- All Sections
- content: Pertunjukan (1)
- content: Sastra (8)
|
Di atas Kapal Fery Ketapang-Gilimanukgilimanukkulepas segala milik kesayangan dan saat-saat dimiliki kecemasanberlayarlah menemui tepi laut bersawah hijau serta musik pantai hingar-bingar punggungmu yang oleng, disorot cahaya senja muda di antara jendela-jendela basah yang bergerak pergiserta tangan-tangan yang ingin merengkuh kembali PADIKami tumbuh dari benih yang sama. Mencintai hujan dan tuhan yang sama hijaunya. Menunggu masa tua. Dan merunduk dalam hening kuning yang sama. Begitu kiranya kami selalu mengasup luas sawah. Sungai dan sang sri menjaga kami sampai sembada. Kata sungai, petani yang menemukan kami. Menamai marga kami sebagai padi. Dan bertekad menghidupi kami dengan segenap raga. Tapi kami tahu, hidup kami yang mengilhami petani bagaimana hidup sewajarnya. Menghijau sama-sama. Merunduk sama rata. Hingga kami dibawa dengan sapi dan pedati yang sama. Dalam tidur yang membuat kami tak bertanya, ke mana kami dibawa. Dan tahu-tahu, kami sudah tak terhidang tenang dalam satu meja. IndonesiaSeni.com - Ketika berbicara tentang sastra daerah, kesan pertama yang segera muncul di benak kita biasanya langsung tertuju pada persoalan eksternal sastranya, persoalan sosiologisnya. Masalah tersebut terutama menyangkut kondisi dan perkembangannya yang cenderung selalu seret, terjepit, terpinggirkan, bahkan nyaris terlupakan. Fenomena semacam itu tentu saja bukan sesuatu yang luar biasa di tengah sebuah “negara besar” —bukan sebuah negara adidaya, maksud saya— yang multietnis dan sangat plural seperti Indonesia (namun, hal itu bukan berarti kita tak perlu menyayangkan dan memperjuangkannya). Sebab, bagaimanapun, politik kebudayaan yang dipilih dan dilakukan pemerintah —dengan asumsi (baca: dalih) tercapainya kesatuan dan persatuan bangsa atawa demi terjaganya stabilitas nasional— sudah pasti akan mengarah pada satu titik bernama “keindonesiaan” yang lebih-kurang berarti “penyeragaman”. Oleh karena itu, dengan segala peluang dan kemujurannya, kiranya tidak sepatutnya jika dalam konteks ini kita memperbandingkan kondisi sastra daerah dengan sastra Indonesia, meski kondisi sastra Indonesia pun sesungguhnya masih relatif merisaukan juga.i Badruddin EmceRANCANGAN RUMAHRumah ini, dengan kesepakatan istri, kurombak buat apa saja, hingga tiga bulan lalu, lewat celah jendela, malam yang dingin menyentuh gigi berlubang anak terkecil kami. Sesuai rancangan, tangis mengiris kami biarkan mengiris.Tak jadi bercinta dan melek hingga Subuh, kami berangkat kerja tanpa mandi terlebih dulu seperti saat gempa Tasik. Lalu semalam kami coba menahan sunyi di tempatnya mulai. Mengiau. Naik ke atap. Bergulingan di bidang miring, sampai tanpa kami sadari jatuh tersangkut keranjang bola. Paginya tetangga cerita, anak laki-laki pertamanya ingin jadi pebasket ternama.Kami melakukan apa saja yang bisa. Terkadang sendiri-sendiri. Terkadang satu keluarga. Terkadang dunia tergoda, tetapi lupa mencatatnya. Terkadang dianggap biasa.Kroya, 2011
Penyair Sattah mulai kita kenal, ketika puisi-puisinya dimuat dalam majalah sastra Horison sekitar tahun 70-an. Kemudian dalam acara Pertemuan Sastrawan Indonesia 1974, ia lekas menarik perhatian karena penampilannya dalam membaca puisi secara unik dan segar. Dari karya-karyanya dan cara pembacaannya menimbulkan kesan kepada kita bahwa Sattah memiliki ciri-ciri tersendiri. Sementara itu juga menumbuhkan kesan yang mendalam, bahwa karya-karya Sattah banyak mengingatkan kita pada karya-karya Sutardji Calzoum Bachri. Umpamanya baris puisi ini :
