- All Sections
- content: Lokus (2)
- content: Rupa (13)
|
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Usia kerap menjadi suatu titik perenungan bagi banyak orang, seperti halnya yang dilakukan oleh perupa Hanafi. Pada usia yang ia sebut sudah mencapai ‘separuh’ ini, ia menyelenggarakan pameran tunggalnya yang bertajuk “Saat Usia Lima Puluh” di Galeri Nasional Jakarta yang berlangsung 6-18 April 2010. Pameran tunggal yang dikuratori oleh Jean Couteau dan Jim Supangkat ini menghadirkan 30 lukisan dan 3 karya instalasi terbaru Hanafi.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - Denyut perkembangan seni kontemporer di Asia yang semakin kencang membuka kesempatan bagi publik pecinta seni di Indonesia untuk mengekplorasi karya seniman-seniman Asia, seperti seniman asal Bangladesh, Firoz Mahmud, yang akan menggelar pameran tunggalnya di Asbestos Art Space Bandung, Mei mendatang.
IndonesiaSeni.com, Jakarta - "I was unable to sense changes in the world at large, but i knew the world around me changed." – Fajar Roma Agung Wibisono. Kalimat itu muncul sebagai pengantar catatan kuratorial Fery Oktanio pada katalog pameran tunggal Fajar R.A Wibisono bertempat di Srisasanti Arthouse, 24 Maret 2010. Seniman muda ini menampilkan lebih dari 20 karya yang semuanya mengambil tema perang, sesuai dengan tajuk pamerannya, “Immortal War”.
Indonesiaseni.com, Yogyakarta - Setelah mengalami masa kejayaan di era 90-an, seni lukis abstrak seperti mati suri. Banyak perupa lukis abstrak yang dulu punya nama, tiba-tiba menghilang. Pasar lukis dikuasai seniman realis dan lukis abstrak terpinggirkan. Dalam upaya membangkitkan kembali gairah seni lukis abstrak, 7 perupa abstrak menggelar pameran “Soulscape” di Taman Budaya Yogyakarta.
Indonesiaseni.com, Yogyakarta - Karya seni rupa selalu menarik untuk diapresiasi. Sebab, memberikan kekebasan imajinasi kepada siapapun yang menyaksikannya. Begitu juga dengan pameran karya perupa Treeda Mayrayanti yang digelar di Sangkring Art Space Yogyakarta pada 10-22 Februari ini. Mengusung tema “Strangers My Pillow”, Treeda mencoba memberikan pemaknaan yang baru terhadap arti hidup hingga akhirnya ada dua pilihan yang ditemuinya: dihadapi atau lari.
Indonesiaseni.com, Bandung - Kepekaan pada hal-hal kecil dan sederhana yang lekat dalam keseharian kadang bisa hilang, ketika hal itu sudah menjadi sesuatu yang begitu biasa ada dalam kehidupan kita. Namun demikian, seringkali kita tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil dan sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari itu justru dapat mempengaruhi, dan bahkan memberikan perubahan dalam kehidupan. Disadari atau tidak.
Indonesiaseni.com, Bali - Menikmati lukisan Jeihan, kita seolah-olah tertarik masuk dalam sebuah ruang dimana manusia menjadi sebuah unsur dengan kedalaman jiwa dan pengalaman batin dari setiap individu. Kemampuan sang maestro perupa Indonesia dapat kembali dinikmati di pameran yang diberi judul “Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan”, 27 Desember 2009-17 Januari 2010 di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Bali. Sekilas Biennale Jogja X - 2009 JOGJA JAMMING: Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja
Perempatan lampu merah Gondomanan. Sebuah kotak minuman raksasa berwarna merah bergaris putih ala Coca-Cola terpampang di salah satu tiang pojok lampu merah. Isinya ternyata bukan Coca-Cola minuman bergas itu, melainkan es cendol. Tulisan “es cendol” dengan lekuk-lekuk yang menyerupai bentuk cendol itu terpampang di salah satu sisi kotak tersebut, sedang sisi lainnya bertuliskan “es dawet.” Kotak yang melekat dan membungkus tiang lampu merah itu membuat orang yang melintas di jalan tersebut membaca, dan mungkin mengamatinya. Kotak minuman itu adalah karya dari komunitas RSJ (Rumah Seni Jogja).
Indonesiaseni.com, Bandung - Corni adalah panggilan akrab pengajar filsafat dan seni lukis di Southern Cross University di Lishmore, New South Wales-Australia. Cornelius Delenay nama lengkapnya. Ia salah satu seniman yang melaksanakan program Artist in Resident selama dua bulan di Jatiwangi Art Factory (JaF). Tepatnya di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Indonesiaseni.com, Jakarta - Apa yang ada di balik lukisan Made Wianta? Dalam gemerlap warna atau garis lurus, menikung, dan berkelindan. Mewujud bentuk yang mengurai realitas atau jauh bersembunyi di dalam ruang-ruang imaji. Bagaimanakah ruh sebuah karya saat jejak-jejaknya dibaca dan ditafsir ulang? Akankah bereinkarnasi menuju kesempurnaan yang lebih tinggi? Indonesiaseni.com, Jakarta - “Aksi diam melawan impunitas.” Demikian kata-kata yang tertera di atas selembar kain hitam. Spanduk hitam itu dikelilingi delapan payung hitam terbuka bertuliskan huruf putih, yang hampir semuanya diawali dengan kata “Tuntaskan.” “Tuntaskan kasus tragedi Mei 98,” “Tuntaskan kasus Talangsari 89,” “Tuntaskan kasus 65/66,” dan sebagainya. Di pojok kanan berhadapan dengan payung-payung hitam itu, ada beberapa poster Munir dan poster bergambar orang-orang hilang. Demikian Kontras, salah satu komisi yang menangani kasus orang hilang dan korban tindak kekerasan, melakukan aksinya.
|

