- All Sections
- content: Lokus (1)
- content: Sastra (2)
|
/ 1 / Dalam lingkup yang luas, istilah “sastra Banjar” mengacu pada seluruh karya sastra yang diungkapkan dalam bahasa Banjar, baik dengan media lisan maupun tulisan. Batasan tersebut sekaligus merepresentasikan bahwa dalam khazanah sastra Banjar secara historis maupun dari segi estetiknya – sebagaimana juga dalam lingkungan sastra lainnya – terdapat ruang dialektis yang kemudian memunculkan dikotomi “sastra klasik” dan “sastra modern”. Namun, dalam banyak publikasi dan berbagai pembicaraan tentang sastra Banjar selama ini tampaknya telah terjadi distorsi pengertian yang menyaran hanya pada karya-karya sastra klasik atau sastra lisannya saja. Jadi, dengan demikian, sebutan sastra Banjar dipandang masih identik dengan mantra, syair, pantun, cerita-cerita rakyat, atau bentuk-bentuk khusus seperti andi-andi, lamut, dan madihin.1 IndonesiaSeni.com - Ketika berbicara tentang sastra daerah, kesan pertama yang segera muncul di benak kita biasanya langsung tertuju pada persoalan eksternal sastranya, persoalan sosiologisnya. Masalah tersebut terutama menyangkut kondisi dan perkembangannya yang cenderung selalu seret, terjepit, terpinggirkan, bahkan nyaris terlupakan. Fenomena semacam itu tentu saja bukan sesuatu yang luar biasa di tengah sebuah “negara besar” —bukan sebuah negara adidaya, maksud saya— yang multietnis dan sangat plural seperti Indonesia (namun, hal itu bukan berarti kita tak perlu menyayangkan dan memperjuangkannya). Sebab, bagaimanapun, politik kebudayaan yang dipilih dan dilakukan pemerintah —dengan asumsi (baca: dalih) tercapainya kesatuan dan persatuan bangsa atawa demi terjaganya stabilitas nasional— sudah pasti akan mengarah pada satu titik bernama “keindonesiaan” yang lebih-kurang berarti “penyeragaman”. Oleh karena itu, dengan segala peluang dan kemujurannya, kiranya tidak sepatutnya jika dalam konteks ini kita memperbandingkan kondisi sastra daerah dengan sastra Indonesia, meski kondisi sastra Indonesia pun sesungguhnya masih relatif merisaukan juga.i IndonesiaSeni.com, Jakarta - Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi ketiga.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang. |





