|
TARDJI DAN TATONYA
Ada cerita menarik tentang Sutardji Calzoum Bachri. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan pemahaman sufisme atau tidak, meski, jika merujuk kepada sajak-sajaknya, kecenderungan ke arah itu memang banyak ditemukan. Cerita yang cukup masyhur di kalangan seniman tua di Surabaya ini, kurang lebih demikian.
Tradisi pemilihan cerpen terbaik Kompas yang sudah berlangsung sejak 1992 telah menghasilkan 16 cerpen terbaik, mulai dari “Kado Istimewa” (Jujur Prananto) hingga “Cinta di Atas Perahu Cadik” (Seno Gumira Ajidarma). Dan paling mutakhir, di tahun 2009 ini, terpilih cerpen Nukila Amal, “Smokol”. Hingga tahun 2004, pemilihan cerpen terbaik itu dilakukan oleh ”orang dalam Kompas”, yakni para redaktur yang dianggap punya kompetensi dengan dunia sastra. Mulai 2005, Kompas mencoba mengubah dengan memberikan otoritas pemilihan itu kepada ”orang luar”, yakni mereka yang dianggap memiliki kredibilitas dalam sastra sebagai juri untuk melakukan pemilihan cerpen terbaik. Novel tidak memiliki aturan baku agar ditulis dalam cara tertentu agar pembaca mengikuti jalannya cerita dari awal hingga akhir. Aturan baku tersebut antara lain terlihat pada semua novel yang beredar di masyarakat pembaca, yakni dengan alur pembuka-konflik-penyelesaian. Juga, alur tersebut tidak saja acuan utama dalam novel tetapi juga di dalam film. Terutama dalam film produksi Holywood, alur ini mendapat kedudukan penting bagaimana sebuah materi cerita disusun menurut alur tersebut seolah-olah alur itu satu-satunya strategi agar sebuah film bisa dibuat dan dinikmati. Dalam novel, alur semacam ini nyaris tidak dipertanyakan lagi baik di kalangan penulis sastra maupun dari pihak pembaca. Sejauh sebuah novel dapat mengetengahkan konflik secara menarik kemudian pembaca dapat mengapresiasinya, novel dipandang selesai menjalankan tugasnya. Bukanlah misteri kenapa karya kesusastraan terus ditulis, dan tak sedikit alasan dan “fungsi” yang bisa dikemukakan mengenai keberadaannya. Karya kesusastraan hadir seiring gerak manusia dan kenyataan hidupnya yang tak padam menjadi sumber utama penciptaan karya kesusastraan. Karya kesusastraan telah turut merawat dan menyimpan ruahan impian dan frustrasi manusia di suatu masa.
|






