
IndonesiaSeni.com, Yogyakarta - Sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, kita mempunyai instrumen musik khas Indonesia yang mengandung nilai filosofis tinggi, salah satunya adalah gamelan. Berangkat dari kepedulian Komunitas GAYAM16 untuk menjadikan instrumen gamelan menjadi musik yang familiar di telinga masyarakat seluruh dunia, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-15 kembali digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada 16 - 18 Juli ini.
Event yang digagas oleh Alm. Sapto Raharjo ini sejak awal telah berhasil menjadi ajang eksibisi gamelan dari berbagai belahan dunia. Tercatat, sampai saat ini tak kurang dari 34 negara telah terlibat dalam event Yogyakarta Gamelan Festival. Oleh karena itu, event ini juga menjadi ajang budaya tahunan yang sangat ditunggu masyarakat Jogja.
Semasa hidupnya, Alm. Sapto Raharjo memaknai gamelan bukanlah benda mati yang berharga sehingga harus disimpan di sebuah museum yang megah yang kemudian menjadi barang usang yang hanya bisa dipandang. Baginya, gamelan adalah sebuah kehidupan yang bisa “tumbuh dan berkembang”. Meski diciptakan berabad-abad silam namun gamelan mampu hidup selaras dengan jaman. Prinsip tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan pesan tokoh pendidikan bangsa kita Ki Hadjar Dewantara, “kebudayaan harus dapat menyesuaikan dengan jaman agar tidak terjadi verstarring atau dekadensi yang justru dapat mengakibatkan kematian kebudayaan”. Demikian pula dengan gamelan. Ia bisa saja konvergen dengan kebudayaan dari negara lain ataupun daerah lain di nusantara yang akhirnya terjadi konsentris (bersatu namun tetap memiliki sifat kepribadian). Meski dapat menyesuaikan jaman namun ada pakem atau lajer dari gamelan yang tidak bisa ditinggalkan yang kemudian disebut dengan ciri kepribadian/identitas gamelan. Apa yang disampaikan kedua tokoh tersebut menjadi inspirasi bagi Komunitas Gayam16 untuk tidak sekedar melestarikan gamelan sebagai budaya Indonesia. Namun lebih dari itu, gamelan dapat dikembangkan menyesuaikan kondisi yang ada agar lebih dapat diterima pada banyak segmen.
Menyentuh kalangan yang lebih agresif, gamelan harus dapat beradaptasi. Apapun pijakan mereka, tradisi ataupun kontemporer, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi agar dapat bertahan dari alam dan jaman. Keduanya dibutuhkan sebagai identitas bangsa. Perkembangan gamelan terhadap jaman direspon baik oleh para peserta Yogyakarta Gamelan Festival. Salah satu peserta yang beradaptasi dengan gamelan adalah Rene Lysloff dari California, USA. Gamelan yang dimainkannya dipadukan dengan musik elektronik yang dia tekuni. Lain halnya kolaborasi Kyai Fatahilah dari Bandung dengan Ensemble Gendhing dari Netherland. Mereka mengadaptasi musik gamelan pada sisi aransemennya. Ketukan-ketukan yang tidak lazim digunakan dalam sebuah gendhing, tempo yang dimainkan dengan begitu dinamis. Sementara itu performance Sumunar Gamelan cenderung berpijak pada musik tradisi. Negara lain yang tampil dalam event ini adalah Perancis, Singapore, USA (Minnesota & California). Selain pementasan panggung, Yogya Gamelan Festival juga dilengkapi dengan workshop dan diskusi seputar gamelan di Amphi Theater Taman Budaya Yogyakarta.
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Gamelan Menantang Jaman 










