Wednesday, Jun 19th

Last update12:47:50 PM GMT

You are here: Home
Search
Search Keyword: Total 7 results found.
Tag: Esai Ordering
Sastra Banjar Modern: Langkah Si Yatim Menuju Gerbang Mimpi

/ 1 /

Dalam lingkup yang luas, istilah “sastra Banjar” mengacu pada seluruh karya sastra yang diungkapkan dalam bahasa Banjar, baik dengan media lisan maupun tulisan. Batasan tersebut sekaligus merepresentasikan bahwa dalam khazanah sastra Banjar secara historis maupun dari segi estetiknya – sebagaimana juga dalam lingkungan sastra lainnya – terdapat ruang dialektis yang kemudian memunculkan dikotomi “sastra klasik” dan “sastra modern”. Namun, dalam banyak publikasi dan berbagai pembicaraan tentang sastra Banjar selama ini tampaknya telah terjadi distorsi pengertian yang menyaran hanya pada karya-karya sastra klasik atau sastra lisannya saja. Jadi, dengan demikian, sebutan sastra Banjar dipandang masih identik dengan mantra, syair, pantun, cerita-cerita rakyat, atau bentuk-bentuk khusus seperti andi-andi, lamut, dan madihin.1

IndonesiaSeni.com - Ketika berbicara tentang sastra daerah, kesan pertama yang segera muncul di benak kita biasanya langsung tertuju pada persoalan eksternal sastranya, persoalan sosiologisnya. Masalah tersebut terutama menyangkut kondisi dan perkembangannya yang cenderung selalu seret, terjepit, terpinggirkan, bahkan nyaris terlupakan. Fenomena semacam itu tentu saja bukan sesuatu yang luar biasa di tengah sebuah “negara besar” —bukan sebuah negara adidaya, maksud saya— yang multietnis dan sangat plural seperti Indonesia (namun, hal itu bukan berarti kita tak perlu menyayangkan dan memperjuangkannya). Sebab, bagaimanapun, politik kebudayaan yang dipilih dan dilakukan pemerintah —dengan asumsi (baca: dalih) tercapainya kesatuan dan persatuan bangsa atawa demi terjaganya stabilitas nasional— sudah pasti akan mengarah pada satu titik bernama “keindonesiaan” yang lebih-kurang berarti “penyeragaman”. Oleh karena itu, dengan segala peluang dan kemujurannya, kiranya tidak sepatutnya jika dalam konteks ini kita memperbandingkan kondisi sastra daerah dengan sastra Indonesia, meski kondisi sastra Indonesia pun sesungguhnya masih relatif merisaukan juga.i

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang.

Cerpen - Cerpen Terbaik "Kompas"

 

Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 16 cerpen terbaik, mulai dari “Kado Istimewa” (Jujur Prananto) hingga “Cinta di Atas Perahu Cadik” (Seno Gumira Ajidarma). Dan paling mutakhir, di tahun 2009 ini, terpilih cerpen Nukila Amal, “Smokol”. Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra. Mulai 2005, Kompas mencoba mengubah dengan memberikan otoritas pemilihan itu kepada ”orang luar”, yakni mereka yang dianggap memiliki kredibilitas dalam sastra sebagai juri untuk melakukan pemilihan cerpen terbaik.

Ironi Barat Dalam Sebuah Novel

Novel tidak memiliki aturan baku agar ditulis dalam cara tertentu agar pembaca mengikuti jalannya cerita dari awal hingga akhir. Aturan baku tersebut antara lain terlihat pada semua novel yang beredar di masyarakat pembaca, yakni dengan alur pembuka-konflik-penyelesaian. Juga, alur tersebut tidak saja acuan utama dalam novel tetapi juga di dalam film. Terutama dalam film produksi Holywood, alur ini mendapat kedudukan penting bagaimana sebuah materi cerita disusun menurut alur tersebut seolah-olah alur itu satu-satunya strategi agar sebuah film bisa dibuat dan dinikmati. Dalam novel, alur semacam ini nyaris tidak dipertanyakan lagi baik di kalangan penulis sastra maupun dari pihak pembaca. Sejauh sebuah novel dapat mengetengahkan konflik secara menarik kemudian pembaca dapat mengapresiasinya, novel dipandang selesai menjalankan tugasnya.

Tags: Fiksi Esai
Penyair, Buku Dan Website

Kenapa puisi harus dibukukan? karena puisi adalah hadits palsu yang sohih, perawinya tak lain penyairnya sendiri yang mengetahui Asbabul Puisi (penyebab lahirnya puisi), meski tak ada pembacanya sekalipun.

Rangsangan Kesusastraan

Bukanlah misteri kenapa karya kesusastraan terus ditulis, dan tak sedikit alasan dan “fungsi” yang bisa dikemukakan mengenai keberadaannya. Karya kesusastraan hadir seiring gerak manusia dan kenyataan hidupnya yang tak padam menjadi sumber utama penciptaan karya kesusastraan. Karya kesusastraan telah turut merawat dan menyimpan ruahan impian dan frustrasi manusia di suatu masa.

Twitter Updates