- All Sections
- content: Lokus (2)
- content: Rupa (18)
|
IndonesiaSeni.com, Jakarta – Jakarta Biennale, ajang pameran seni rupa berskala internasional, kembali digelar tahun ini. Memasuki tahun ke 14, Jakarta Biennale kali ini mengusung tema urban bertajuk “Maximum City: Survive or Escape”, sebagai konsep yang menghadirkan fenomena kota Jakarta yang sesak disertai berbagai permasalahannya yang kompleks. Di tengah kesesakannya, masyarakat menempuh jalan yang berbeda-beda, entah mencoba bertahan atau justru kabur dari tekanan yang dihadapi. Hal tersebut yang direspon oleh Jakarta Biennale kali ini dengan mengelar pameran seni karya penderita Skizofrenia bertajuk “Hospital Without Wall”.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, Emiria Soenassa adalah seniman masa lalu, namun bagi sebagian orang lagi, khususnya para perempuan, sosok Emiria merupakan sumber inspirasi dan semangat dalam berkarya. Apa pun pendapat dan tanggapannya, sejarah seni rupa Indonesia telah mencatat bahwa Emiria Soenassa adalah pelukis perempuan yang juga sebagai perintis seni lukis perempuan di Indonesia.
Seni jalanan atau lebih karib disebut street art, hari ini memang kian majemuk menampakkan parasnya. Ia, sepertinya mewakili semangat zaman yang serba mungkin. Nilai estetika di dalam seni sendiri, semakin hari semakin terbuka menyambut berbagai gejala perubahan sosial serta berkembangnya posisi sub kultur yang makin menguat di ranah urban.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Pengalaman adalah guru yang sangat berharga, sebuah ungkapan kuno yang masih terpelihara dan tumbuh dengan sehat dalam hati dan pikiran kita (masyarakat dan para seniman Indonesia). Posisi pengalaman tersebut bisa kita tempatkan sebagai subjek-objek dalam sebuah pengkaryaan. Posisi subjek merupakan posisi yang memiliki fungsi dan peranan aktif dalam pengelolaan suatu ide-ide kreatif, peranan dalam pemotretan suatu kenyataan, terlebih yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dirasakan secara langsung dan jernih.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Mengamati pameran tunggal Entang Wiharso “Love Me Or Die”, pengunjung seakan diajak untuk memasuki tamasya visual yang estetik dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan multitafsir. Karya yang bermain dengan liar, mencampurkan fakta dan fiksi; di dalamnya ada emosi, hasrat, peristiwa, dan imajinasi. Karya yang misterius sekaligus menghidupkan, yang idenya tercetuskan oleh satu fondasi tunggal, bahwa semata-mata kedalaman cinta akan menimbulkan hasrat dan gairah menaklukan dan mematikan.
IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Militer dan kesenian adalah dua dunia yang berbeda. Namun, kedua dunia ini mampu disatukan secara sempurna lewat sosok Marsekal Muda TNI Sudjadijono, SE dan Kolonel Purn. H. Totok Sudarto. Melalui dampingan perupa Djoko Pekik, kedua tentara ini menggelar pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Seekor gajah setinggi dua meter berdiri kokoh, gajah ini merupakan karya instalasi, disusun dari puluhan bambu yang dimodifikasi sehingga dapat melentur dan membentuk gajah, lengkap dengan gading dan belalainya. Berdekatan dengan instalasi gajah, pengunjung diajak masuk ke dalam terowongan, yang disusun dari kaleng softdrink dan botol minuman bekas, pencahayaan berwarna biru menambah kekuatan dalam karya rupa instalasi Hedi Hariyanto yang ia namai “Menapaki Jejak”.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Lelaki kurus dengan tato menghiasi sekujur tubuh hingga wajahnya itu melangkah sempoyongan, memberikan sambutan dengan aksen cadel terpatah-patah, bernyanyi sumbang, mabuk. Malam itu ia tak sendiri, istri dan teman-temannya hadir, juga seorang DJ cantik – Milinka Radisic, yang telah pula berjanji untuk ‘memanaskan’ Kemang yang sedang hujan. Lelaki itu Bob Sick, pelukis muda dengan segala atribut ekstrim dan karya-karyanya yang demikian produktif membuat namanya meroket dalam jagad seni lukis kontemporer Indonesia.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Usia kerap menjadi suatu titik perenungan bagi banyak orang, seperti halnya yang dilakukan oleh perupa Hanafi. Pada usia yang ia sebut sudah mencapai ‘separuh’ ini, ia menyelenggarakan pameran tunggalnya yang bertajuk “Saat Usia Lima Puluh” di Galeri Nasional Jakarta yang berlangsung 6-18 April 2010. Pameran tunggal yang dikuratori oleh Jean Couteau dan Jim Supangkat ini menghadirkan 30 lukisan dan 3 karya instalasi terbaru Hanafi.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - "I was unable to sense changes in the world at large, but i knew the world around me changed." – Fajar Roma Agung Wibisono. Kalimat itu muncul sebagai pengantar catatan kuratorial Fery Oktanio pada katalog pameran tunggal Fajar R.A Wibisono bertempat di Srisasanti Arthouse, 24 Maret 2010. Seniman muda ini menampilkan lebih dari 20 karya yang semuanya mengambil tema perang, sesuai dengan tajuk pamerannya, “Immortal War”.
