Tuesday, 18 June 2013 19:47

Merangkap profesi perupa sekaligus dosen bukanlah hal baru.Yang patut dibincangkan: apakah mereka tahan uji dan bagaimana hasil karyanya? Pameran seni kontemporer bertema “melihat/dilihat” di Galeri Nasional Indonesia Juni 2013 ini cukup menarik untuk dijadikan lahan dialog dan mari kita mencoba mendedah beberapa hal.
Wednesday, 23 January 2013 06:01

“Seni bukan lagi persoalan estetika. Lebih dari itu, menyangkut kemanusiaan.” Demikian isi pidato sambutan Vukar Iodak, pemerhati seni rupa, di malam pembukaan SACCHARINE Smile Agoes Jolly, di Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 17-31 Desember 2012. Pameran seni rupa yang digagas Yayasan Kreasi Pitulungan memberi perhatian dan apresiasi bagi seniman Agus Jolly yang terbelenggu penyakit diabetes dan berjuang bertahan hidup di tengah kesulitan kebutuhan primer. Sedikitnya 200 orang hadir, mendengarkan para tokoh bicara, dan penyair Sihar Ramses Simatupang membacakan puisi yang diciptakannya khusus bagi Agoes Jolly. Sementara tokoh nasional Fadli Zon menegaskan, “Bangsa yang beradab menghargai kebudayaannya. Pemerintah mestinya memperhatikan kehidupan seniman.”
Sunday, 21 October 2012 17:00

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Sketsa dianggap karya seni rupa yang belum jadi. Sebab dari sketsa seorang perupa akan menggarapnya menjadi lukisan di masa-masa mendatang. Sketsa jamaknya dibuat di suatu tempat dan waktu ketika si perupa menemukan objek yang membuat naluri kreatifnya muncul. Sketsa tak ubahnya ungkapan spontan dari si perupa dan pada saat itu perupa langsung menumpahkan dalam bentuk sketsa. Hanya saja, sketsa disimpan dulu di laci si perupa, entah kapan kemudian berdasarkan dari sketsa itu menciptakan karya berupa lukisan utuh.
Friday, 10 August 2012 08:21

IndonesiaSeni.com, Bandung - Bertempat di sepanjang Jalan Setasiun Barat Hingga Jalan Setasiun Timur, Bandung, Sabtu 4 Agustus 2012 Preman Urban dan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bersama puluhan Street Artist nasional menggelar kegiatan yang bertajuk 'Can Smile On The Wall’. Acara yang diselenggarakan oleh Preman Urban, Portal Bandung, Pacific Paint, dan PT. KAI yang didukung oleh ISAD (Indonesian Street Art Database) dan Indonesiaseni.com ini digelar sebagai bentuk Pra Event International Street Art “KOTA” Festival Bandung 2013. Acara yang digelar mulai tanggal 4 hingga 7 Agustus dan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan ini cukup mengundang antusias para seniman. Terhitung puluhan Street Artist atau yang kerap juga disebut Bomber berpartisipasi menjadikan tembok di sepanjang ruas Setasiun Barat hingga Setasiun Timur Bandung ini sebagai “kanvas” mereka.

Meski cuaca Bandung sedang panas terik tidak menyurutkan semangat para Bomber untuk berkarya di dinding-dinding luar Setasiun Bandung dengan cat dan perlengkapan yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Beberapa Street Artist Bandung, sebut saja MUTE, The Yellow Dino, Kampret Syndicate dan Woles Team Writer hadir sebagai tuan rumah untuk ikut meramaikan acara, sedangkan dari luar kota seperti: CAPZ (Jakarta) dan MNC (Surabaya), juga turut berpartisipasi dalam event ini.
Karya yang ditampilkan berbentuk mural, grafiti dan stensil. Tema-tema yang muncul juga beragam, dari himbauan keamanan dan keselamatan dalam menggunakan kereta api sampai kritik sosial terhadap keadaan yang menggejala di lingkungan sekitar mereka. Iwan Ismael salah seorang koordinator event ini menyatakan bahwa menggambari tembok-tembok kusam memberikan tantangan dan gairah tersendiri buat mereka. Kegairahan itulah yang melandasi kawan-kawan Preman Urban menyelenggarakan event 'Can Smile On The Wall’. Disamping sebagai wadah untuk menuangkan ide dan berekspresi, karya-karya para Bomber ini ikut pula memberi makna dan mempercantik tembok-tembok kota dengan warna-warna serta idiom-idiom khas para Bomber.
Foto oleh: Yossy Arafat
Page 1 of 11

