dalam majalah Horison edisi Mei 1984. Tapi, melalui polemik ini, Ahmad Tohari tetap berkarya, sehingga lahir trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yakni Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986), setelah Ronggeng Dukuh Paruk sendiri terbit pada 1982. Bahkan, karyanya ini mendapat sambutan dari pembacanya, diterjemahkan dalam bahasa asing dan difilmkan dengan judul Sang Penari pada 2011 lalu.
Benar, banyak faktor yang menjadikan sebuah karya diakui oleh pembaca. Banyak juga faktor buku laku di pasaran. Salah satunya melalui marketing atau promosi yang gencar. Sebuah karya, yang sudah dilempar ke publik, tentu tak hanya mengundang decak kagum. Tentu ada pula kritik. Nah, nasib karya ya di tangan pembacanya. Bisa jadi karya kita dikritik habis, bisa pula dilempar pujian bertubi-tubi. Tentu sikap bijak kita lah sebagai penulis menanggapi itu semua. Sebagai seorang penulis—karena tak mau disebut sastrawan—harusnya Andrea membalas tulisan Damar itu dengan tulisan pula. Konon, orang besar harus berbuat lebih bijak dalam melangkah, kepala boleh panas, tapi hati harus tetap dingin. Saya yakin, karya Andrea Hirata tetap ada dan tidak akan tenggelam begitu saja, jika Andrea tetap bersikap dingin dan terus berkarya.
Fandy Hutari, penulis dan editor buku.