Wednesday, Sep 08th

Last update05:00:00 PM GMT

You are here: Resensi Buku “Sastra Pranikah” : Trah, Citra, dan Keluarga

“Sastra Pranikah” : Trah, Citra, dan Keluarga

E-mail Print PDF

 

Cover Buku Sastra Pranikah

 

Maka menulislah Nyi Vinon. Buku yang menawarkan embel-embel “sastra” pada judulnya meski bukan berarti buku ini sebagai karya sastra; namun Nyi Vinon menuliskannya dari tetesan tebu gerbong kenangan tempo dulu. Rindu akan masa lalu tergambar dalam sketsa-sketsa futuristik karya Nyi Vinon. Ketika Nyi Vinon menjadi kenek angkot pertama di Cirebon; Nyi Vinon kecil mengasuh adik dengan mengotel becak; Nyi Vinon yang bangga dengan penyakit panunya, mengumbar rasa marahnya. Semua dikemas dalam sampul biru tosca kuda buroq. Ini juga mengingatkan tentang dunia spiritual yang membahas perkembangan sejarah rasul Muhammad. Ukuran buku dan tata letak cerita begitu menggoda untuk memasuki dunia kecil Nyi Vinon, gaya bahasa, skema cerita, yang dituturkan santai, nakal, imajiner dan apik.

 

Ada tersirat untuk mengadopsi prinsip dan pemikiran Nyi Vinon yang panjang tentang mengungkap selubung trah, konsep sejarah. Nyi Vinon menuliskannya dengan situasi filosofis yang berlangsung dalam kerangka pemikirannya. Alih-alih memahami sejarah kehidupannya sebagai sebuah tulisan tentang kejadian-kejadian di masa lalu atau rekaman kronologis dan penjelasan sebab musababnya, Nyi Vinon menuliskannya sebagai sebuah risalah yang tidak hanya menegaskan suatu “kehadiran” tapi juga “ketidakhadiran”. Sejarah hanyalah masalah representasi yang menyembunyikan kepentingan “pengakuan” yang berlapis-lapis dari pihak yang ada atas pihak yang tidak ada.

 

Apa yang hendak diceritakan Nyi Vinon? semua ringkas, jelas. Nyi Vinon mewakili gambaran kehidupan masa pencarian, bercerita tentang sebuah trah, garis keturunan. Nyi Vinon menyatakan bahwa lewat trah dalam kaitan dengan kehidupan yang ditampilkannya mewakili garis keturunan manusia, bahwa siapa pun, muslimin dan muslimat, di timur maupun di barat, sing uripe keduhung lan melarat, semua bisa-secara hangat, inklusif dan bersahabat–disebut mempunyai trah, yang di dalamnya terkandung kesadaran tentang “ke-kita-an” yang jelas. Trah mengandung “kita” dan semua yang bukan trah disebut “mereka”, atau “yang lain”. Trah mengandung-atau menampilkan-gagasan eksklusifisme. Perkara identitas, Nyi Vinon mendifinisi diri, agar sebuah keluarga dapat-dan kalau perlu dengan mudah-dikenali ciri-ciri fisik, dan sifat-sifatnya, untuk pencitraan berbeda dari identitas pihak lain. Identitas, atau definisi diri-dengan ciri-ciri dan sifat-sifat yang jelas dalam buku ini-membantu seseorang yang sedang mengalami “disorientasi”. Untuk memilih dengan siapa, atau ke dalam kelompok mana ia sebaiknya bergabung. Pencitraan diri yang secara sosial, politis dan ideologis cukup jelas dan prestisius. Ini proses inkubasi pencarian akomodasi sosio-kultural yang tak selalu mudah, di dalam masyarakat atau keluarga manapun.