Saat Musim Kawin Tiba
Kerinduan telah mengajari kita Bahwa kenangan tak ubahnya buku tua Yang terbuka sampulnya. Di kedalaman matamu Bulan juga tak sepenuhnya jujur pada angin
Sedang di geletar dadaku kau rasakan gerimis Bergerak sopan di balik jendela dan pepohonan Lalu kita berpelukan bagai sepasang kepiting Yang enggan dilepas dari jaring nelayan
Kita pun menyalakan lilin dalam kamar Sambil mengenang usia yang telah lewat Menjadi cerita yang tak terbayangkan Menjadi kenangan yang tak ingin dikekalkan
Malam menyisakan rintik kerinduan yang unik Dan kita mulai bercakap tentang lelaki yang rapuh Atau seorang perempuan yang keras kepala Sejak itu kita percaya tuhan memang maha bijaksana
Dengan ketangkasan maling kucium bibirmu Untuk menghapus jejak rindu, kataku kelu Di dadamu, harimau sumatera menggeram iba Mungkin karena musim kawin akan segera tiba
Tapi kita sepakat tak mengundang butiran salju Turun dari puncak ketinggian masa lalu Maka dengan sabar kutelusuri garis tubuhmu Seperti kesabaran puteri keraton meraba porselin
Di puncak bukit cahayamu aku tergelincir Di kedamaian lembah malumu aku tertidur Bulan menggigil saat kusentuh ujungnya Menghapus jejak subuh yang tak terbaca
Yogyakarta, 2009
Indonesiaseni.com, Bandung - Puisi merupakan emosi, imajinasi, pemikiran, ide, sekaligus irama yang membaur. Ketika dipertunjukkan di sebuah ruang, ia menjadi sebentuk apresiasi, seperti ketika sebuah puisi membicarakan tentang eksistensi perempuan dalam cawan kehidupan. Sabtu, (19/12) lalu, Ayi Kurnia Iskandar menggelar pertunjukan puisi bertajuk “Puisi Perempuan Indonesia” di Kedai Mediterrazia, Dago Atas, Bandung.
Indonesiaseni.com, Jakarta - Kebesaran seorang seniman bisa diukur dari berbagai sisi. Biasanya kita menilai dari karya-karyanya, intensitas, pengabdian maupun totalitasnya dalam berkesenian selama hidupnya. Kita juga bisa menilai dari orang-orang yang mencintainya. Dan pada ajang Festival Rendra yang dibuka kamis malam kemarin (26/11), semua sisi itu melebur dalam sosok W.S. Rendra.
Striptease
1 Jalan itu sunyi. aku takut, katamu. Di sini ramai. Di sana orang-orang minum bir. Ada anggur. Tukang becak riang bernyanyi. Dia cuma tidur. Polisi lalu lalang. Perempuan malam bekejaran. Wariamu melompat pagar menembus rerumputan. Mobil patroli bukan berarti garukan. Bisa tuan. Kau tak tahu. geresan. Cuma para perempuan, katamu. Cepat masuk ke gang. Rumah kita lebih aman. Tapi aku tak mau di rumah. Di luar lebih rindang. Malam-malam dia selalu bergitar. Kafe rindu beberapa tahun yang lalu. Kau nostalgia di sini. Selasar dua tingkat tempatmu tidur dengannya. Hanya botol bir bintang berserakan. Aku tidak suka bir hitam katamu. Aku akan membeli satu lagi. Anker bir. Dia berbaring. Lagi-lagi kau ingin mandi. Ini tengah malam, katanya meremas jam weker. Tak usah kaunyalakan. Bukan gelap. Bulan masih terang. Tentu kita tak perlu bangun subuh-subuh. Air di jendela masih tawar. Aku ingin mencampuri embun. Tak usah banyak-banyak. Cukup empat puluh lima persen. Aku ingin tujuh puluh. Nanti kau berkeringat. Tidak, aku ingin mandi. Dia diam. Lalu kau membasahi tubuhmu. Lalu kau dan dia tidur. Malam di ujung balkon penginapan yang kausewa. |