Indonesiaseni.com, Yogyakarta - Setelah mengalami masa kejayaan di era 90-an, seni lukis abstrak seperti mati suri. Banyak perupa lukis abstrak yang dulu punya nama, tiba-tiba menghilang. Pasar lukis dikuasai seniman realis dan lukis abstrak terpinggirkan. Dalam upaya membangkitkan kembali gairah seni lukis abstrak, 7 perupa abstrak menggelar pameran “Soulscape” di Taman Budaya Yogyakarta.
Indonesiaseni.com, Yogyakarta - Karya seni rupa selalu menarik untuk diapresiasi. Sebab, memberikan kekebasan imajinasi kepada siapapun yang menyaksikannya. Begitu juga dengan pameran karya perupa Treeda Mayrayanti yang digelar di Sangkring Art Space Yogyakarta pada 10-22 Februari ini. Mengusung tema “Strangers My Pillow”, Treeda mencoba memberikan pemaknaan yang baru terhadap arti hidup hingga akhirnya ada dua pilihan yang ditemuinya: dihadapi atau lari.
Indonesiaseni.com, Bandung - Kepekaan pada hal-hal kecil dan sederhana yang lekat dalam keseharian kadang bisa hilang, ketika hal itu sudah menjadi sesuatu yang begitu biasa ada dalam kehidupan kita. Namun demikian, seringkali kita tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil dan sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari itu justru dapat mempengaruhi, dan bahkan memberikan perubahan dalam kehidupan. Disadari atau tidak.
Indonesiaseni.com, Bali - Menikmati lukisan Jeihan, kita seolah-olah tertarik masuk dalam sebuah ruang dimana manusia menjadi sebuah unsur dengan kedalaman jiwa dan pengalaman batin dari setiap individu. Kemampuan sang maestro perupa Indonesia dapat kembali dinikmati di pameran yang diberi judul “Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan”, 27 Desember 2009-17 Januari 2010 di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Bali. Sekilas Biennale Jogja X - 2009 JOGJA JAMMING: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja
Perempatan lampu merah Gondomanan. Sebuah kotak minuman raksasa berwarna merah bergaris putih ala Coca-Cola terpampang di salah satu tiang pojok lampu merah. Isinya ternyata bukan Coca-Cola minuman bergas itu, melainkan es cendol. Tulisan “es cendol” dengan lekuk-lekuk yang menyerupai bentuk cendol itu terpampang di salah satu sisi kotak tersebut, sedang sisi lainnya bertuliskan “es dawet.” Kotak yang melekat dan membungkus tiang lampu merah itu membuat orang yang melintas di jalan tersebut membaca, dan mungkin mengamatinya. Kotak minuman itu adalah karya dari komunitas RSJ (Rumah Seni Jogja).
Indonesiaseni.com, Bandung - Corni adalah panggilan akrab pengajar filsafat dan seni lukis di Southern Cross University di Lishmore, New South Wales-Australia. Cornelius Delenay nama lengkapnya. Ia salah satu seniman yang melaksanakan program Artist in Resident selama dua bulan di Jatiwangi Art Factory (JaF). Tepatnya di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Indonesiaseni.com, Jakarta - Apa yang ada di balik lukisan Made Wianta? Dalam gemerlap warna atau garis lurus, menikung, dan berkelindan. Mewujud bentuk yang mengurai realitas atau jauh bersembunyi di dalam ruang-ruang imaji. Bagaimanakah ruh sebuah karya saat jejak-jejaknya dibaca dan ditafsir ulang? Akankah bereinkarnasi menuju kesempurnaan yang lebih tinggi? |

