
"Saya ingin mencoba
dan memahami mengapa begitu banyak orang melakukan
kejahatan dalam nama
identitas," -- Amin Maalouf, In The Name of Identity
Pada tahun 2001 seorang
perupa kenamaan Indonesia, Entang Wiharso, membuat sebuah pameran tunggal
bertitel “Nusa
Amuk”. Pameran di Bentara Budaya dan Taman Budaya Jogjakarta
yang dikuratori oleh Jim Supangkat dan ko-kurator Suwarno Wisetrotomo ini
merupakan sebuah refleksi atas beberapa kejadian, khususnya di sekitar era
reformasi 1997-1998, dimana banyak terjadi kasus kekerasan fisik dan konflik
berdarah di Indonesia yang cukup menggegerkan dunia internasional. Sekitar
tahun 1996-2001 Indonesia memang tengah mengalami masa pergolakan yang cukup
luar biasa. Ambruknya penguasa rezim Orde baru Suharto didahului oleh krisis
moneter dan disintegrasi sosial yang melahirkan serangkaian kerusuhan; demo
mahasiswa dan masyarakat, penjarahan, pembakaran tempat ibadah, pemerkosaan
etnis tertentu (terutama Tionghoa) dan ketika akhirnya Suharto mengundurkan
diri, meletus beberapa kasus perang antar etnis yang mengancam keutuhan bangsa.
Media-media internasional menyebut peristiwa kekerasan berdarah itu sebagai Amok.
Sebuah suku kata dalam bahasa melayu yang berarti kemarahan yang luar biasa dan
tidak bisa terjelaskan oleh akal sehat.