|
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Tika and The Dissidents, sebuah band yang memprovokasi pendengarnya untuk mencoba berpikir ulang, membuka ruang pandang dan kemungkinan tentang berbagai hal; Bahwa cinta tak hanya sah bila dijalani antara laki-laki dan perempuan saja. Patah hati tak harus membuat kita menjadi cengeng. Bahwa televisi ternyata bukan teman terbaik kita, karena realitas yang tersaji di layar kaca seperti bius yang mematikan, membuat kita lupa dan malas untuk berpikir kritis. Pembunuhan intelektualitas yang dianalogikan seperti ketika Pol Pot membantai ribuan orang tak berdosa di Kamboja itu disampaikan dalam irama tango yang segar dengan lirik seperti ini : |

