
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Selain diketahui sebagai alat musik paling tua yang pernah dikenal manusia, Orgel terkenal memiliki struktur alat musik yang paling rumit di dunia. Disebut paling tua karena orgel atau disebut juga organ pipa –peralatannya terbuat dari pipa berbagai ukuran – diketahui sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Untuk menggambarkan kerumitannya, satu unit orgel bisa terdiri dari 10 ribu bagian.
Karena itu proses pembuatan orgel tidak bisa sembarangan. Para perajin orgel (organbuilder) harus memperhatikan beberapa hal penting, seperti ukuran dan lubang pipa agar dapat menghasilkan nada yang tepat. Jika sang organbuilder mampu merakit dengan sempurna, maka nada suara yang dihasilkan akan sangat memuaskan. Orgel memang berbeda dengan alat musik lainnya. Orgel yang dijuluki raja alat musik itu mampu menghasilkan berbagai macam bunyi dan kombinasi suara yang hampir tak terbatas jumlahnya. Orgel bisa menghasilkan bunyi terompet, bas, keyboard, suling, klarinet hingga bunyi menyerupai suara burung, bahkan mampu menghasilkan bunyi yang sangat panjang yang tidak bisa dihasilkan alat musik lain. Itu sebabnya banyak orang lantas menganggap bunyi orgel yang asli seolah semerdu suara malaikat. Karena keindahan melodinya pula, maka sejak awal abad ke-10 kalangan gereja di Eropa mengadopsi orgel sebagai alat musik peribadatan mereka. Beberapa gereja di dunia masih menyimpan orgel asli yang ukurannya bisa mencapai 10 meter. Di Indonesia, orgel tua yang usianya lebih dari seratus tahun masih terdapat di beberapa gereja seperti Gereja Katolik St Yusuf di daerah Gedangan, Semarang, bahkan GPIB Immanuel hingga kini bahkan masih menyimpan sebuah orgel tua yang dibuat oleh P Farwangler dan Hummer di abad ke-18. Orgel itu merupakan warisan Belanda sebagai hadiah kepada rakyat pribumi pada masa itu.
Dewan Kesenian Jakarta akan menghadirkan kelangkaan itu. Membagi pengalaman kepada khalayak untuk menikmati kesyahduan suara malaikat itu melalui serangkaian acara yang akan digelar selama beberapa hari pada pekan terakhir Juni ini. DKJ akan mengundang Benedictus Martono Hidajat, seorang organbuilder asal Semarang yang telah malang-melintang di dalam dan mancanegara dalam bidang reparasi dan pembuatan orgel. Selain akan memamerkan beberapa orgel hasil ciptannya, ia juga akan berbagi pengalamannya dalam hal pemeliharaan, pembuatan, atau cara memperbaikinya. Disamping itu DKJ juga akan mendatangkan seorang ahli reparasi alat musik gesek (Luthier) dari Singapura, Tong Ming Xi yang juga akan berbagi informasi seputar pembuatan, perbaikan, serta pemeliharaan alat musik gesek. Ini merupakan kali kedua bagi Ming Xi hadir memenuhi undangan DKJ. Kehadirannya diharapkan dapat lebih memuaskan para pecinta alat musik gesek di Jakarta. Sebuah resital orgel akan digelar pada hari Minggu (27/6) malam bersama sejumlah pemusik klasik kenamaan seperti Eric Awuy, Tommy Prabowo dan sebagainya. Seluruh rangkaian program ini bisa diikuti oleh siapapun secara gratis. Informasi lebih lanjut mengenai acara ini dapat menghubungi Kantor Dewan Kesenian Jakarta 021-3162780 atau 021-31937639.
Dimas Fuady
Humas Dewan Kesenian Jakarta
www.dkj.or.id
Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Menikmati Kesyahduan Suara Malaikat di Taman Ismail Marzuki











Comments
www.youtube.com/.../
RSS feed for comments to this post.