 

Nyi Vinon tidak menghindarkan diri dari debu pesisir, panas yang menggigit, atau dingin angin amis yang menusuk sampai ke tulang. Kita memang bisa membikin sebuah esei panjang lewat rangkaian pengalaman dan menuliskannya menjadi sebuah buku. Buku yang mewakili suatu realitas hidup yang kompleks, dengan alat bantu “trah” untuk menjelaskan apa maknanya. Dengan kata lain, buku ini bisa “berbicara” sendiri untuk menjelaskan muatan yang terhimpun di balik endapan cerita masa lalu.

 

Memang tidak mudah menampilkan garis keturunan yang substantif cuma lewat tulisan pada buku ini. Sebagai konsep, “kekeluargaan” itu perkara tafsiran, dan tiap tafsiran berdiri di atas bayangan atau citra–politis, religius, kultural, ideologis-dibentuk di dalam kontruksi kesadaran. Dan kontruksi kesadaran akan trah. Kesadaran biasanya dipengaruhi oleh pujian, kekaguman, rasa hormat, atau sebaliknya; kecurigaan, kedengkian dan rasa benci yang mendalam. Dengan demikian, bila menilai bahwa segala trah itu socially constructed, maka harus disadari bahwa kontruksi itu bersifat subyektif, dan dibatasi kepentingan “ke-aku-an”, atau “ke-kita-an”, tanpa pernah menyertakan kepentingan lain, yang disapa sebagai “mereka”, atau “yang lain”. Akibatnya bila memang sejak kecil kontruksi kesadaran yang sudah terbentuk pada diri seseorang mengatakan bahwa “kekeluargaan” itu tandanya harus sedarah dari rahim yang satu, mungkin dari rahim yang berbeda akan menafsirkan “ikatan darah” itu cermin kedalaman sedulur papat lima pancer. Dan pengejawantahan sedulur papat lima pancer itu sendiri ke dalam hidup, jelas akan kecewa pada sebuah keluarga yang hanya menampilkan keistimewaan trah sebagai sosiologis, dengan simbol luar yang dangkal. Ia akan menuntut ekpresi “ikatan darah dan trah” yang lebih mendalam, lebih esensial, lebih isoterik, sebab selain kerangka atau konsep, kekeluargaan pun punya jiwa, dan kedalaman yang tak terukur.

 

Trah, citra atau sebuah “keluarga” dinamik, yang akan memberinya “api” ikatan darah, bukan “abu”nya sedulur papat lima pancer yang statis dan beku, nambang dawa pasrah jaluk urip. Saya setuju akan prinsip hidup Nyi Vinon. Lanjutkan saja membaca buku ini. Salam

 

Ipon Bae

Penulis, kartunis, fotografer di Pikiran Rakyat Edisi Cirebon

 

Judul Buku : Sastra pranikah

Penulis : Nyi Vinon

sketsa isi : Nyi Vinon

Penerbit : daun buku

Cetakan : Mei 2009

Tebal : 400 halaman

ISBN : 978-602-95001-0-3

Comments  

 
+1 #7 Nyi Vinon 2010-06-27 01:37
terima kasih ipon dan semuanya...

di palembang buku ini belum ada,
tapi bisa "private order" ke saya di
Quote
 
 
0 #6 Ipon Bae 2010-06-23 17:19
terima kasih teman-teman atas komentarnya
Quote
 
 
+1 #5 sirin wa sofwan 2010-06-23 11:00
S U K A !
Quote
 
 
+1 #4 sirin wa sofwan 2010-06-23 11:00
SUKA !
Quote
 
 
+1 #3 sirin 2010-06-23 10:58
Suka !
Quote
 
 
+2 #2 Hanna Indika 2010-06-23 05:29
pengen cari bukunya..d Palembang dah ada belom......?
Quote
 
 
+2 #1 Nana Zain 2010-06-22 04:42
sebuah ulasan buku yang dalam dan sarat makna, jadi penasaran ingin mencari bukunya
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

  •    Latest News   

  •    Most Read   

  •    Hot News   

Twitter Updates